34 C
Jakarta

Kurang Rasa Percaya Diri dalam Menulis? Cara Membangkitkannya

Artikel Trending

KhazanahLiterasiKurang Rasa Percaya Diri dalam Menulis? Cara Membangkitkannya
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Salah satu problem psikis yang terkadang muncul secara dilematis bagi seorang penulis adalah kurangnya rasa percaya diri terhadap karya yang sedang atau telah selesai ditulis. Ini biasanya dialami oleh orang-orang yang baru pertama kali meniti karier di dunia kepenulisan. Mereka yang dilanda perasaan semacam ini biasanya sering kali membanding-bandingkan kemampuan dirinya dengan melihat penulis-penulis produktif yang karyanya telah laris di pasaran, yang menginspirasi banyak orang, bahkan hingga di-film-kan.

Sebagai penulis pemula maklum jika perasaan ragu, minder, dan kurang percaya diri masih bergejolak kuat dalam hati. Tetapi, jika kita benar-benar ingin berkomitmen menjadi seorang penulis, menebar kemanfaatan melalui tulisan, berdakwah untuk keabadian, maka kita harus bisa mengubah sikap pesimis menjadi optimis. Tujuannya agar aksara yang kita tata, kalimat yang kita susun dengan cerman, gagasan yang kita rangkai dengan penuh perasaan, tentunya akan dapat memberikan inspirasi dan pesan edukasi yang sampai ke hati para pembaca yang budiman.

Jika kita sejenak menegok awal-awal karier kepenulisan para penulis best seller, karya yang pertama kali mereka tulis belum tentu sebagus seperti karyanya yang sekarang. Sebut saja Asma Nadia semisal, karya pertamanya yang berjudul Lentera Kehidupan belum seapik dan semenarik Pesantren Impian, dan sederet karya-karyanya yang lain yang telah booming  di industri perbukuan. Untuk mencapai tangga kesuksesan, Asma Nadia selalu mengasah kemampuannya secara berkala. Ia sadar bahwa keberhasilan bisa diraih dengan cara dimulai, mencoba berkali-kali, dan tentu dengan rasa percaya diri.

Nah, dari Asma Nadia kita bisa belajar bahwa tulisan yang menarik dan memikat hati pembaca berawal dari upaya kita mau memulai memunculkan karya. Selama kita enggan memulai, selamanya pula kita tidak akan pernah menikmati dan mensyukuri potensi yang kita miliki. Oleh karena itu, tulislah hal-hal positif yang ada di benak kita! Siapa tahu gagasan yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan bisa menggerakkan hati pembaca untuk berbuat kebaikan. Namun, jika masih tetap saja belum bisa percaya diri dalam menulis, saya memiliki enam cara untuk membangkitkan imun percaya diri secara dinamis. Simak dengan saksama poin-poin di bawah ini:

1. Bersahabatlah dengan orang-orang yang berkarakter positive thinking

Faktor utama yang dapat membentuk dan mempengaruhi karakter seseorang adalah lingkungan dan orang-orang sekitar yang dijadikan sebagai kawan. Dua sektor ini sebetulnya sangat menentukan baik buruknya kepribadian dan mindset berpikir kita. Jika kita ingin mencetak mentalitas percaya diri, maka tidak ada jalan lain kecuali hanya bersahabat dengan orang-orang yang berjiwa optimis, orang-orang yang selalu mengedepankan berpikir positif untuk mencoba hal-hal baru demi meraih prestasi yang bermutu.

Bercita-cita menjadi penulis harus didasari dengan mental percaya diri, agar dalam proses kreatif menulis tidak mudah tumbang dan terhenti di tengah jalan. Oleh karena itu, bersahabatlah dengan orang-orang yang dalam hidupnya selalu berpikir positif, agar cerminan dari sikapnya mampu memberikan sugesti bagi gagasan kita untuk selalu produktif menulis, melahirkan karya-karya tulisan yang inspiratif-humanis.

2. Jangan hiraukan komentar orang!

Dalam berbagai hal, apa yang kita kerjakan di dunia ini tidak terlepas dari sorotan mata dan bibir orang. Ada yang memuji, ada pula yang mencaci. Sebagai penulis pemula, janganlah terbang jika mendapat pujian hingga lengah tak lagi menghasilkan karya tulisan. Sebaliknya, jika sedang menerima cacian janganlah langsung tersungkur hingga gelisah ketakutan niat menulis menjadi lebur.

Bijak bestari pernah mengatakan, jika kita lebih memperhatikan komentar orang dan malah mengkerdilkan eksistensi kita untuk berkontribusi ke arah kebaikan, maka sama halnya kita telah menzalimi diri sendiri. Mari bangkitkan rasa percaya diri, hingga orang berkomentar apapun tak akan menyurutkan nyali kita untuk unjuk gigi di dunia literasi.

Sekadar berbagi pengalaman, jujur, saya pernah terhanyut di dua momentum itu. Momen di mana ketika saya melahirkan buku pertama yang terbit di salah satu penerbit mayor di Jakarta dengan ketebalan hampir 500 halaman, saat itu berbagai pujian serta apresiasi datang dilih berganti. Saya tak bisa mengontrol diri hingga terbawa arus dalam jerat kepuasan diri.

BACA JUGA  Meramal Kepunahan Buku, Bagaimana Masa Depan Dunia Literasi?

Akibatnya, selama satu tahun, saya nihil tak satu pun menghasilkan karya buku. Hanya satu artikel ilmiah yang dimuat di salah satu perguruan tinggi Islam negeri di Kalimantan. Sungguh ini menjadi pelajaran bahwa berlarut-larut dalam kepuasan akan berpotensi pada vakumnya rasa percaya diri dan menurunnya produktivitas dalam menulis.

Momen berikutnya, saya pernah diklaim oleh salah seorang dosen bahwa saya merupakan tipikal orang yang pesimis dalam menulis. Klaim ini didasarkan pada ihwal saya yang kerap kali bolak-balik konsultasi terkait judul skripsi. Mendengar komentar yang menyayat hati itu, sejenak nyali saya untuk menulis menjadi hambar dan semakin mengecil. Namun, saya berusaha bangkit dan membuktikan bahwa saya bisa menulis.

Walhasil, skripsi yang saya tulis masuk dalam deretan skripsi selesai tercepat dan diujikan pertama kali. Oleh karena itu, ucapan apapun yang mengarah kepada kita, jadikan itu semua sebagai kicauan bersimfoni yang mengiringi langkah perjalanan kita menjadi penulis yang berbakat dan bermanfaat.

3. Fokuslah pada keberhasilan!

Fokus pada keberhasilan merupakan cara strategis untuk membangkitkan rasa percaya diri dalam menulis. Lihatlah, penulis yang berhasil dalam kariernya di dunia kepenulisan banyak menikmati ragam fasilitas yang membahagiakan. Mulai dari menginspirasi banyak orang, diundang menjadi narasumber di berbagai event bedah buku, traveling gratis ke luar negeri, hingga saldo rekening mengembung.

Bayangkan penulis yang berhasil itu adalah kita. Sungguh itu merupakan kebahagiaan yang tak terhingga. Jika kita memimpikan popularitas itu, pasti kita akan mengupayakan dengan sekuat tenaga, tentu dengan rasa percaya diri yang tinggi.

4. Perbanyaklah membaca!

Percaya diri dalam menulis bisa dicapai dengan cara memperkaya membaca banyak tulisan. Penulis bisa dikatakan percaya diri di saat dirinya menguasai banyak materi yang hendak dituangkan ke dalam tulisan. Penguasaan materi ini hanya bisa diperoleh dengan cara membaca buku sebanyak-banyaknya. Sebab, membaca adalah jendela untuk membuka cakrawala. Membaca adalah modal utama bagi penulis pemula. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca, agar  mental percaya diri menjadi prima, dan tulisan yang dihasilkan bisa mengena ke hati pembaca.

5. Bangunlah relasi dengan para penulis!

Langkah selanjutnya untuk mengasah mental percaya diri dalam menulis adalah dengan cara membangun relasi secara sinergis dengan para penulis. Di era digital sekarang ini sangat mudah sekali untuk merealisasikannya. Semisal bisa melalui facebook, instagram, twitter, dan jejaring sosial sejenisnya.

Bersahabat dengan penulis menjadikan kita bisa mendapatkan manfaat yang progresif. Mulai dari sharing kepenulisan, wawasan seputar dunia penerbitan, hingga kiat-kiat produktif menulis buku yang laris di pasaran. Ini semua tentu akan dapat memacu mental kita untuk siap menjadi penulis yang tidak minderan.

6. Mulailah menulis!

Tahap terakhir adalah mengeksekusi, yaitu menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Sebagai penulis pemula, jika dirasa berat menulis buku, kita bisa mengekspresikan ide kita dengan cara menulis di media massa, baik cetak maupun elektronik. Di sana terdapat banyak sekali rubrik yang bisa kita pilih untuk menjadi wadah mengekspos tulisan kita. Kita juga bisa menulis di media sosial yang kita punya.

Buku 9 Rahasia Doa Lulus Ujian misalnya, buku ini awalnya ditulis secara berkala oleh Ahmad Rifa’i Rif’an di blog yang ia kelola. Kemudian diterbitkan hingga penjualannya melejit menjadi buku best seller. Bahkan salah satu penerbit di Malaysia juga tertarik untuk menerbitkannya dengan bahasa Melayu.

Contoh berikutnya adalah buku Garis Waktu. Semula buku ini merupakan cuitan Fiersa Besari yang diunggah di akun twitter-nya. Fiersa lalu mengumpulkan cuitan-cuitannya itu sesuai kronologi waktu hingga terkaver menjadi satu naskah buku. Penerbit Mediakita berminat untuk menerbitkannya.

Tak disangka ternyata penjualannya sangat laris di pasaran. Bahkan buku ini dalam jangka waktu dekat akan divisualisasi menjadi sebuah film. Dari sini dapat dipahami bahwa banyak sekali sarana bagi kita untuk mempublikasi tulisan. Dan tidak ada alasan apapun untuk tidak bisa menulis.

Nah, sekarang masih nunggu apa lagi. Setelah rasa percaya diri kita tumbuh secara dinamis, segeralah menulis! Sebab, tak ada yang tahu nasib manis sebagai penulis ternama itu suatu saat akan berpihak pada kita.

Moch Arifin
Moch Arifin
Pegiat literasi mukim di Bojonegoro, Jawa Timur.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru