29.3 C
Jakarta

Liciknya Buzzer: Berlindung Di Bawah Demokrasi, Menyebarkan Ujaran Kebencian

Artikel Trending

KhazanahTelaahLiciknya Buzzer: Berlindung Di Bawah Demokrasi, Menyebarkan Ujaran Kebencian
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com– Siapa yang tidak kenal dengan Deny Siregar? Pegiat media sosial yang satu ini memang tidak pernah hengkang dari kontroversi. Tulisan di media sosialnya selalu memuat unsur kebencian, perpecahan antar kelompok hingga menyebabkan masalah-masalah sosial yang meresahkan masyarakat banyak.

Terbaru, Denny dilaporkan atas postingan di akun Facebooknya pada 27 Juni 2020 berupa tulisan panjang berjudul ‘Adek2ku Calon Teroris yg Abang Sayang’ dengan foto para santri. Laporan tersebut dilimpahkan kepada Polda Metrojaya yang dikonfirmasi langsung oleh Kabid Humasnya yakni Endra Zulpan.

“Kasus Denny Siregar benar telah dilimpahkan dari Polda Jawa Barat ke Polda Metro Jaya, kemudian saat ini masih dilakukan pendalaman oleh Polda Metro Jaya terkait dengan kasus ini,” kata Zulpan di Jakarta, Kamis (13/1/2022), dilansir melalui detiknews.com.

Apa yang disampaikan Deny sangatlah kontroversial. Sebab dalam kondisi demikian, narasi singkat semacam itu menimbulkan interpretasi liar. Menyakiti kelompok tertentu, khususnya kaum santri. Kalimat singkat itu justru memperoleh kesimpulan prematur  bahwa teroris berasal dari kalangan santri. Meskipun mungkin kesimpulan semacam itu tidak sama dengan apa yang ingin disampaikan Deny, kalimat singkat di atas dikategorikan sebagai ujaran kebencian.

Demokrasi dijadikan alibi

Deny Siregar disebut-sebut sebagai buzzer. Selayaknya seorang buzzer, ia memiliki pengaruh tertentu untuk menyatakan suatu kepentingan. Buzzer dapat bergerak dengan sendirinya untuk menyuarakan sesuatu, atau bisa jadi ada sebuah agenda yang disetting. Dalam menyuarakan suatu kepentingan ini dapat dilakukan secara langsung dengan identitas pribadi atau secara anonim.

Dengan pengertian di atas, Deny Siregar dalam setiap cuitannya di media sosial, kita bisa mengkategorikan sebagai seorang buzzer. Liciknya dia, tak segan-segan menggirng opini sesuai dengan kepentingan yang ada pada dirinya. Berpihak kepada siapakah dia, maka opini akan digiring untuk pro atau kontra.

Keberadaan buzzer tidak terlihat dengan secara mata objektif, sebab akan berlindung di bawah naungan demokrasi. Kebebasan berpendapat serta menyuarakan hal-hal yang menjadi fokusnya. Alasan itu juga sering dikemukakan oleh Habib Bahar dan Habib Riziq, dkk.

Jika Deny tidak berangkat dengan jubah agama, beda halnya dengan Habib Bahar CS. Persamannya keduanya adalah sama-sama menyuarakan kebebasan berpendapat atas nama demokrasi, serta menimbulkan perpecahan antar kelompok. Keduanya, menggiring makna demokrasi untuk dijual dan menjadi kambing hitam atas kepentingan yang dimiliki.

BACA JUGA  “Isu Perempuan Bagian dari Kemanusiaan”: Membaca Gus Dur dalam Perjuangan Perempuan

Apakah berpotensi menciptakan perpecahan? Tentu. Narasi yang disampaikan oleh Deny termasuk narasi kebencian. Kaum santri khususnya, wajar jika merasa tersinggung atas kalimat yang disampaikan oleh Deny Siregar. Niat atau tidaknya untuk menyinggung, narasi yang berbau sara, apalagi bermakna ujaran kebencian harusnya sangat dihindari untuk dilakukan. Tapi, bukan buzzer namanya jika tidak licik serta tidak menimbulkan keresahan sosial.

Perang melawan narasi melalui ruang digital

Menciptakan sebuah hubungan antar agama yang sehat dan penuh kedamaian di Indonesia akan sangat  bergantung pada kemampuan tiap kelompok keagamaan yang mendalami pemahaman mutual atas doktrin-doktrin dan praktek kelompok keagamaan lain sebagai prioritas pertama. (Franz Magnis Suseno, dkk: 2017).

Meskipun demikian, hubungan ideal itu semacam itu tidaklah terlaksana dengan sangat rapi tanpa celah dalam dunia nyata. Hal itu karena setiap manusia, kelompok memiliki kepentingan yang berbeda dan menyebabkan melemparkan narasi sesuai kepentingan yang ada.

Ruang bebas beropini, memberikan komentar, dan melemparkan pendapat  hari ini sudah beralih ke ruang digital. Dunia digital sangat tidak terbatas dan menyebabkan orang-orang tidak memikirkan bagaimana konsekuensi atas narasi yang disampaikan dalam ruang digital. Munculnya pelbagai interpretasi liar yang menyebabkan antar kelompok serta memicu runtuhnya kesatuan dan persatuan, salah satunya disebabkan oleh narasi yang disampaikan melalui ruang digital.

Dengan kondisi demikian, sangat penting bagi kita untuk menelaah pelbagai narasi negatif, serta membaca narasi-narasi di sampaikan oleh para buzzer, para pemuka agama yang menjual narasi agama, dan sejenisnya. Dengan demkian, orang-orang seperti Deny, tidak memiliki pengikut yang membuat dirinya merasa eksistensinya laku di masyarakat, sehingga narasi yang disampaikan memicu konflik dan perpecahan antar bangsa. Sepintas, foto santri yang diunggah Denny mirip dengan pakaian para ormas-ormas radikal yang biasa kita lihat. Namun, pantaskah narasi tuduhan semacam itu dilontarkan? Wallahu a’lam

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru