Khilafah Tidak Ada Dasarnya dalam Alquran maupun Hadis Sumber


0
349 shares

Harakatuna.com. Tangerang Selatan-Terlepas benar atau tidaknya kebenaran meme viral dari Din Syamsudin atas nama Dewan Pertimbangan MUI, Redaksi melalui Whatsapp, pada Sabtu (30/3), mendapatkan penjelasan dari Prof. Dr. KH. Quraish Shihab, penulis tafsir Alquran Al-Mishbah, tentang istilah khilafah dan khalifah dalam Alquran.

“Pertama, yang dimaksud dengan kata khalifah di Albaqarah adalah seluruh manusia yakni yang ditugaskan mengelola bumi sesuai tuntunan Allah. Ini jamaknya khalaif,baca antara lain surah Yunus 14  dan Al-An’am 165,” kata Quraish.

Lebih lanjut beliau menjelaskan, “Sedang yang di surah Shad 26, menyangkut pengangkatan Daud, adalah penguasa yang berwewenang mengatur satu wilayah, yakni kekuasaan politik.  Ini jamaknya khulafa. Itu sebabnya keempat khalifah dinamai Khulafa’ Arrasyidun.”

Kemudian dalam konteks kenegaraan, mengenai pengangkatan penguasa negara, beliau menjelaskan, “Kita berkewajiban terlibat dalam pengangkatan khalifah/penguasa negara, tetapi karena tidak ada penjelasan rinci tentang bentuk dan sistemnya, dan Khulafa’ Arrasyidun pun berbeda dalam menerapkannya, maka sistem khilafah (pengelolaan negara) diserahkan kepada masyarakat (ahlul hal wa al aqd).”

Sebagai kelanjutan dari penjelasan di atas, apabila dikaitkan dengan khilafah yang diusung oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), beliau menyimpulkan, “Karena itu khilafah yang diusung oleh HTI tidak ada dasarnya dalam Alquran maupun hadis. Walau membentuk kekhalifahan – dalam arti terlibat dalam penegakannya – bersifat wajib. Wa Allahu A’lam.”

 

Baca Juga:  Geliat Santri Jombang Belajar Budidaya Lele Sistem Bioflok

Like it? Share with your friends!

0
349 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
1
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
3
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.