30.2 C
Jakarta

Komunitas Fiksi Penggemar, Diskursus Baru Literasi?

Artikel Trending

KhazanahLiterasiKomunitas Fiksi Penggemar, Diskursus Baru Literasi?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Saya diminta salah satu teman untuk membaca karyanya di sebuah platform media. Setelah membaca dan bertanya lebih jauh, tersadar bahwa ia adalah bagian dari komunitas fiksi penggemar Haikyu. Cerita yang ditulisnya mengambil karakter dari series anime tersebut. Tentunya, saya tidak akan menghakimi komunitas ini. Justru, tulisan ini hendak menyoroti bagaimana fiksi penggemar berperan dalam mengembangkan literasi.

Pertukaran budaya dari kemajuan teknologi memberi dampak besar bagi lahirnya komunitas-komunitas di dunia maya. Komunitas tersebut merupakan kelompok penggemar dari sebuah karya, novel, K-pop, selebritas, film dan banyak lainnya atau disebut fanfiksi. Mereka mengapresiasi karya fiksi dengan fiksi sesuai cerita, motif, dan tindakan karakter yang baru.

Namun, keberadaan komunitas ini sering dianggap sebelah mata. Keberadaanya kurang dihargai sebab penulisnya amatir, tidak berbobot dan menjiplak karakter orang lain. Faktanya, mereka memang memiliki karakter dari fiksi populer untuk dasar cerita. Namun, mereka membuat seluruh dunia atau alur cerita sendiri.

Contohnya saja, karya punya teman saya ia mengambil beberapa karakter dalam serial anime Haikyu. Namun, plot, cerita dan unsur-unsur di dalamnya tidak terikat dengan karya orisinilnya. Tentu saja, hal itu telah menjadi bagian dari seni dan karya baru yang layak diapresiasi. Terlepas dari alasan hiburan dan kesenangan semata, karya fiksi penggemar telah membangun diskursus baru literasi di era digital.

Penulis fiksi penggemar memiliki privilese yang tidak dimiliki oleh penulis terbitan lainnya. Melalui ruang yang fleksibel, mereka terhubung langsung dengan para pembaca, sehingga dengan mudah menerima kritik dan saran demi kualitas karyanya. Mereka bisa langsung berdiskusi dengan para pembaca dan mengoreksi karya.

Penulis fiksi penggemar juga memiliki kebebasan dalam mengeksplorasi cerita sesuai dengan minat dan keahlian mereka. Seperti tema gender, seksualitas, diskriminasi ras, hukum, dan psikologi yang dikemas dengan seru dan menyenangkan.

Sejak kemunculannya, fansfiction memiliki tarik ulur simbiosis mutualisme bagi penulis dan pembaca. Komunitas tersebut menawarkan ruang pembelajaran seperti pertukaran kultur, dan mendorong kemampuan membaca yang dapat diakses gratis di beragam platform seperti Wattpad, Fansfiction.net, Medium, Tumblr dan Twitter. Para penggemar atau yang disebut fandom dapat saling berbagi dengan penggemar lainnya.

Dalam artikel Fanfiction: A Terribly Underappreciated Art yang ditulis Palak Jayswal “Fanfiction hari ini adalah mesin besar yang mendorong pertukaran fiksi dan ide internasional. Ini menghubungkan orang-orang dari segala usia dan tingkat keterampilan melalui kecintaan bersama terhadap cerita dan karakter yang menginspirasi mereka.”

Fiksi penggemar mengubah literatur untuk pembaca dan penulis. Bahkan, itu sudah berdampak besar pada kemajuan literasi. Di mana remaja, anak-anak muda saat ini sangat menggandrungi budaya populer.

Penulis terlaris seperti Meg Cabot juga berawal dari menulis fanfiksi. Karyanya yang berjudul Princess Diaries laris terjual berjuta-juta eksemplar. Novel Dikta dan Hukum yang diangkat menjadi layar drama series merupakan bagian dari genre fanfiksi. Sang penulis Dhia’an Farah juga bermula menggemari selebritas yang kemudian membagikan karyanya di laman Twitter.

Komunitas fiksi penggemar merupakan tempat aman bagi para penulis pemula. Dimana mereka merasa diterima kendati kemampuan menulisnya kurang mumpuni. Melalui dukungan para penggemar, mereka tetap berkreativitas mengeksplorasi cerita dengan karakter-karakter fiksi yang digemarinya.

Barangkali kita sering disuguhkan dengan pernyataan kemampuan literasi Indonesia berada di posisi rendah. Tetapi, kemajuan teknologi telah mengambil peran penting dalam menciptakan diskursus baru literasi. Dulu, kita terbiasa dengan buku fisik untuk menambah pengetahuan atau mencari hiburan. Dan sebutan penulis hanya lekat pada mereka yang karyanya berhasil tembus koran, majalah atau penerbitan.

Di era digital saat ini, semua orang berhak disebut penulis melalui karya-karya yang dibagikan di media. Mereka menjalin relasi dengan pembaca melalui komentar dan opsi yang ditawarkan. Begitupula, pembaca dengan mudah menemukan karya yang sesuai dengan minat dan kegemarannya

Komunitas fiksi penggemar patut diapresiasi keberadaannya. Mereka tidak sekadar menjadi penggemar dari sebuah karya atau selebritas. Juga menjadikan kegemaran tersebut sebagai modal berkarya. Di tengah masyarakat yang mengabaikan eksistensinya, mereka memvalidasi perjuangan penulis dan pembacanya.

Entah disetujui atau tidak, fansfiction berperan besar dalam meningkatkan literasi. Dan seperti kata Palak Jayswal editor seni di The Daily Utah Chronicle fiksi penggemar bagian dari seni dan kerajinan tersulit yang pernah ada.

Marisa Rahmashifa
Marisa Rahmashifa
Mahasiswi Jurusan Sastra Inggris berdomisili Malang

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru