26.6 C
Jakarta

Peluang Ngaji Kitab Kuning Virtual Dalam Menangkal Radikalisme Online

Artikel Trending

Bulan Ramadhan yang lalu menyisakan sebuah tradisi di dunia virtual yang tak selayaknya ditinggalkan. Yaitu kajian agama secara virtual. Bermula dari pengajian pasanan di pesantren-pesantren yang pada Ramadhan lalu ditiadakan secara masal, pengajian kitab kuning pun banyak bermigrasi ke media sosial. Dari sini kajian kitab secara online memiliki andil dalam menangkal penyebaran radikalisme di dunia virtual.

Meski bulan Ramadhan telah usai, ngaji kitab virtual tidak sepatutnya juga selesai. Bahkan seharusnya lebih digalakkan. Yaitu dengan mengulas secara lebih spesifik isu-isu keagamaan di masyarakat. Terutama yang berkaitan dengan keutuhan bangsa Indonesia. Pesantren sebagai salah satu basis keagamaan serta penjaga Pancasila, punya potensi besar membendung radikalisme di dunia virtual dengan pengajian kitab yang disebarkan ke dunia virtual.

Kajian agama di media online tidaklah cukup dari cendekiawan-cendekiawan Islam yang mengkaji Islam lewat metode ceramah atau kultum, tanpa adanya acuan materi yang dibawa layaknya dalam kajian kitab kuning di pesantren. Kajian agama di media online perlu melibatkan insan pesantren yang mengkaji agama menggunakan kitab kuning. Sebab kajian kitab kuning di pesantren memiliki keunggulan berupa, baik pembaca maupun pendengar dapat menyimak, melakukan koreksi pemahaman, serta melanjutkan diskusi mandiri, lewat materi kitab yang telah disepakati oleh keduanya tentang kekredibelannya.

Meluruskan Wacana Agama di sekitar Radikalisme Online

Radikalisme berlatarbelakang pemahaman agama yang kurang tepat, dapat diatasi dengan pelurusan pemahaman tersebut. Hal ini seperti pada kasus salah tafsir kaum radikalis terhadap ayat keharusan mengambil hukum dengan kitab Allah. Ayat yang seharusnya diperuntukkan kepada non muslim itu, justru diarahkan ke sesama muslim. Salah tafsir ini berkembang luas di media online.

Kajian kitab virtual dapat fokus mengkaji permasalahan tafsir. Dimulai dari uraian bahwa dalam memahami al-Qur’an tidaklah cukup hanya dengan pemikiran manusia semata, tanpa didukung data dari hadis dan gramatikal arab. Berbagai pihak dapat mengambil peran dalam mengkaji diantaranya: pertama, ilmu tafsir yang tidak terlalu tebal seperti kitab Itmamud Dirayah; kedua, kitab tafsir yang tak terlalu tebal seperti Tafsir Jalalain atau mencuplik bagian tertentu dari tafsir Mafatihul Ghaib kaya Ar-Razi.

Ketiga, kitab pendukung seperti ushul fiqh maupun gramatikal arab dasar, dan fokus pada dinamika pemaknaan Bahasa arab terutama di dalam al-Qur’an. Kemudian berlanjut pada kajian secara khusus terhadap ayat-ayat yang sering disalah fahami. Diantaranya surat al-Maidah ayat 44, 45, dan 47 yang menjadi muara Aqidah Takfiri. Menurut Usamah Sayyid dalam bukunya berjudul Islam Radikal, ayat-ayat ini adalah muara berbagai aqidah melenceng yang diyakini oleh kaum radikalis Islam (Usamah, 2015). Atau ayat-ayat yang menyinggung tentang term khilafah yang dijadikan justifikasi pendukung khilafah pada gerakan mereka.

BACA JUGA  Hubungan Islam dan Demokrasi Perspektif Bahtiar Effendy

Menebarkan Kesantunan Dan Kecintaan Pada Tanah Air

Kaum radikalis telah mengecilkan khazanah Islam pada kekerasan. Seakan-akan Nabi tidak pernah mengajarkan kesantunan, senyum ramah, dan kecintaan pada tanah air. Sebaliknya, khazanah kitab kuning merekam segalanya dan menunjukkan bagaimana wajah Islam seutuhnya. Mengkaji kitab kuning seperti Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali di dunia maya, akan menunjukkan serta memberi jalan pada masyarakat yang lebih akrab dengan dunia maya, untuk mengenal hal-hal seperti bagaimana membela Islam yang benar, canda tawa nabi, serta sifat santun dan rendah hati kaum sufi.

BACA JUGA  Kado 2021; Memaknai Takwa dalam Pluralisme Agama

Kitab kuning yang mengulas Tarikh Islam juga menyuguhkan perjalanan kekhalifahan Islam yang sesungguhnya, dan jauh dari khayalan para pengusung khilafah. Benarkah kekhalifahan Umayyah, Abasiyah atau bahkan Turki Ottoman sesuai dengan bayang-bayang mereka; amat adil dan bijaksana serta jauh dari dinamika baik buruk sifat manusia, serta intrik-intrik politik seperti yang lazimnya ada pada sebuah sistem pemerintahan?

Lalu apa yang dibutuhkan insan pesantren untuk menanggulangi radikalisme online lewat ngaji kitab virtual? Jawabannya tentu inovasi pembelajaran. Mulai dari mempersiapkan media komunikasi untuk live streaming ngaji dan semacamnya, sampai kepada mengatur Bahasa penyampaian materi. Entah melalui proses memberi makna pegon, atau langsung kepada proses penterjemahan secara literlek kemudian dijelaskan dengan Bahasa komunikatif.

Yang jelas, santri di pesantren akan berbeda dengan santri online. Sebab dinamika tradisi di pesantren tentu akan berbeda dengan dinamika tradisi di dunia maya. Insan pesantren yang berkecimpung pada kajian kitab secara virtual harus sadar, ini bukan soal bagaimana seorang murid yang membutuhkan ilmu sehingga harus menjaga adab kepada guru, sebagaimana interaksi guru dan murid dalam khazanah Islam klasik. Ini lebih kepada menyuguhkan konten demi menanggulangi radikalisme online.

Avatar
Mohammad Nasif
Lulusan Pon. Pes. Lirboyo dan Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga tahun 2016. Menulis buku-buku keislaman, terjemah, artikel tentang pesantren dan Islam, serta Cerpen.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru