26.9 C
Jakarta
Array

Khairuddin Pasya al-Tūnisī (1)

Artikel Trending

Khairuddin Pasya al-Tūnisī (1)
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Khairuddin Pasya al-Tūnisī (1)

Oleh: Prof. Dr. Muhammad Machasin, MA*

Ada dua orang terkenal dengan nama Khairuddin di salam sejarah Laut Tengah. Yang pertama adalah Kairuddin Barbarossa (Barberousse, Si Janggut Merah, 1470-1546), yang pernah menjadi gubernur Aljazair, menggantikan kakaknya Baba Oruç (بابا عروج)—konon dari nama inilah muncul nama Barbarossa atau Janggut Merah dalam bahasa Italia; kebetulan ia juga berjanggut merah—, sebelum diangkat menjadi Panglima untuk semua kekuatan Laut Turki Usmani di Laut Tengah. Lahir sebagai Khiḍr bin Yaʻqūb di pulau Lisbos, Yunani (saat itu termasuk wilayah Usmani) dari ayah berdarah Albania dan ibu berdarah Yunani. Nama Khairuddin merupakan pemberian Sultan Sulaiman al-Qānūnī (Sultan Usmani ke-10, 1520-1566).
Bersama dengan ketiga saudaranya (Oruç/ʻArūj, Ilyas, Ishaq) mula-mula berkiprah di Laut Tengah sebagai pelaut di pantai Timur, namun kemudian menjadi bajak laut yang mendapat mandat dari penguasa Usmani. Oruç dan Ilyas yang memulai, sementara Khidr dan Ishaq menyusul kemudian setelah Ilyas terbunuh dan Oruç tertawan di dalam ekspedisi ke Tripoli (Timur) Libanon. Setelah tiga tahun ditawan di Bodrum, Khidr berhasil membebaskan kakaknya ini. Oruç kemudian pindah ke Mesir dan dari sana melanjutkan aksi pembajakannya ke barat sampai ia menjadi penguasa di Algiers. Dua saudaranya akhirnya bekerja di bawah perintahnya. Bertiga mereka malang melintang di Laut Tengah bagian barat, menyerbu pantai-pantai Italia dan Spanyol serta Afrika Utara. Akan tetapi, dalam pertempuran di Tlemcen melawan pasukan Bani Zayyān dan Spanyol Oruç dan Ishaq terbunuh.
Khidr kemudian diangkat sebagai Panglima Tertinggi (Beylerbey) di wilayah barat Usmani mengganti Oruç oleh Sultan Salim dengan bantuan pasukan laut yang jauh lebih besar. Tidak lama kemudian Tlemcen pun dapat direbut kembali dari kekuasaan Spanyol. Kemudian Khidr melanjutkan penyerangan ke berbagai wilayah Italia, Perancis dan Spanyol dan memukul setiap serangan balik pihak lawan tanpa mengalami kekalahan. Akan tetapi keberhasilannya yang paling besar adalah ketika di berhasil mengangkut dengan aman lebih dari 70.000 orang Islam yang terusir dari Andalusia pada tahun 1529.
Pada tahun 1532 Khidr diangkat sebagai Admiral Besar Usmani di samping Beylerbey di Afrika Utara dan diberi gelar Khairuddin. Ia terus berperan dalam mempertahankan kekuasaan Usmani di Laut Tengah sampai ia menyerahkan tugasnya di Algiers kepada anaknya, Hasan Pasya, pada tahun 1545. Ia wafat setahun kemudian di Istanbul. Ia dikenang sebagai bajak laut dan admiral yang sangat ditakuti oleh pihak lawan; sementara di pihak Afrika Utara, ia diingat sebagai pendiri negara Aljazair dalam batas-batasnya yang ada sekarang.
Yang kedua adalah Khairuddin Pasya al-Tūnisī. Tidak dapat disebutkan dengan pasti kapan dan di mana dia dilahirkan oleh ibunya, kecuali bahwa ia berasal dari bangsa Circasia (Syirkasiah atau Jarkasiah) dari pegunungan Kaukasus antara Laut Kaspia dan Laut Hitam. Masa kecilnya dilaluinya sebagai budak belian di tangan Tahsin Bik, bangsawan di lingkungan istana Usmani, kemudian dijual kepada Ahmad Pasya, Bey (Gubernur) Usmani di Tunis (1837-1855) pada tahun 1839 dan tinggal di Tunisia. Karena itulah ia mendapatkan nisbah “al-Tūnisī”.
Di sini dia dimerdekakan dan belajar banyak ilmu dengan basis ilmu ketentaraan. Di antara ilmu yang dipelajarinya adalah bahasa Arab, fiqih dan tauhid. Dari para pelatih militer berkebangsaan Perancis ia belajar bahasa Perancis sehingga sangat lancar dalam bahasa ini.
Karier militernya cemerlang hingga ia menapak sampai ke puncak, namun karena kemampuannya berbahasa Perancis dan kepribadiannya ia dipercaya untuk memegang jabatan politik oleh Gubernur. Ini bermula dari kunjungan Ahmad Bey ke Perancis pada tahun 1855. Di dalam rombongan ini Khairuddin berperan—antara lain—sebagai penerjemah. Kemudian, ketika Tunis menuntut di pengadilan Perancis seorang pejabat yang lari dengan membawa banyak kekayaan negara ke Perancis, Khairuddin ditugasi memimpin delegasi penuntut dan hasilnya sangat memuaskan Bey, yakni bahwa Tunis memperoleh kembali tidak kurang dari 24 juta Frank.
Kemudian, ketika Bey diberi kewenangan untuk memerintah Tunisia secara otonom oleh Turki Usmani (1855), Khairuddin dipercaya sebagai menteri Urusan Kelautan atau menteri Urusan Perang. Dia pun melakukan pelbagai perbaikan, di antaranya perbaikan pelabuhan Ḥalaq al-Wādī dan membuat catatan mengenai semua pekerjaan di kementeriannya—yang pertama kali terjadi dalam sejarah Tunis. Kemudian ia membuat dok untuk pembuatan dan perawatan kapal, memperluas jalan-jalan.
Karyanya yang paling monumental adalah pembentukan Parlemen dan Konstitusi Tunisia. Keduanya merupakan yang pertama terjadi di dunia Islam tidak berhasil memperbaiki keadaan karena penentangan dari pihak-pihak yang terkurangi kekuasaannya dengan adanya lembaga demokrasi itu, dan akhirnya dihentikan.
Khairuddin pun kemudian mundur dari jabatan kenegaraan dan menulis karyanya yang berjudul Aqwam al-Masālik fī Maʻrifat Aḥwāl al-Mamālik (Jalan paling lurus untuk mengenali keadaan kerajaan-kerajaan). Setelah sembilan tahun bebas dari urusan pemerintahan, ia mau memimpin komisi pengurusan hutang luar negeri Tunis, lalu menjadi Perdana Menteri Tunis (1873-1877). Setelah berhenti sebagai Perdana Menteri Tunis, ia dipanggil ke Istanbul oleh Sultan Hamid II untuk menjadi Perdana Menteri Turki Usmani. Akan tetapi keadaan kekhalifahan ini sudah sedemikian lemahnya, sehingga semua usaha untuk membangkitkannya seperti menegakkan benang basah. Tidak sampai satu tahun ia menjabat dan setelah itu mengundurkan diri (1879), lalu menjalani kehidupan pribadi sampai meninggal tahun berikutnya di Istanbul.

*Penulis adalah Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, tinggal di Yogyakarta

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru