26.3 C
Jakarta

Khilafatul Muslimin (4); Zulkifli Rahman Sang Calon Pemberontak NKRI

Artikel Trending

Milenial IslamKhilafatul Muslimin (4); Zulkifli Rahman Sang Calon Pemberontak NKRI
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF
“Ini Khalifah saya. Kalau pun Anda belum sependapat dengan saya, jangan menghina beliau. Jangan sentuh Khalifah saya. Karena kami siap mati untuk membela kekhilafahan ini!”

Harakatuna.com – Demikian statement ustaz Zulkifli Rahman, Amir Khilafatul Muslimin Daulah Indonesia, yang ia pampang di sampul akun Facebook miliknya. Di atas statement tersebut, ada sosok ustaz Abdul Qadir Hasan Baraja, Amirul Mukminin alias pemimpin internasional Khilafatul Muslimin. Militansi Zulkifli kepada Baraja tergambar jelas. Sosok yang sama-sama alumni Pesantren Gontor ini adalah tokoh kunci perjuangan kekhilafahan Khilafatul Muslimin.

Sebelumnya, sudah dibahas tentang ustaz Abdul Qadir Hasan Baraja, sang Khalifah palsu dari organisasi kekhilafahan yang palsu pula. Selanjutnya akan dibahas tentang ustaz Zulkifli Rahman, pengikut setia Sang Khalifah palsu dari organisasi khilafah palsu tersebut. Melihat rekam jejak, perjuangan, pengalaman, dan militansinya di Khilafatul Muslimin, benarkah Zulkifli Rahman akan jadi pemberontak NKRI di masa depan? Apalagi, hari ini, Sang Khalifah, Abdul Qadir Baraja telah ditangkap polisi.

Untuk diketahui, wewenang Zulkifli di Khilafatul Muslimin mencakup seluruh NKRI. Sabang sampai Merauke berada di bawah kepemimpinannya, karena ia adalah Amir Daulah. Jadi kalau harus disejajarkan dengan struktur negara, ia setara Presiden Jokowi. Atau jika meminjam eufemisme manipulatif Muhammad Abudan, Amir Khilafatul Muslimin wilayah Jakarta Raya, Zulkifli memegang otoritas seluruh kepemimpinan keagamaan di seluruh Indonesia. Dahsyat!

Berikut struktur kepengurusan Khilafatul Muslimin Daulah Indonesia,

1. Amir Daulah   : Zulkifli Rahman
2. Katib Daulah   : Ahmad Muhammad Saleh (KSB)
3. Wuzara          :
a. Maliyah: Syahril M. Hamid (KSB)
b. Harrisul Maliyah: Syahril Hassan (KSB)
c. Iqtishadiyyah Wat Tadbiril Kasbi: Ammar M Khatib (Surabaya)
d. Muwaashalatil Ijtima’iyyah: Muhammad Mukhliyansyah (Priangan)
e. Da’wah Wabina’ul Ummah: Aminuddin (Surabaya)
f. As-Shihah: Muhammad Yusuf (Jawa Barat)
g. Tasjil Wat Taftisy: M. Ghulam Shidiq (Purwakarta)
h. Tarbiyah Wat Ta’lim: Asep Saefullah (Bumi Ayu/Jateng)

Siapa Zulkifli Rahman?

Ustaz Zulkifli Rahman lahir di Sumbawapada 7 Sya’ban 1387 H atau 9 November 1967. Pendidikan tingkat dasar ia tempuh di Sumbawa pada 1972-1978, SLTP di Mataram pada 1978–1982, dan SLTA di Pondok Modern Gontor pada 1982-1986. Sang istri bernama Zakiyah Baraja, dan bersamanya dikarunia lebih dari sepuluh anak; Munirah Afiah (1996), Ammar Muh. Naji (1998), Athiyah Zulfa (1999), Ahsan Shiddiqi (2001), Anas Faiq Qoswari (2003), dan lainnya.

Ustaz Zulkifli Rahman merupakan anak pertama dari pasangan Abdurrahman Al-Chatib (72) dan Syifa’ Baraja (56). Sang ayah adalah guru sekolah, sehingga Zulkifli kecil memang sudah terbiasa dengan dunia pendidikan, termasuk kebiasaan hidup nomadik sebagaimana lazimnya keluarga guru sekolah lainnya yang sering berpindah tempat tugas dari kampung satu ke kampung lainnya. Zulkifli hidup dan besar di lingkungan berpendidikan. Kecerdasannya bahkan terbukti ketika nyantri di Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Pesantren Modern Gontor.

Perkenalannya dengan Khilafatul Muslimin adalah setua Khilafatul Muslimin itu sendiri. Ketika Abdul Qadir Baraja mengeluarkan maklumat berdirinya Khilafatul Muslimin pada tahun 1997, Zulkifli serta merta menyambut dan mulai menggalang kesatuan ummat di bawah sistem khilafah, khususnya bagi jemaah binaannya di NTB-NTT. Padahal, waktu itu Sang Khalifah Baraja sendiri masih menjalani masa-masa akhir penjara atas kasus Bom Borobudur, yang baru resmi keluar pada awal tahun 2000.

BACA JUGA  Memberantas Maling-maling Agamis yang Mengeksploitasi Islam

Jadi ada dua hal utama yang wajib menjadi catatan tentang Zulkifli. Pertama, militansi tanpa batas terhadap kekhilafahan. Sebagai tokoh andal yang malang-melintang di organisasi kekhilafahan, Zulkifli punya misi primordial yaitu bersatunya seluruh umat dalam satu kepemimpinan Islam (wihdatul ummah wa al-imamah). Tidak lain, ialah bersatunya umat Islam di bawah satu panji, yaitu “Khilafah”. Dan militansi terhadap kekhilafahan tersebut tidak sporadis. Ia adalah pejuang khilafah sejati.

Kedua, siap menggantikan Abdul Qadir Baraja. Sebelum menjabat sebagai Amir Daulah Indonesia sejak tahun 2014, Zulkifli merupakan Amir Wilayah Nusa Tenggara yang terpilih secara aklamasi sejak tahun 2003 berturut-turut dan direstui langsung oleh pimpinan tertinggi alias Khalifah/Amirul Mukminin, Abdul Qadir Baraja. Maka ketika Baraja ditangkap, tentu Zulkifli sudah siap pasang badan jadi Amirul Mukminin menggantikan Baraja yang tengah ditahan kepolisian.

Haruskah Ditangkap?

Sebagai pejuang khilafah sejati, satu hal yang menarik dipahami dari sosok ustaz Zulkifli Rahman adalah ia tidak suka aliansi (al-tansiq). Jadi, perlu dipahami di sini bahwa lumrahnya, kelompok khilafah itu tidak independen. Mereka punya aliasi internasional. Misalnya, Jama’ah Islamiyah beraliansi dengan Al-Qaeda, Jama’ah Ansharud Daulah cs beraliansi dengan ISIS, dan Hizbut Tahrir Indonesia adalah semacam cabang dari Hizbut Tahrir internasional.

Menariknya, setiap aliansi beraksi secara terstruktur dengan pola pergerakan dan metode indoktrinasi yang sentralistis. Hal semacam itulah yang tidak disukai oleh Zulkifli Rahman. Ia tidak menghendaki aliansi sama sekali, sehingga dirinya rela hadir pada Kongres Mujahidin Indonesia I di Yogyakarta tahun 2000 namun langsung menarik diri setelah mengetahui bahwa kongres tersebut ternyata hanya membuahkan organisasi berbentuk aliansi, yakni Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).

Lalu di manakah ia relevan untuk dianggap sebagai calon pemberontak NKRI?

Itu bisa dilihat melalui dua indikator. Pertama, sepak terjangnya dalam dakwah kekhilafahan selama ini. Zulkifli Rahman pernah menyampaikan kegembiraannya ihwal suksesnya penyelenggaraan Syiar dan Silaturahim Kekhalifahan Islam se-Dunia 1440 H di Masjid Dian Al-Mahri alias Masjid Kubah Emas, Depok. Pada 2020 lalu, melalui Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah di Bekasi, juga digelar aksi terang-terangan bahwa mereka adalah generasi penegak khilafah. Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah berada di bawah naungan Khilafatul Muslimin, masih teritori Zulkifli.

Kedua, sosoknya yang tidak suka kompromi. Yang salah bagi Zulkifli adalah salah dan wajib dilawan. Bahkan jika itu datang dari kelompok yang sama-sama menarasikan penegakan khilafah, apalagi jika datang dari pihak yang memang anti-khilafah. Pemerintah NKRI dan seluruh umat Islam di Indonesia ia anggap bagian dari pihak terakhir tadi; penentang khilafah. Zulkifli mengakui, ia hanya tengah membentuk para mujahid dan mujahidah. Dan akan siap membrontak pada waktunya.

Jadi, haruskah sang calon pemberontak NKRI segera ditangkap? Negara lebih tahu apa yang mesti dilakukan. Di sini hanya memaparkan fakta-fakta Zulkifli, namun kebijakan ada di tangan otoritas terkait.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru