27.4 C
Jakarta

Kicauan Masyarakat Radikal di Balik Naiknya BBM

Artikel Trending

EditorialIndonesiaKicauan Masyarakat Radikal di Balik Naiknya BBM
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Waspada penumpang gelap! Begitu pesan yang pas untuk seluruh masyarakat Indonesia. Masyarakat harus hati-hati dengan setiap aspirasi mereka, karena boleh jadi tanpa sepengetahuan mereka, aspirasi tersebut telah dicemari aktor-aktor radikal. Kritik tentu saja boleh, legal, sebagai konsekuensi demokrasi. Aksi demo jelas tidak ada yang melarang, tetapi hati-hati dengan penyusup. Masyarakat harus cerdas membaca situasi dan idealisme.

Misalnya pada aksi demo 11 April kemarin yang berujung penghajaran Ade Amando, Dosen UI, aktivis CokroTV, dan influencer yang kerap dianggap buzzeRp. BNPT menganggap pelaku pengeroyokan terpapar paham takfiri dan PSI menuduh pelaku adalah pendukung Anies. Dua tuduhan tersebut, betapapun terlalu jauh dan tak berdasar, terutama karena PSI selama ini merupakan partai terburuk, memiliki kesamaan: demo 11 April tersusupi.

Mengapa demikian? Ada dua alasan. Pertama, anggapan BNPT tadi bernuansa kontra-ekstremisme agama. Kedua, tuduhan PSI tadi bernuansa politik. Dua alasan ini memiliki irisan dalam hal aktor. Artinya, selama ini para aktor ekstremisme memiliki agenda politik yang mereka infiltrasikan melalui doktrin-doktrin keagamaan. Umpamanya ditanya, siapa yang terpapar takfiri dan siapa pendukung Anies? Jawabannya serumpun: pejuang khilafah dan Islam kaffah.

Pertanyaannya, apakah aktor-aktor tersebut hanya menyusup ke aksi demo 11 April kemarin? Jawabannya jelas: tidak. Mereka, sebelum aksi, sudah menyusup dulu ke gonjang-ganjing naiknya barang-barang terutama BBM. Mereka, yang di sini kita istilahkan dengan ‘masyarakat radikal’, yang anti-rezim karena anti-sistem pemerintahan, ikut protes atas kenaikan barang. Namun protesnya bersifat destruktif, sama sekali tidak untuk membangun melainkan untuk mematikan kepercayaan masayarakt kepada pemerintah.

Ini yang berhasil dianalisis oleh Badan Intelijen Negara (BIN). Kepala BIN Jenderal (Purn) Budi Gunawan mengatakan, masyarakat harus beradaptasi dan tantangan ini harus dilewati bersama. Ia mengatakan,

“Solusi paling substantif bagi masyarakat untuk menghadapi kondisi ekonomi yang mengarah ke stagflasi ini adalah bersiap dan mengadaptasikan pengelolaan hidup sehari-hari dengan kebutuhan riil masing-masing. Tentu untuk memastikan kenaikan harga-harga saat ini tidak sampai menyengsarakan rakyat, pemerintah akan terus bekerja keras menjamin ketersediaan, membuat perencanaan BBM yang lebih baik, real time, dan berbasis data, serta membuat rambu-rambu agar kalangan mampu tidak berpindah mengkonsumsi BBM subsidi. Kita semua yakin, tantangan ini akan berlalu, dan dengan inovasi serta perilaku baru, bangsa Indonesia akan keluar lebih tangguh dan lebih bersatu menghadapi tantangan berikutnya.”

Apa yang dimaksud adaptasi? Mengapa naiknya BBM dianggap tantangan? Untuk menjawab dua pertanyaan ini, kita perlu kembali melihat karakter khas masyarakat radikal: tidak suka melihat Indonesia adem-ayem dan suka menunggangi wacana-wacana masyarakat. Ada wacana apa pun, jika itu ditujukan untuk melemahkan pengaruh pemerintah dan sistem pemerintahan, mereka pasti akan hadir. Dari demo berjilid-jilid hingga demo anarkis 11 April, pelaku kebanyakannya adalah penunggang isu. Mereka tugasnya adalah menyebarkan wacana radikal.

Wacana radikal lahir sebagai konsekuensi radikalisme. Karenanya, untuk melawannya, kontra-radikalisme menjadi alternatif yang relatif efektif. Ini sekaligus menjadi tantangan bahwa kontra-radikalisasi ke depan harus lebih peka analisis, karena masyarakat radikal hari ini gerakannya sangat halus. Dalam aksi demo kemarin, atau dalam protes kenaikan BBM yang berhembus sejak lama, misalnya. Tanpa kepekaan, mungkin dua hal tersebut akan dianggap lumrah.

Karena itu, analisis narasi seperti ditampakkan oleh Kepala BIN bisa menjadi semacam deteksi dini radikalisasi. Artinya kita selaku masyarakat mesti selalu waspada kepada penumpang gelap yang selalu berusaha memprovokasi rakyat dan mendestruksi integritas pemerintahan. BBM naik bukan karena kezaliman rezim, tapi karena memang pasal global juga naik.

Kicauan masyarakat radikal harus kita deteksi, hadapi, dan tangkal secara cerdas. Apalagi jika sampai memprovokasi perombakan sistem pemerintahan terhadap khalayak publik. Kenaikan BBM hanya contoh. Banyak narasi lain yang secara by design dilayangkan masyarakat-masyarakat radikal yang memang sejak dalam pikiran sudah anti-pemerintah dan benci pada sistem pemerintahan kita.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru