31.7 C
Jakarta

Konflik Ukraina vs Rusia dan Aliansi Keberpihakan Negara-negara Timur Tengah

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahUlasan Timur TengahKonflik Ukraina vs Rusia dan Aliansi Keberpihakan Negara-negara Timur Tengah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Perseteruan antara Rusia dan Ukraina masih belum menemukan jalan keluar. Beberapa perundingan sudah dilakukan, tetapi tidak mampu membuat kesepakatan antar kedua negara untuk damai. Beberapa negara juga mencoba melakukan mediasi, termasuk Israel dan Turki. Terakhir, Qatar juga berinisiatif untuk memediasi kedua negara untuk mencari solusi damai agar konflik bisa diredam. Lantas, apakah mediasi Qatar akan berhasil atau tidak? Kita masih menunggu hasil dari upaya mediasi tersebut.

Memang, dari perang antara Ukraina dan Rusia, dapat dilihat bagaimana keberpihakan negara-negara Timur Tengah terhadap salah satu negara yang berkonflik. Ada yang pro-Ukraina, tetapi yang lain pro-Rusia. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pernyataan dan upaya yang dilakukan oleh beberapa negara Timur Tengah dalam merespon eskalasi konflik Ukraina vs Rusia. Dalam hal ini, misalnya beberapa negara Timur Tengah yang mengecam Rusia, diantaranya Lebanon. Sementara, negara Suriah dan Iran justru mendukung invasi Rusia atas Ukraina. Hal tersebut menjadi semakin merepresentasikan keberpihakan beberapa negara di Timur Tengah yang terpecah. Mereka saling memberi dukungan kepada Rusia. Sementara, negara-negara lainnya justru menolak dan mengecam adanya invasi Rusia ke Ukraina.

Selain itu, ada beberapa negara Timur Tengah yang abstain, termasuk Uni Emirat Arab memberikan suara abstain atas resolusi mengecam Rusia atas serangannya terhadap Ukraina. Arab Saudi, Irak dan Yordania juga belum menunjukkan respon atas upaya invasi Rusia kepada Ukraina. Negara-negara tersebut justru hati-hati dalam menentukan sikap atas konflik yang terus berkecamuk di Ukraina. Dari hal tersebut, fragmentasi keberpihakan kepada Ukraina atau Rusia sangat terlihat. Apalagi beberapa negara Timur Tengah yang sudah menjalin hubungan dan kerjasama dengan Rusia ataupun Ukraina. Hal ini juga memperlihatkan adanya pertarungan sengit antara blok aliansi Barat (Amerika Serikat dan Uni Eropa) dengan blok aliansi Rusia.

Perang Ukraina vs Rusia dan Kontestasi Aliansi

Perang antara Ukraina dan Rusia menjadi momentum dimana kontestasi antara AS, Uni Eropa, dan negara-negara yang tergabung dalam aliansi tersebut berhadapan dengan Rusia dan para negara sekutunya. Memang, perseteruan ini tidak dapat dipisahkan dari usaha Ukraina untuk menjadi anggota NATO. Tentu hal ini membuat Rusia marah dan berupaya menggagalkan upaya tersebut. Bagi Rusia, NATO adalah musuh bagi negaranya dan menjadi penentang dalam berbagai kebijakan politiknya. AS sebagai salah satu anggota NATO dan menjadi musuh bagi Rusia juga ikit terlibat dalam konflik antara Rusia dan Ukraina. AS, Uni Eropa, dan beberapa negara lainnya juga memberlakukan sanksi ekonomi kepada Rusia atas serangan invasinya ke Ukraina. Namun, Rusia tidak bergeming sedikit pun atas sanksi ekonomi yang dilakukan oleh Barat kepadanya. Putin justru mengancam bagi negara-negara yang menolak invasi Rusia dan memberlakukan sanksi ekonomi atas Rusia akan mendapatkan balasan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Sementara, Ukraina juga berupaya mendaftar ke dalam anggota Uni Eropa dan NATO, tetapi usahanya tersebut masih belum membuahkan hasil. Sedangkan, bombardir dan serangan Rusia atas kota-kota di Ukraina semakin gencar. Perseteruan antara kedua negara juga belum menemukan kesepakatan, apalagi gencatan senjata. Rusia masih bersikukuh melakukan invasi dan upaya untuk menghantam beberapa infrastruktur di Ukraina. Jika, hal ini terus berlanjut maka akan banyak lagi korban berjatuhan dan Ukraina akan menjadi negara yang porak poranda.

Kontestasi aliansi antar kedua kubu, baik negara-negara yang pro-Rusia maupun pro-Ukraina sangat terlihat dalam konflik antara Ukraina vs Rusia. Hal ini juga memperlihatkan Rusia tengah memperlihatkan kepada dunia, bahwa ia adalah negara adidaya yang akan berjuang demi apa yang ia inginkan, meski segala cara ia lakukan untuk mendapatkan targetnya. Sementara, Ukraina juga harus segera mencari solusi dan bantuan diplomasi, termasuk meminta mediasi beberapa negara untuk melakukan perundingan dan kesepakatan terkait upaya perdamaian.

 Masa Depan Konflik

Konstelasi konflik antara Ukraina dan Rusia terus berkecamuk. Entah kapan perang kedua negara akan selesai dan menemukan solusi perdamaian. Namun, masa depan perseteruan keduanya masih ada dan harus diupayakan. Berbagai upaya dan strategi, termasuk usaha diplomasi dan perundingan telah dilakukan. Meski belum menemukan solusi dan jalan keluar bagi kedua negara. Perang pasti akan menemukan jalan keluarnya, meski ada yang kalah ataupun menang. Sejarah juga akan mencatat bagaimana perang telah menyisakan korban dan berbagai persoalan yang ditinggalkannya. Namun, jalan keluar adalah usaha yang mesti diupayakan mesti ada berbagai benturan kepentingan antar kedua pihak.

Kita masih sama-sama menunggu bagaimana akhir konflik dan skenario konstelasi perang Ukraina vs Rusia. Tetapi, yang jelas semua negara tidak pernah menghendaki adanya perang, apalagi sampai merenggut ribuan korban manusia. Perang justru menyisakan luka dan duka yang tidak pernah selesai. Untuk itu, masa depan konflik Ukraina dan Rusia sangat tergantung bagaimana keduanya saling bernegosiasi dan berkompromi. Meski, gesekan dan pertentangan kepentingan kedua negara ini berseberangan satu sama lain. Yang jelas perang akan semakin menghabiskan banyak energi dan biaya, maka jika perang terus berkecamuk justru akan menghabiskan banyak lagi biaya yang mesti dikeluarkan untuk saling mengeluarkan amunisi dan militer yang mereka miliki.

Dunia tengah menunggu bagaimana konflik Ukraina dan Rusia mampu diselesaikan. Dampak perang yang kompleks, termasuk imbas kemanusiaan, ekonomi, dan berbagai persoalan lain yang mengintai pasca perang. Untuk itu, masa depan konflik Ukraina vs Rusia masih ada dan sangat ditentukan oleh inisiatif kedua negara untuk menghentikannya. Jika tidak, perseteruan terus akan memanas dan ribuan korban akan terus berjatuhan, serta berbagai infrastruktur akan porak poranda dihantam serangan militer.

 

Firmanda Taufiq
Firmanda Taufiq
Mahasiswa S3 Kajian Timur Tengah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Penulis, dan Pengamat Politik Timur Tengah.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru