Konsep Koherensi Surat dalam al-Quran dari Angelika Neuwirth

Analisis berbasis surat dan intertekstualitas melalui pendekatan sastra historis; Kajian terhadap QS An-Nazi'at.


0
10 shares

Pandangan sarjana Barat tentang koherensi surat dalam al-Quran mengalami pergeseran dari masa ke masa. Pada abad ke-9 M, Niketas of Byzantium, menyatakan bahwa al-Qur’an itu “unreasonable, unsystematically thrown together, shoddy piece of work, filled with lies, forgeries, fables and contradictions…”.

Selanjutnya pada abad ke-20, muncul sarjana Barat bernama Angelika Neuwirth (1943) yang menawarkan konsep koherensi surat dalam al-Quran dengan pendekatan sastra historis. Berdasarkan analisisnya, Neuwrith mempunyai pandangan bahwa surat merupakan satu kesatuan. Menurutnya, surat merupakan “unit kecil yang menyimpan proses komunikasi pada masa kelahirannya, sekaligus sebagai unit integral yang terjamin secara redaksionalnya sebagai teks sastra”. Maka dari itu, dia menawarkan pre-canonical reading of the Quran dengan melakukan analisis pada struktur mikro teks.

Analisis struktur mikro teks merupakan sebuah usaha menggali bagaimana “sepak terjang” al-Quran pada masa lahirnya. Caranya dengan berpijak pada surat yang terdapat dalam textus receptus termasuk bagaimana dia merespon tradisi-tradisi lain yang ada pada masa tersebut, terutama teks yang ada di sekitarnya dalam konteks kajian intertekstualitas.

Dasar dari intertekstualitas adalah teks-teks yang mengitarinya pada masa tersebut. Pada kesempatan ini, penulis akan fokus membahas terkait koherensi surat. Hadirnya kajian Neuwirth ini menandakan pergeseran corak kajian sarjana Barat terhadap al-Quran. Neuwirth mampu memutarbalikkan kajian sarjana Barat yang pada awalnya al-Quran dinilai tidak sistematis, kemudian dia mengatakan bahwa surat sebagai integral literary units.

Rippin menguatkan dengan mengatakan dalam reviewnya terhadap buku pertama Neuwirth, bahwa buku tersebut merupakan bentuk pembelaaan pada al-Quran dari wacana miring terkait komposisi al-Quran. Dengan kajian intertekstualitas, pengaruh Bible terhadap al-Quran bukan lagi dilihat sebagai ‘penjiplak’, tapi justru sebagai keunikan dan efektivitas al-Quran dalam menyampaikan pesan.

Baca Juga:  Prinsip-Prinsip Demokrasi dalam Al-Quran (Bagian-II)

Contoh analisis koherensi surat pada QS. an-Nazi’at (79) oleh Neuwirth, adapun surat ini dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: I: Kelompok ayat sumpah, oath clusters (ayat 1-14) II: Kelompok ayat/tanda yang terdiri dari kisah-kisah umat terdahulu, retribution legends, dan tanda di alam raya (ayat 15-33) III: Kelompok ayat Eskatologi; membicarakan terkait akhir zaman, seperti hari kiamat, kebangkitan manusia, surga dan neraka (ayat 34-46).

Terkait makna an-Nazi’at, terdapat beragam pandangan di antara para mufassir. Penafsiran yang biasa kita temui, sebagaimana pendapat al-Zamakhsyari, ath-Thabari, Ibn Qayyim al-Jauziyah dan Bell, an-Nazi’at dimaknai dengan malaikat pencabut nyawa. Namun, Neuwirth tidak sependapat dengan mereka. Menurutnya, makna yang lebih memungkinkan ialah sebagaimana makna al-Adiyat yang masih berkaitan dengan kuda perang.

Perbedaanya, makna an-Nazi’at adalah kuda perang beserta pengendaranya. Pada kelompok ayat pertama, berbicara tentang sumpah yang digambarkan dalam sebuah tablo. Yaitu menghadirkan satu atau beberapa subjek yang sama secara berturut-turut di panggung dengan gerak yang terus-menerus dan cepat. Dalam hal ini, al-Quran meminjam pengalaman nyata masyarakat pada waktu itu untuk menggambarkan sesuatu yang tidak masuk akal bagi mereka, yaitu hari kebangkitan.

Pengalaman nyata yang dimaksud ialah datangnya kuda perang secara mendadak, yang mana sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Mekkah saat itu. Mereka harus menghadapi serangan yang seringkali mendadak dari kaum Badui. Pengaruh ayat ini akan menggetarkan para pendengar al-Quran dan membuat mereka mudah memahami konsep al-Quran tentang hari kebangkitan.

Kelompok ayat berikutnya menggambarkan tentang tanda Kekuasaan Tuhan yang telah tercatat dalam kisah umat terdahulu, juga dalam alam semesta yang menunjukkan kekuasaan-Nya untuk membangkitkan manusia. Gambaran terkait terjadinya hari kebangkitan dalam qasam (sumpah) di bagian awal surat memberikan kesan kembali pada akhir surat tentang waktu terjadinya hari kiamat (ayat 43-46).

Baca Juga:  Mengurai Makna Surah Al-Mulk (Bagian-IV)

Dengan demikian, surat yang terdiri dari tiga elemen yang berbeda, ternyata merupakan sesuatu yang koheren. Terkait metode Neuwirth, informasi yang didapatkan melalui surat ini hanyalah bagaimana Neuwirth membangun kepaduan dalam surat. Menurut hemat penulis, metode koherensi surat yang ditawarkan oleh Neuwirth dapat menjadi salah satu pilihan metode untuk memahami al-Quran. Bukan hanya itu, metode ini juga dapat membantu proses seseorang dalam menghafalkan al-Quran. Mulai dari membagi beberapa ayat ke dalam kelompok, hingga membuat koherensi antar kelompok satu dengan kelompok lainnya. Dengan metode ini, pola kepaduan antar ayat dalam suatu surat lebih bisa tergambarkan.


Like it? Share with your friends!

0
10 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
1
Sedih
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka