Kiai Komedi, Jembatan Dakwah Umat


0
40 shares

Berdakwah adalah bagian dari Amar makruf Nahi Munkar, Kiai dimata masyarakat islam Indonesia berperan aktif sebagai penegak agama, sekaligus memimpin pergerakan umat, baik dari aspek agama, maupun sosial. Kiai, dalam lapangan dakwah memiliki metode beragam, menyesuaikan pada konteks masyarakat, tanpa menanggalkan kultur yang menjadi akar tradisi, tentu diselingi polesan ajaran islam sebagai narasi syiar agama

Dalam bersyiar, kiyai dalam memikat partisipasi umat dalam meresapi nilai-nilai yang disampaikan  penceramah tidak kudu menggelora dan berapi api, pun cara elegan, dan bahkan kocak juga kerap dijumpai fenomena yang memikat jiwa-jiwa umat terketuk dan tergerak. Ceramah yang disampaikan bahkan bisa menarik jutaan ummat, sebagaimana terjadi di medio millenial ini, transformasi digital telah menggerakkan jutaan simpati ummat melalui smartphone. Sementara itu, realita mengemukan bahwa masyarakat berbeda kecenderungan satu dengan lainnya, ada sebagian masyarakat yang lebih tertarik bila mendengar ceramah kiai kocak, tidak terlalu tegang, melainkan yang mampu membawa lolucon-lolucon yang sarat akan hikmah didalamnya. Sering terngiang ditelinga kita, “Kiai itu bagus yah, asik” “Kiai itu ceramahnya seru yah,” celetukan usil memang, sebagai penanda bahwa kiai tersebut berceramah kocak, dengan performa macam itu umat merasa tertarik lantaran tausyiah yang disampaikan tidak membuat jenuh. penuh dengan guyonan-guyonan yang mengandung hikmahnya pula.

Di santero muslim nusantara, kiai kocak selalu didambakan oleh penduduk kecil di pendesaan, di perkotaan, atau dengan kata lain, kiai kocak dalam berceramah dambaan umat. Kehadiran kiai dengan model ceramah kocak adalah fenomena kreatif, lewat pendekatan ini akan melahirkan rona baru dalam syiar islam,yakni, islam tidak dipahami sebagai agama monoton-tetapi tidak pula sebagai agama yang suka bercanda dantidak serius, lebih jauh islam meliputi segala aspek yang disesuaikan dengan konteks zaman. Karena tidak bisa dipungkiri, jika ceramah yang dibawa terlalu tegang, monoton, maka dapat menimbulkan kejenuhan majlis, yang tiimbul justru adalah rasa bosan, tidak betah berlama-lama di majlis ilmi tersebut. Karena bosan, impilkasinya jamaah malah kabur satu persatu. Maka kesan yang terjadi, syiar islam tidak tersalur secara tepat, mestinya harus mampu menciptakan suasana majlis lebih damai akan keagungan kehidupan islam. Bukan justru membuat jamaah lari dari lingkaran majlis, umat harus dirangkul dengan kelenturan syiar yang massif menggunakan alur kebutuhan umat.

Baca Juga:  Bukti HTI Menutupi Fakta

Jika dirunut jejak historis penyebaran islam di indonesia, islam bisa diterima oleh masyarakat melalui cara dakwah yang lembut, ramah, jauh dari kata kekerasan dan apalagi pemaksaan. yang lebih menonjol adalah, para pendakwah dalam menyebarkan islam lewat pendekatan kultur. Melalui cara ini, Nusantara yang sebelumnya merupakan penganut kepercayaan Hindu-Budha dalam beberapa dekade sejarah berhasil menjadi masyarakat islam. Sampai sekarang pendekatan kultur masih eksis, bahkan terus mencari formula baru dalam berdakwah demi syiar islam yang lebih kondusif dan bersabahat. Tak ayal di sekolah-sekolah Dai, metode kocak pasti dijumpai menjadi ragam model berceramah dan juga sering dilakukan oleh para kiai yang biasanya kaya akan guyon-guyon yang sangat menyegarkan umat. kocak dalam tradisi pesantren, biasa disebut “guyonan”, dan ada banyak kiyai kondang yang dalam beberapa kali berceramah dikenal selalu membawa nada-nada guyon, Gus Dur. Ikon besar dalam kalangan pesantren sebagai sosok yang kaya dengan joke-joke menyegarkan, penuh dengan nilai-nilai yang menginspirasi. Guyon umumnya bagi kalangan muslim tradisionalis(NU), adalah penyedap rasa yang jikalau tidak ditaburkan, akan berasa hambar. Kelakar sedap, sampai terbahak-bahak kadang pelesetan yang tidak lepas dari ronde ceramah. Meski tidak menanggalkan sisipan nilai-nilai ajaran islam dibaliknya.

Memang, sangatlah beragam pendekatan yang digunakan oleh para muballigh dalam ber amar makruf, semua itu pastinya tetap mengacu kepada motode yang sudah lama berkembang dan menjadi pegangan ketika berdakwah; Almuhafadotu alal qadimisshalih, wal Ahkdu bil jadidil ashlah” memelihara yang dulu yang dinggap baik dan mengambil yang baru yang baik,” teoritis memang, sebab sudah lama menjadi patokan wacana islamisasi di masyarakat muslim indoensia, sampai sekarang  retorika itu sebagai pelegalan dalam proyek amar makruf nahi mungkar secara normatif dan prakteknya, asas tersebut adalah kerangka teoretik dan aplikatif dakwah agar aktivitas dakwah tidak menjadi membosankan dan statis, dan tidak terpasung oleh pemaknaan secara ekslusif,  lebih jauh agar mampu menyongsong sesuatu yang baru dengan corak yang mampu menyentuh hati dan dinamis. Sehingga umat bisa menyimak dengan rileks, menyunggingkan gigi, namun beserta butiran hikmah terkandung menyertainya. Sebab, bagimanapun, Kewajiban berdakwah adalah keharusan yang tidak bisa ditukar dengan apapun, dakwah merupakan investasi islam dalam menyampaikan risalah islam, juga saling menasihati, terlebih kepada umat muslim sendiri.
*Oleh Rifand NL, Penulis adalah aktifis PMII Universitas Wiraraja, Alumni Ponpes salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo


Like it? Share with your friends!

0
40 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
1
Sedih
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
1
Bingung
Marah Marah
1
Marah
Suka Suka
1
Suka
Ahmad Fairozi