31.7 C
Jakarta

Lone Wolf Terrorism: Mungkinkah Teroris di Luar JAD dan JI?

Artikel Trending

Milenial IslamLone Wolf Terrorism: Mungkinkah Teroris di Luar JAD dan JI?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Masih menjadi teka-teki, apakah Zakiah Aini (ZA), yang melakukan teror di Mabes Polri seorang diri, Rabu (31/3) kemarin, benar-benar tidak terafiliasi dengan aktor terorisme lokal manapun alias lone wolf. Seperti kita ketahui, di Indonesia, JAD dan JI merupakan organisasi teroris paling aktif. Per 2021 saja, 70-an teroris berhasil tertangkap. Ketika kita tahu bahwa JAD adalah cabang ISIS, lalu ZA terjangkit virus ISIS tapi bukan anggota JAD, kita patut skeptis: benarkah dia lone wolf? Mengapa kita percaya?

Boleh jadi Anda akan berhujah, bahwa ZA terjangkit ideologi radikal-teror melalui indoktrinasi online. Mengaji pada ekstremis di YouTube, misalnya. Apakah segampang itu? Setelah kita tidak menemukan jalan bahwa lone wolf laik disematkan ke ZA, kita harus tanggap bahwa jangan-jangan, ada faktor lain yang ia alami tapi kita semua tidak menduga. Saya mengajukan satu kemungkinan. Misalnya, kekecewaan terhadap sesuatu.

Apa indikasinya? Kita bisa menganalisis sejumlah fenomena. Pertama, menguatnya kontra-islamisme yang disalahpahami sebagai kontra-Islam. Ini misalnya terlihat dari anggapan sementara kalangan bahwa pemerintah bertindak represif ketika menyelisik keterlibatan FPI dengan ISIS dan terorisme. Kedua, sulitnya menjadi afiliasi teroris. JAD memiliki kriteria tertentu dalam rekrutmen anggota, dan JI justru lebih ketat daripada JAD. Ketiga, milenial yang tak punya kepentingan politis.

Lone wolf terrorism itu mungkin, tetapi persentasenya kecil sekali. Dalam surat wasiat Zakiah Aini, satu nama tokoh yang ia sebut musuh yaitu Ahok. “Tonton kajian dakwah, tidak membanggakan kafir Ahok,” tandasnya. Siapa yang paling getol  menstigmatisasi Ahok selama ini? Jawabannya adalah: FPI cs. Karenanya, kecil kemungkinan ZA berasal dari motif JAD maupun JI. Saya tidak dalam rangka menuduh FPI sebagai penyebab. Yang jelas, kekecewaan bisa mendorong orang bertindak senaif apa pun.

Lone Wolf Lebih Berbahaya

Sebelum Zakiah Aini datang ke Mabes Polri, ia sudah tahu, bahwa di hari itu ia akan mati. Tetapi kita harus peka, bahwa mati di tangan aparat pemerintah, dalam doktrin teroris, adalah syahid karena berperang dengan orang yang ia anggap anak buah thaghut. ZA ingin keluar dari zona kafir, yaitu ketika negara ini memakai sistem demokrasi. Kematian, bagi ZA, adalah kehidupan sejati sebagai pejuang di jalan Allah. Keyakinan itu kuat sekali—pemerintah harus ia perangi.

Lone wolf itu lebih berbahaya daripada teroris yang terafiliasi dengan JAD maupun JI. Jaringannya sulit dilacak, motifnya juga tidak jelas. Sekalipun ZA meninggalkan surat wasiat bahwa ia melakukan semua itu demi jihad, jihad dimaksud pasti dalam bingkai bahwa ‘pemerintah adalah musuh’. Narasi-narasi tentang kezaliman rezim, represi rezim, kekafiran rezim menjadi penguat, tetapi yang paling ampuh sebagai pendorong adalah ketika ia kecewa.

Kecewa karena pemerintah menerapkan demokrasi atau justru kecewa karena Habib Rizieq seolah didiskriminasi? Kalau yang terakhir menjadi penyebabnya, jelas penanggulangannya akan lebih sulit. Sebab, selama ini, pengagum Habib Rizieq—baik yang tergabung dalam FPI maupun tidak—tidak termonitor sebagai teroris. Penggerebekan teroris di Condet yang memiliki sejumlah atribut FPI tidak terdeteksi sebelumnya. Tidak seperti MIT, JI atau JAD yang jaringannya jelas.

BACA JUGA  Bjorka: Antara Jihad Digital dan Jihad Terorisme

Lone wolf seperti yang Zakiah Aini lakukan jauh lebih berhaya juga karena dapat memotivasi orang lain, terutama perempuan yang kini tengah jadi tren teroris, untuk melakukan hal serupa. The party’s not over yet, it is the beginning. Semua itu bukanlah akhir pesta, melainkan permulaannya. Persoalan pribadi menjadi penyulut yang harus kita sadari, selain ideologi. Ideologi ISIS bisa jadi hanya jadi pinjaman belaka untuk melampiaskan kekecewaan.

Ideologi Bukan Pemicu Tunggal

Saya kurang setuju ketika ada yang menyangka bahwa pemerintah hari-hari ini seolah ingin meneroriskan FPI. Kita harus berpaku pada fakta bahwa dalam pasal 6 AD FPI, “Visi dan Misi FPI adalah penerapan Syariat Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah Islamiyyah menurut Manhaj Nubuwwah, melalui pelaksanaan dakwah, hisbah, dan pengamalan jihad.”

Bahkan, Pasal 6 ART FPI juga menjelaskan bahwa, “FPI harus berperan aktif dalam upaya menegakkan Khilafah Islamiyyah ‘Alamiyah sesuai Syariat Islam…” Istilah Khilafah Islamiyyah ‘Alamiyah dimaksud yaitu Khilafah Islam Global. Apakah FPI sama dengan HTI? Secara AD/ART iya, antara keduanya memiliki kesamaan esensial. FPI dan FPI yang selama ini jadi bulan-bulanan pemerintah pasti kecewa dan ingin balas dendam. Itu akan mendorong lone wolf, bukan?

Kita diajak bijaksana memandang persoalan. Kita tahu, FPI dan HTI hanya menarasikan saja. Berbeda dengan JAD-ISIS atau JI-Al-Qaeda yang doktrin takfirinya mendorong aksi teror. Bagaimana sesuatu yang tidak berideologi takfiri bisa melakukan teror? Di sinilah lone wolf itu menyeruak ke permukaan. Meski bukan takfiri, tetapi di awal mereka telah punya landasan pemikiran yang memosisikan pemerintah dan aparat sebagai musuh. Aksi mereka, dengan demikian, adalah akibat belaka.

Akibat dari sesuatu yang bukan doktrin ideologis, melainkan kekecewaan terhadap suatu fenomena: represi pemerintah kepada umat Islam seperti yang menimpa Habib Rizieq. Melalui lone wolf, kita bisa menyimpulkan ideologi bukan pemicu tunggal aki teror. Ada latar belakang lain yang membutuhkan kepekaan kita. Selain faktor ekonomi, politik dan ideologi, kekecewaan terhadap pemerintah sangat cukup untuk mendorong seseorang menjadi teroris. Aksinya kita kenal sebagai lone wolf terrorism.

Apakah artinya pelaku bisa saja berafiliasi dengan FPI, HTI, maupun simpatisan Habib Rizieq atau siapa pun yang menganggap aparat kepolisian dan pemerintah sebagai musuh sekalipun mereka tidak memiliki pembenaran ideologis sebagai JAD, ISIS, JI dan Al-Qaeda? Jawabannya: jelas.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru