Kursi Prioritas dan Moralitas Bangsa Kita


0
2 shares

Ketika membaca sepenggal kisah perjalanan sang reformis Islam asal Mesir, Abduh ketika sedang studi di Prancis. Setelah mengamati perilaku dan kebudayaan Perancis ia berguman “saya berjalan di negeri barat dan saya menemukan Islam tetapi tidak menemukan muslim, sedangkan saya ketika berjalan di negeri timur tengah, saya menemukan muslim tapi tidak menemukan islam.

Abduh menyadari bahwa muslim sekarang mulai meninggalkan nilai keislaman, Islam mereka hanya sebatas lahiriyah saja, ruh keislaman tidak pernah sampai kerelung hati dibandingkan mereka orang barat, yang ruh islam telah menjadi bagian dari hidup dan kebudayaan mereka, walaupun mereka tidak pernah menyadari bahwa bahwa kebudayaan yang mereka jalankan adalah kebudayaan Islam. Nilai kejujuran, nilai tanggung jawab, nilai menghargai waktu sangat mereka perhatikan sehingga kebudayaan mereka memiliki etos yang tinggi. 

Mereka menganggap bahwa waktu adalah uang, sehingga mereka menggunakan waktu dengan baik dan produktif, hal ini sedikit berbeda dengan peradaban timur yang cenderung melalaikan waktu, Syekh Romadhon Al-Buti mengatakan bahwa salah satu kenapa peradaban Islam cenderung stagnan dan sulit mengikuti perkembangan jaman karena para pemuda kita banyak menyia-nyiakan waktu dengan ngobrol yang melampaui batas.

Bukan maksud penulis untuk membandingkan kebudayaan barat dan timur, karena pada hakekatnya setiap peradaban memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, apalagi di zaman post modern, kebenaran mutlak sudah tidak diakui lagi, karena masyarakat sekarang telah menyadari bahwa kebenaran itu relatif karena sangat dipengaruhi berbagai perspektif.

Apa yang dikatakan Abduh mengenai peradaban barat yang islami itu sebenarnya merupakan kritik keras terhadap peradaban kita yang mulai melalaikan akan nilai-nilai Islam, yang sudah mulai melupakan subtansi ajaran Islam. Kecenderungan umat Islam zaman sekarang lebih mengutamakan Islam tektualis dari pada Islam esensi, padahal sejak dahulu para pendahulu telah mengajarkan kepada kita untuk menerapkan nilai-nilai keislaman menjadi laku di kehidupan sehari-hari, sehingga nilai Islam itu menjadi norma dan budaya masyarakat tanpa mereka sadari. Banyak sekali norma-norma didalam kehidupan kita yang merupakan cerminan dari nilai islami seperti mendahulukan orang lain dari pada diri kita, mengahormati orang tua.

Tantangan dan kemajuan zaman membuat nilai-nilai islami yang telah menjadi norma di masyarakat perlahan mulai luntur, norma yang sudah berlaku sejak lama akhirnya harus diperkuat dengan aturan tertulis, hal yang tabu untuk diungkap didepan umum sudah menjadi hal yang amat biasa dibicarakan di hari ini, bukankah ini menunjukan suatu kemunduran…?

Akan tetapi penulis masih merasa bangga ketika mengetahui bahwa norma-norma yang telah menjadi budaya kita masih terasa lestari di kota metropolitan seperti Jakarta, hal ini dijumpai penulis ketika penulis menggunakan sarana transportasi masal seperti busway dan KRL di Jakarta, penulis melihat bahwa dengan kesadaran penuh para penumpang mempersilahkan kursi yang telah diduduki untuk diduduki orang lain yang lebih tua, atau para kaum ibu yang sedang mengandung, mereka para penumpang yang telah duduk terlebih dahulu dengan sukahati dan kesadaran mensilahkan orang yang lebih berhak untuk duduk, seraya mengatakan silahakan duduk..! ini merupakan kursi prioritas untuk anda.

Seperti kita ketahui bahwa perilaku semacam ini sudah diajarkan oleh para pendahulu kita dan telah menjadi norma yang berlaku di negeri kita, perilaku yang sangat islami yang tidak banyak diketahui kebanyakan orang bahwa perilaku tersebut adalah perilaku islami, karena perilaku tersebut dan budaya masyarakat telah menyatu dan melebur menjadi sebuah norma. 

Hal seperti inilah yang diharapkan untuk bisa dipertahankan oleh orang di negeri kita, mengutamakan kursi prioritas untuk orang-orang yang benar pantas duduk di kursi tersebut, jangan malah merebutkan kursi yang sebenarnya bukan menjadi hak untuk diperebutkan.

Terlebih era sekarang, era dimana merebutkan kursi itu membutuhkan dana yang tidak sedikit, terkadang mereka menghalalkan segala cara untuk memperoleh kursi tersebut, memang kursi prioritas sangatlah mahal dan menjanjikan sebagaimana contoh untuk memperoleh satu kursi di sekolah-sekolah negeri dibutuhkan dana yang tidak sedikit, berebutnya orang-orang untuk memperoleh satu kursi di senayan dengan berbagai cara. Oleh karenya penulis teringat dengan kata bijak dari jawa, biso’o ngrumongso, tapi ojo rumongso biso, apabila kita pantas maka sadarilah kalau kita memang pantas, tapi jangan mengaku-ngaku pantas kalo sebenarnya memang tidak pantas.

Baca Juga:  Mewaspadai Munculnya Ibnu Muljam Modern

Like it? Share with your friends!

0
2 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka