LIPI: Daerah Yang Kental Nuansa Agamanya Paling Tinggi Termakan Isu Hoaks


Bina Karos dari Google News Initiative Training Network menyampaikan materinya pada workshop Hoax Busting and Digital Hygiene di Mataram, NTB, Jumat (30/11/2018). Workshop yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan Internews dan Google News Initiative tersebut diikuti oleh masyarakat umum, pegiat NGO, mahasiswa, akademisi dan jurnalis yang bertujuan berbagi pengetahuan mengenai bagaimana mendeteksi berita palsu (hoax) atau misinformasi, serta bagaimana pengamanan diri di dunia digital yang sehat dan aman. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/wsj.

Harakatuna.com. Jakarta-Hasil penelitian yang dilakukan peneliti sosial dari Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan fakta baru penyebaran hoak alias berita bohong. Penelitian tersebut menemukan kalau di wilayah yang kental nilai agamanya, kerap mudah termakan isu hoaks.

Hal itu diungkap oleh Peneliti Sosial dan Politik LIPI Amin Mudzakir dalam diskusi ‘Hoaks, Integritas KPU dan Ancaman Legitimasi Pemilu’ yang digelar Institut Demokrasi Republikan (ID-Republikan). Amin menuturkan, dari hasil penelitian terhadap 2000 responden yang tersebar di seluruh Indonesia, didapati tiga provinsi di Indonesia rawan termakan isu hoaks.

“Di daerah-daerah yang punya afiliasi dengan Islam politik, sangat tinggi tingkat keterimaan berita yang telah kita konfirmasi adalah hoaks,” ujar Amin di kawasan Cikini, Jumat (18/1).

Amin melanjutkan di daerah provinsi Aceh, Jabar dan Banten tingkat penerimaan terhadap berita PKI, kriminalisasi ulama, invasi tenaga asing sangat tinggi. Hal itu berdasarkan penelitian yang dirilis tahun 2018 terhadap 1.800 responden yang tersebar di sembilan provinsi terdiri dari 200 orang.

Ia menyebut total ada sembilan provinsi yang diteliti dan turut diukur tingkat toleransi di daerah-daerah tersebut. Antara lain Sumatra Utara, Aceh, seluruh Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, DKI Jakarta, DIY Yogyakarta, dan Sumatra Selatan.

Menurutnya, data ini dianggap bukan istimewa, mengingat adanya tafsir ajaran Islam yang dinilai bertentangan dengan paham komunisme yang dianut PKI. Walau demikian, kawasan yang menjadi basis penganut Nahdlatul Ulama (NU) tak mudah terpengaruh hoaks jenis itu.

Di samping itu, kata dia, hasil penelitian juga menyebut bahwa penyebar hoaks merupakan orang yang mengerti sejarah dan berpengetahuan luas. “Mereka yang memproduksi tahu persis isu mengenai komunisme, isu anti China, Jokowi itu China akan laku. Daerah di luar itu, Bali misalkan atau Papua, tidak akan laku karena tidak ada memori kolektif yang membuat orang tergiring untuk menerima info hoaks tersebut,” kata Amin.

Baca Juga:  Riset: 44 Persen Masyarakat Indonesia Masih Ditipu Hoax

 


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.