25.1 C
Jakarta

Komersialisasi Surga Untuk Mengampanyekan Paham Radikalisme di HUT RI 77

Artikel Trending

Milenial IslamKomersialisasi Surga Untuk Mengampanyekan Paham Radikalisme di HUT RI 77
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Di Garut, ada destinasi wisata yang menjual tiket bisa masuk surga. Di pantai yang indah di Garut selatan ini, orang-orang diberi iming-iming, baunya surga dengan cukup membayar infak Rp 25 ribu.

Ini dilakukan bermaksud untuk mencari lahan basah sebagai bisnis agama. Dengan mengiming-imingi surga, orang dikiranya bisa datang berbondong-bondong untuk masuk ke dalam destinasi tersebut. Meski terlihat aneh dan terpaksa, orang tetap bayar demi bisa masuk dan bisa berwisata ke area tersebut, serta menjadi bagian dari mereka.

Mengapa saya mengatakan menjadi bagian dari mereka? Karena, orang-orang sebelum masuk ke arena tersebut, pertama-tama, orang harus melakukan pembacaan syahadat. Kedua, membayar infak 25 ribu dan infaknya harus bayar ke mereka. Spesifiknya membayar ke pimpinan kelompok mereka. Ketiga, orang-orang ini, menganggap toghut ke Pancasila dan pemerintah yang sah. Dan lain-lainnya.

Siapa Mereka?

Siapa pelakunya? Dari kelompok mana? Motifnya apa? Usut punya usut, ternyata aktivitas ini dilakukan oleh kelompok yang sejak awal mempunyai jejak radikalisme. Mereka bersatu dalam satu pendulum keinginan mencari titik terang terhadap konsep negara dan konsep agama. Mereka bertemu dalam satu mistisisme Gunung Guntur dan Asgar, sebuah pangkas rambut terkenal di Garut.

Di kawasan Garut selatan ini, alias pantai Garut, wisata menjadi incaran bisnis agama oleh kelompok ini. Islam garis keras berkamuflase dengan destinasi wisata. Wisata dimanfaatkan selain menjadi tempat wisata. Ia juga dijadikan sebagai kampanye agama yang keras. Demi menarik perhatian publik, salah satunya memakai strategi surga.

Menurut penelusuran detik, praktik ini sudah lama ada.  Sudah puluhan tahun. Mereka telah sukses dalam wacana dan implementasi surga sebagai taktik komersil mereka lewat wisata. Tapi sayangnya, umat menerima dan bahkan senang saja dalam praktik ini.

Sekitar tahun 1995 praktik komersil wisata surga sudah dilakukan. Dana dari hasil ini, sudah menjadi ladang ekonomi yang paling menjanjikan. Dari hasil dana ini, bisa diarahkan kepada jalan lain, seperti pendanaan aktivitas organisasi Islam kanan mereka, dan sebagai penghidupan bagi oknum-oknum yang memiliki gagasan dan kawasan ini.

BACA JUGA  Menghukum Mati Istri Ferdy Sambo, Jalan Pintas Padamkan Narasi Radikal-Ekstrem

Berawal dari DI/TII

Kalau dilihat ke belakang, ternyata aktivitas ini ada sangkut pautnya dengan paham Islam kanan tempo dahulu. Lebih jelasnya, akarnya berasal dari pemberontakan DI/TII yang digawangi Sekarmadji Maridjin Kartosoewirjo pada awal kemerdekaan Indonesia. Tapi sayangnya ideologi Kartosoewirjo tak pernah mati dari kota Garut ini.

Hingga sekarang, gagasan Kartosoewirjo bergerak lebih rapi. Ia mengubah strategi lebih santun dan beradab. Secara finansial gerakan Kartosoewirjo juga memiliki taktik yang tak kalah hebat dengan ormas lain. Ustaz-ustaz yang terlihat tidak memiliki ongkos hidup, didekati dengan organisasi Kartosoewirjo. Makanya, ustaz-ustaz dan para pemuka agama memebelok kepada ormas Kartosoewirjo karena alasan bantuan finansial.

Maka kita bisa membuat teori bahwa, faktor yang mempengaruhi sebaran terjadinya radikalisme, bukan karena mereka tidak paham secara dalam tentang agama. Melainkan mereka, tidak paham tentang aliran yang menyimpang, dan atas dasar iming-iming keuntungan dari segi finansial. Mata sebagian ustaz, akan merah ketika melihat fulus yang merah juga!

Sampai saat ini, praktik iming-iming surga sering diabaikan oleh pemerintah. Hingga akhirnya, ia berdampak luas kepada masyarakat karena telah melihat fakta yang membikin nyaman mereka. Secara teori, sesuatu kehidupan (keadaan) yang tidak pernah dipermasalahkan dari tinjauan agama, atau diprotes oleh warga dan negara, adalah kehidupan yang dianggap tidak bermasalah. Seolah-olah praktik ini adalah praktik yang sah dan dinamis saja.

Menunggu Ketegasan Pemerintah

Oleh sebab itu, untuk meminimalisir praktik komersialisasi surga di area destinasi wisata Garut, pemerintah seharusnya turun ke lapangan untuk memanatu dan memastikan bahwa masyarakat sekitar tidak terlibat dalam praktik tersebut. Paling tidka pemerintah memastikan masyarakat tidak terjebak dalam arus ajaran radikalisme, yang mulai dikembangkan oleh kelompok Islam garis keras, tokoh agama dan politisi.

Atas ketidaktahuan mereka kepada ajaran radikalisme, ingin coba-coba, ditambah lagi dengan politisasi agama, dan tidak adanya sosialisasi dan kontrol negara, masyarakat menjadi radikal. Oleh sebab itu, di Hari Ulang Tahun Indonesia (HUT) 77 inilah saatnya. Negara harus turun tangan dan tegas untuk menghentikan komersialisasi surga untuk mengampanyekan paham radikalisme di HUT 77.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru