Konsep Keaslian Al-Qur’an Menurut Abraham Geiger dan Theodore Noldeke


1
2 shares, 1 point

Pada abad ke-20 studi tentang islam telah muncul sebagai bidang ilmu pengetahuan barat yang signifikan. Pada abad ini juga terjadi perpecahan akibat kesenjangan antara dunia barat dan dunia muslim. Dari sinilah terjadi peningkatan kolaborasi antara lintas iman dan lintas negara asal untuk mengkombinasikan pendekatan islam tradisional dan studi islam di barat. 

Selama abad ke 20 perkembangan studi islam di barat telah menghasilkan berbagai macam pendekatan. Banyak dari sarjana barat yang mengeksplorasi mengenai aspek-aspek umum al-Qur’an, dan juga tidak sedikit dari sarjana barat yang mempertanyakan pemahaman tradisional orang islam terhadap asal usul al-Qur’an. Sarjana barat ketika meneliti al-Qur’an sering menggunakan metode yang sama ketika meneliti kitab-kitab suci yang lain. ( Saeed : 2018 , 154 )

Sejarah turunnya al-Qur’an tidak bisa lepas dari lingkungan asal turunnya al-Qur’an itu sendiri. Maka, tidak bisa dipungkiri bahwa sebelum al-Qur’an turun telah ada sebuah budaya dan kitab-kitab suci yang mengelilingi lingkungan tersebut. Dalam tulisan ini memfokuskan terhadap keaslian dari kitab suci dengan menggunakan metode historis kritis dan juga kajian filologis. Tokoh yang menggunakan teori tersebut adalah Abraham Geiger dan Theodore Noldeke. Dari tulisan ini akan menguraikan bagaimana pemikran Abraham Geiger dan Theodor Noldeke mengenai keaslian al-Qur’an.

 Abraham Geiger adalah seorang intelektual, Rabbi, yang beragama yahudi, ia terkenal sebagai orientalis yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang dipengaruhi oleh agama yahudi. ( Lenni : 2014 , 44 ) Leni lestari mengutip karya Abraham Geiger yang  menyatakan bahwa ada  beberapa kosa kata al-Qur’an yang berasal dari tradisi yahudi diantaranya adalah sakinah, taghut, furqan, ma’un, masani, malakut, darasa, tabut, jannatu ‘adn, taurat, Jahannam, rabbani, sabt, dan ahbar. Menurut Geiger kosa kata yang berakhiran “ut” berasal dari Bahasa Ibrani yang merupakan bahasa ajaran yahudi. ( Lenni : 2014 , 46 )

Secara teologi, Geiger berpendapat bahwa ada 3 ajaran dan doktrin keimanan yang di pinjam Nabi Muhammad dari ajaran yahudi. Pertama tentang penciptaan langit dan bumi dalam 6 hari. Kedua, mengenai tujuh tingkatan surga. Ketiga, tentang balasan surga dan neraka.( Lenni : 2014 , 48) 

Geiger berpendapat seperti itu karena antara ajaran Yahudi dan ajaran islam sama, akan tetapi dalam sejarahnya agama yahudi yang muncul terlebih dahulu daripada ajaran agama islam. Maka dari itu Geiger berpendapat bahwa Nabi Muhammad meminjam ajaran yahudi. Salah satu alasan yang diuraikan oleh Abraham Geiger mengenai Nabi Muhammad yang meminjam ajaran yahudi adalah, karena Nabi Muhammad ingin melegitimasi terhadap islam. 

Selanjutnya yaitu Theodor Noldeke,ia  adalah salah satu orientalis yang mengkritik  mengenai keaslian al-Qur’an. Ia juga menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah sebuah kitab yang tersusun dari huruf, dan kata-kata yang tidak teratur sehingga ia beranggapan bahwa tidak mungkin kitab seperti itu adalah kitab dari tuhan. Tidak hanya itu, Theodor Noldeke juga beranggapan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad sama dengan ajaran yahudi. 

Berangkat dari hal ini Noldeke meneliti al-Qur’an menggunakan pendekatan filologi. Ia membandingkan teks-teks suci dari kitab, yahudi, kristen,dan islam. Dari sini ia menolak pendapat Abraham Geiger yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang pandai merangkum, menyaring merubah, dan melegitimasi ajaran lain sebelum diberitahu kepada yang lain bahwa itu adalah wahyu dari tuhan. Menurut Noldeke bukan maksud Muhammad untuk merubah konsep-konsep kitab terdahulu. 

Pada masa awal keislaman lingkungan Nabi Muhammad memang tidak lepas dari orang yahudi dan Nasrani. Maka dari itu banyak tuduhan yang nyatakan hal tersebut. Noldeke tidak hanya berpikiran negatif terhadap al-Qur’an, akan tetapi ia juga menjadi salah satu sarjana yang mengawali menata al-Qur’an agar sesuai dengan urutan kronologis. 

Dengan menggunakan pendekatan historis kritis, baik Abraham Geiger dan Theodor Noldeke menempatkan al-Qur’an sebagai subjek yang sama. Meski demikian mereka memiliki pendapat, metode dan hasil penelitian yang berbeda dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Baik Geiger yang menggunakan metode membandingan antara ajaran yang termuat dalam kitab suci yahudi dengan ajaran yang ada dalam al-Qur’an, begitu juga Noldeke yang menggunakan keahliannya dalam disiplin ilmu filologi untuk memahami bahwa al-Qur’an adalah bentuk teks filologis. Adakalanya pendapat mereka yang memandang sama dan ada kalanya pendapat mereka saling mematahkan .

Hal ini terlihat saat keduanya menyatakan alasan kenapa al-Qur’an memuat konsep-konsep yang menyimpan dari sumber asalnya. Geiger menduga hal tersebut tidak lain karena faktor politk dakwah Nabi, sedangkan Noldeke mempercayainya sebagai kegagalan proses transmisi.

Hal yang tidak dapat ditinggalkan dari warisan pemikiran Geiger dan Noldeke adalah sudut pandang dalam memahami tradisi islam. Beberapa klasifikasi seperti kalenderisasi makki dan madani. Serta temuan lainnya menjadi poin positif sebagai nilai yang melandasi penelitian lebih lanjut tentang al-Qur’an, bahkan kemudian temuan dari Theodore Noldeke ini dipergunakan oleh kalangan akademisi muslim sendiri. 

Baca Juga:  Ini Dalil Hubbul Wathan dalam Al-Quran

Like it? Share with your friends!

1
2 shares, 1 point

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
NilaJundaya