31 C
Jakarta

Komitmen MUI dan BNPT Memberantas Radikalisme Sampai Mana?

Artikel Trending

EditorialKomitmen MUI dan BNPT Memberantas Radikalisme Sampai Mana?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Dalam gerak aktivitas pemberantasan radikalisme saat ini, di lapangan, yang terjadi hanyalah “baku hantam” antara satu lembaga dengan lembaga lainnya. Contohnya seperti terjadi pada Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Satu kerjanya mengidentifikasi dan melaporkan, sementara satunya membantah dan melakukan protes kejam. Layaknya Tom dan Jerry, kedua lembaga di atas, saling kejar-kejaran dan bantah-bantahan. Bukan fokus kepada apa maksud dan tujuannya, tetapi melihat branding posisi informasi yang dominan.

Jadi, apa dan sejauh mana komitmen MUI dan BNPT dalam memberantas radikalisme dan terorisme di Indonesia?

MUI punya lembaga bernama Badan Penggulangan Ekstrimisme dan Terorisme (BPET), yang diandaikan berkompeten bicara masalah radikalisme. Sedang BNPT sudah menjadi badan sendiri untuk memberantas radikalisme. Tapi, jika melihat jejak rekam ke dua lembaga ini, dan hasilnya sejauh ini, jaung panggang dari api. Banyak orang melihat bahwa mereka baru melakukan pendataan, kalau tidak baru mencari strategi, atau menambal sulam naskah akademiknya tentang radikalisme.

Sementara, radikalisme telah menjadi kangker di dalam tubuh negara Indonesia ini, tak terkecuali di tubuh MUI. Oleh karena itu, sayang sekali jika keberadaan dua lembaga itu tak mengurangi radikalisme sebagaimana harapan dan tujuan hadirnya lembaga tersebut.

Pada tahap BNPT memberikan pernyataan tentang ciri-ciri penceramah radikal, sebenarnya BNPT sudah pada posisi benar. Namun sayangnya hal tersebut tak diindahkan oleh MUI karena mereka menganggap hal tersebut tidak benar dan blunder. Tidak ada yang salah ketika BNPT menyatakan seperti ini: penceramah radikal yang mengajarkan ajaran anti-Pancasila dan pro-ideologi khilafah; yang mengajarkan paham takfiri atau mengkafirkan pihak lain yang berbeda paham dan agama; yang menanamkan sikap anti-pemimpin atau pemerintahan yang sah; yang memiliki sikap eksklusif terhadap lingkungannya; dan yang biasanya memiliki pandangan anti-budaya atau anti-kearifan lokal keagamaan. Tidak ada yang salah.

Namun demikian, selain MUI, masih banyak orang yang tidak suka dengan aktivitas kontra radikalisme atau deradikalisasi ini. Seolah-olah, aktivitas ini hanyalah lahan kering, yang masih ditanami oleh kembang-kembang hijau. Bahkan, sering kali malah dituduh untuk menghancurkan Islam. Padahal, secara fakta, kegiatan ini tidak saja untuk menghapus segala bentuk radikalisme dan terorisme. Namun, kegiatan kontra radikalisme untuk mengembalikan ajaran keislaman kepada ajaran yang sesungguhnya, yakni ajaran Islam moderat.

BACA JUGA  Radikalisme Kronis di Jantung BUMN

Tokoh-tokoh yang tidak setuju dengan kontra radikalisme biasanya karena tidak mau membaca fakta-fakta di lapangan, dan atau jika tahu itu adalah hasil briefing dengan informasi yang tidak jelas oleh para pengikut atau pembinanya. Maka itu, timbul kekeliruan, gagal paham, dan bahkan timbul fitnah. Pada akhirnya menghasilkan kebencian.

Apalagi, hal tersebut diperburuk oleh media, yang memang kerjaannya mencari sensasi dengan sajian berita yang sama sekali tidak mendalam dan akurat. Sekadar judulnya bombastis tapi beritanya tidak ada isinya sama sekali dan tak bernilai. Kontroversi menjadi mainan, tapi fakta dan kebenaran menjadi hal paling belakang. Inilah yang menjadi secuil masalah pada kehidupan kita, utamanya dalam mencerap informasi jika tidak biasa bersabar dan kritis.

Ketiadaan sikap sabar dan kritis itu, apalagi dasarnya sudah menolak aktivitas kontra radikalisme menjadikan fakta di lapangan hitam. Alih-alih penolakan karena misinformasi, disinformasi dan malinformasi yang berakibat pada salah, gagal paham, malah yang terjadi justru menuduh aktivitas kontra radikalisme atau deradikalisasi adalah kerjaan manusia yang membenci Islam dan tokoh-tokoh Islam sendiri.

Maka itu, yang terjadi kini, tersebarlah berita bahwa kontra radikalisme adalah agenda ingin menjauhkan dan memisahkan Islam dari umatnya. Mereka menyebar propaganda bahwa Islam ingin dibumihanguskan dan akan diganti dengan ajaran yang lain.

Melihat fenomena ini, maka kerjaan BNPT hari ini tidak saja harus mengatasi problem radikalisme, tetapi memberikan kepercayaan kepada masyarakat luas bahwa aktivitas kontra radikalisme adalah ingin meniadakan segala bentuk ajaran-ajaran yang membahayakan umat manusia. Juga, kerjaan MUI hari ini, tidak selalu memberi fatwa halal-haram, atau membantah kerjaan lembaga lainnya. Melainkan MUI hari ini harus membawa umat Islam ke jalan yang moderat, dan masyarakatnya memiliki pemahaman Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yaitu pemahaman yang membawa rahmat kepada seluruh alam.

Yang pasti, hari ini, masyarakat tidak ingin lagi melihat BNPT dan MUI selalu bentrok karena masalah sepela dan hanya karena misinformasi. Yang diharapkan masyarakat Indonesia pada kedua lembaga ini, komitmennya memberantas radikalisme dan terorisma hingga ke akar-akarnya, agar keharmonisan negara-bangsa dapat tercapai. Sanggup?

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru