Konsep Pembebasan Farid Esack Untuk Rakyat Papua


0
22 shares
Papua dan Pembebasan Farid Esack

Dikutip dari kominfo.id bawa penduduk Papua dan Maluku mencapai prosentasi kemiskinan terbesar yakni 21,33 persen dari total penduduk miskin 26,58 juta jiwa. Berita ini mungkin bukanlah sesuatu yang asing untuk rakyat Indonesia. Kebanyakan orang telah mengetahui bahwa wilayah Papua dan Maluku mempunyai rakyat miskin yang tinggi. Fakta ini menjadi miris jika kita analisis dengan Konsep Pembebasan Farid Esack.

Pernah beredar bahwa harga bahan bakar minyak di sana mencapai limah puluh ribu rupiah per liter. Bandingkan dengan harga yang ada di pulau Jawa yang tidak sampai pada nominal sepuluh ribu rupiah per liter. Kemungkinan hal ini dikarenakan proses pengiriman yang mengharuskan mengambil jarak dan waktu yang lebih. Otomatis harga kebutuhan pokok juga akan meningkat karena tingginya harga BBM. Disamping itu Papua menadapatkan pembangunan insfastruktur juga minim. 

Menjadi suatu hal yang aneh bila harga BBM Papua tinggi dan di Jawa rendah. Tapi, setaranya harga jual beli mas. Sebagaimana yang kita ketahui kalau di Papua memiliki sumber daya alam bidang emas yang sangat tinggi dibandingkan dengan wilayah Indonesia yang lainya. 

Fenomena ini memang menjadi suatu yang lumrah menurut paradigm kaum ilsuf Sofis. Menurut sofis sesuatu akan terlihat natural kalau ada oaring yang unggul dan rendah. Karena, tidak mungkin di dunia ini semuanya unggul dan semuanya rendah. Pada kasus ini sudah terlihat bahwa kaum yang diunggulkan yakni penduduk yang menghuni di pulau Jawa, yang menjadi pualu tempat ibu kota Negara. Sedangkan wilayah Papua yang menajdi wilayah paling jauh dari ibu kota Negara menjadi yang direndahkan. 

Istilah lain, fenomena ini bisa dikatan sebagai sebuah diskriminasi dalam Negara. Tentu ungkapan deskriminasi tidak semua orang menyandarkanya kepada rakyat Papua. Pendiskriminasian sama halnya yang telah dipaparkan di atas, rakyat Papua seperti dibedakan dengan rakyat Jawa. Walaupun pemeberdayaan dalam mensejahterahkan masyarakat Papua mulai dilakukan. Seprti, penyetaraan haraga BBM dan mulai membangun insfrastruktur.

Papua yang Riskan

Contoh mendiskriminasi rakyat Papua juga terlihat, ketika rakyat Papua hijrah ke pulai Jawa. Orang-orang Jawa sebagian ada mendiskrimanisakn orang Papua. Mereka berbisik menghina dengan mengatakan bauya yang tidak enak dihirup, penampilan yang terlihat kumuh “menurut sebagian orang Jawa” atau mengatakan kalau orang Timur (orang yang berasal dari wilayah Indonesia bagian timur) itu seenaknya sendiri. Kemungkinan besar diskriminasi ini dikarenakan perbedaan ras warna kulit ditambah orang Papua kebanyakan menganut agama Kristen yang menjadi minoritas di Indonesia. 

Prilaku antara kelompok satu dengan kelompok lain yang mengakibatkan munculnya sebuah fenomena diskriminasi ini, juga dialami oleh penduduk Afrika Selatan. Di Afrika Selatan kelompok dari ras putih mendiskriminasi kelompok dari ras hitam. Yang mana ras putih menguasai sector politik dan ekonomi. Bedanya rakyat Papua merupakan minoritas tapi ras kulit hitas di Afrika Selatan merupakan penduduk mayoritas. 

Dari prilaku diskriminasi yang dilakukan oleh rezim apartheid, muncul pemikir sekaligus pelopor dari kalangan umat muslim Afrika Selatan yakni Farid Esack. Salah satu buku karangan Esack yang terkenal yakni bertema tafsir pembebasan (Konsep Pembebasan Farid Esack). Kemunculan hermeneutik bertema pembebasan tidak lain karena latar belakang yang dialami Esack. Yang mana agama Islam merupakan agama minoritas dan kebanyakan dari golongan ras kulit hitam dan berwarna. 

Esack yang menjadi pemikir untuk kemunculan hermeunitika pembebasan, meskipun hal ini dalam kategori dunia penafsiaran Al-Qur’an. Tapi, Esack juga mengeluarkan pemikiran prulalitas yang diterbitkan dalam majalah, artikel dan media masa lainnya. Kemunculan paradigm-paradigma tersebut tak lain untuk mendorong semangat umat muslim yang ada Afrika Selatan. 

Papua dan Pembebasan Farid Esack

Gagasan yang dibuat oleh Esack (Konsep Pembebasan Farid Esack) juga bisa diaplikasikan untuk masyarakat Papua. Sebagaimana Esack dari golongan yang dideskriminasi menggemborkan semangat untuk orang orang yang berasal dari tempat tinggalnya. Maka setidaknya ada orang muslim yang tinggal di Papua mencontoh tindakan Esack untuk mendorong masyarakat dalam hal mensejahterakan rakyat. 

Gagasan yang layak untuk diterapkan di Papua yakni prulalitas. Walaupun gagasan ini harus diambil umat Kristiani yang menjadi penduduk mayoritas di Papua. Tapi, menjadi minorias di Indonesia. Hal ini ditujukan untuk menghilangkan suatu sikap deskriminasi yang dilakukan orang diluar penghuni Papua. Agar sikap toleransi bisa tumbuh di Indonesia. 

Tidak hanya itu, pembuatan sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengangkat derajat ras kulit hitam juga perlu dimunculkan. Sebagaimana Esack yang memunculkan organisasi The Call of Islam, maka orang Papua juga membuat sebuah wadah yang bisa menampung aspirasi masyarakat agar bisa lebih sejahtera. Setidaknya tujuan yang paling penting yakni membuat hegemoni yang berisi bahwa rakyat Papua bukanlah masyarakat yang dijadikan kaum rendahan di Indonesia. 

Setidaknya sesuatu yang bisa dicontoh pada kasus esack ialah sejahtera itu tidak harus dari orang yang mempunyai peran penting dalam suatu wilayah, tapi bagaimana masyarkat golongan bawah bisa sadar dan membangun kesejahteraan untuk indivisual dan klompoknya. 

Akan tetapi gerakan pembebasan ini tidaklah harus mencapai titik makar. Karena, suatu tindakan makar bisa menjadi tindak kejahatan yang ada di suatu Negara. Konsep pembeasan di sini bertujuan untuk membaskan pikiran yang ada dalam masyarakat. Agar masyarakat Papua bisa mensejahterakan dirinya tanpa harus meminta bantuan orang lain. 

Baca Juga:  Masjid yang Dirindukan Semua Umat

Like it? Share with your friends!

0
22 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
alimasyhuda