28.6 C
Jakarta

Kontroversi Hizbut Tahrir sebagai Promotor Konferensi Khilafah 2020

Artikel Trending

Milenial IslamKontroversi Hizbut Tahrir sebagai Promotor Konferensi Khilafah 2020
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Dalam channel Muslimah Media Center kembali menggelorakan khilafah mengutip pendapat Wahyudi al-Maroky Direktur Pamong Institute, ia mengatakan, dunia sedang butuh sosok seperti khalifah Abdul Hamid II yang pernah membuat Prancis dan Inggris gemetar, agar tak sekali pun mereka berani lagi menghina Islam dan Nabi Muhammad Saw (03/11/2020).

Ulasan MMC, mengklaim bahwa banyak netizen Indonesia yang merindukan khilafah. Dan, akun Youtube tersebut ada dalam komando komunitas muslimah Hizbut Tahrir sebagai alat perjuangan bagi mereka untuk menebar propaganda bahwa khilafah tahririyah mampu memutus problematika kehidupan manusia sekaligus dianggap sistem yang paling Islam.

Mereka menyimpulkan sebuah konferensi internasional yang berjudul “Return of The Islamic World Order” atau “Kembalinya Tatanan Dunia Islam”. Di mana Abdul Wahid sebagai moderator, Jalil Abdul Adil pembicara I, Jamal Harwood Ahli Ekonomi UK, dan Sa’ad sebagai pembanding. Bahkan, setiap ulasannya menyamarkan khilafah versi Hizbut Tahrir.

Pun reporter MMC merujuk pendapat Sa’ad, bahwa politik dalam Islam adalah tentang merawat masyarakat umum. Di mana hal ini sangat bertolak belakangan dengan sistem saat ini (demokrasi), politik saat ini justru digunakan untuk merawat, dan menjaga kelompok elit (31/09/2020). Artinya, demokrasi di negeri ini dianggap tidak Islam kecuali menegakkan khilafah.

Di akhir-akhir kesimpulan, mereka mencoba meyakinkan seluruh umat Islam lewat agenda konferensi khilafah semata-mata dengan sistem ini menjaga kepentingan rakyat. Gelombang narasi komunitas muslimah HT mendorong tuntutan dunia untuk menegakkan khilafah tahririyah, walaupun sebagian kecil khilafah sendiri banyak ditolak oleh masyarakat umum.

Tapi, bagi mereka menganggap fajar kebangkitan khilafah memang tak akan pernah bisa ditahan, karena Rasulullah telah mengabarkan sebuah kabar gembira yakni selanjutnya akan ada kembali khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. HR. Ahmad. Sedangkan hadis ini menjadi alat bagi mereka untuk merubah strategi kepada “khilafah ala minhajil mulk”.

Khilafah ala Hizbut Tahrir

Stategi politik Hizbut Tahrir tampak mengalami perubahan baik dari sisi gerakan tarbiyah maupun pemikiran, ada pun siasatnya: Pertama, motif penggunaan dalil “khilafah ala minhajin nubuwah” untuk menarik empati umat Islam di berbagai negara. Kedua, “khilafah ala minhaj al-mulk” dalil ini menjadi strategi mereka memakai Islam dalam merebut kekuasaan.

Keberuntungan Hizbut Tahrir adalah ketika masifnya ideologi mereka dalam konferensi 2020, terlepas mereka lagi-lagi memakai simbol-simbol agama dalam merebut kekuasaan atau pun menyamarkan paham-paham mereka dalam bentuk ekspresi menjelek-jelekkan pemerintahan lewat ragam isu demi meruntuhkkan kepercayaan masyarakat (political trust).

Gelar konferensi khilafah yang disiarkan langsung oleh channel Youtube MMC sesungguhnya memulai menebar pentingnya seluruh elemen menghendaki perubahan secara total baik sistem maupun ideologi. Karena pada dasarnya, khilafah bukan hanya sistem, melainkan itu sebuah ideologi yang bersejarah yang disalahgunakan oleh mereka (HT) yang berkepentingan.

Mereka pun selalu menekan adanya gerakan perubahan untuk kembalinya khilafah mengikuti manhaj kenabian. Lantas, apakah mereka betul-betul memperjuangkan manhaj kenabian (minhajin nubuwah) atau hanya sekedar motif politis yang berlindung di balik manhaj kekuasaan (minhaj al-mulk)? Pertanyaan demikian memperjelas arah gerakan mereka sekarang.

Pada hemat saya, arah gerakan dan pemikiran Hizbut Tahrir keluar dari garis besar “khilafah ala minhajin nubuwah”. Kini mereka cenderung mengunggulkan “khilafah ala minhaj al-mulk” melalui perebutan kekuasaan dengan memporak-porandakan ideologi Pancasila lewat simbol Islam. Misalnya, mereka membenturkan hubungan Islam dengan Pancasila, dll.

Oleh karena itu, hubungan Islam dan Pancasila merupakan sistem yang paling efektif dalam menata tatanan negara. Sebaliknya, khilafah versi HT hanya kongkret memicu api perpecahan bangsa yang menghadirkan permusuhan di kalangan umat Islam. Sehingga, hal itu menjauhkan komitmen persatuan, dan persaudaraan sesama umat Islam itu sendiri.

Mengawal Negara

Kemunculan Hizbut Tahrir di negeri ini sungguh-sungguh mengusik ketentraman dan meretas hubungan yang harmonis, sebab, gagasan khilafah tahririyah versi HT ini menunjukkan tanda-tanda perlawanan kepada pemerintahan. Terutama, ketika mereka menghendaki bergantinya ideologi Pancasila dengan ideologi mereka yang menurutnya lebih relevan.

Dalam konteks negara bangsa, maka peran Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah selama ini menjadi benteng pertahanan sembari mengawal negara, agar tak ada lagi kelompok-kelompok tertentu yang merongrong dan mengusik ketenangan umat. Bagaimana pun caranya, konferensi khilafah 2020 menjadi tantangan bagi semua elemen untuk mencegah mereka.

Momentum strategis TNI-Polri, dan ormas-ormas Islam adalah mereka harus mampu mematahkan pemikiran kelompok tesebut yang tak pernah absen memakai simbol Islam dalam melawan negara. Khususnya, propaganda, dan adu domba yang mereka tabur perlu langkah-langkah taktis supaya khilafah versi HT ini tidak muncul lagi di negeri tercinta Indonesia.

Akhirnya, kembalinya HT melalui agenda konferensi ini tentu umat Islam di seluh penjuru negeri terutama di Indonesia perlu lebih bersikap waspada dini. Kewaspadaan tersebut setidaknya menjadi instrument menolak setiap adanya narasi-narasi pentingnya umat Islam menegakkan khilafah. Ide-ide seperti ini menjadi tugas aparatur pemeriintah, dan ormas-ormas Islam untuk menangkal pemahaman

Hasin Abdullah
Hasin Abdullahhttp://www.gagasahukum.hasinabdullah.com
Peneliti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru