Kewajiban Orang Tua Kepada Anaknya


0
7 shares

Menjadi orang tua adalah sunatullah yang akan dialami oleh setiap manusia, bisa dikatakan orang tua karena ada anak yang memanggil mereka sebagai bapak atau ibu. Anak disini bisa bermakna anak kandung, anak didikan dan atau anak ideologis.

tugas utama orang tua kepada anaknya adalah membimbing anaknya kepada kesejahteraan dunia dan akhirat. Oleh karenanya untuk mencapai kesejahteraan tersebut Orang tua harus mampu membimbing dan mengajari anaknya baik dalam hal pengetahuan maupun akhlak.

Disamping membimbing kepada pengetahuan dan akhlak, kewajiban orang tua lainya yang tak kalah pentingnya yaitu memenuhi kebutuhan sang anak, baik dalam aspek rohani dan jasmani.

Salah satu kebutuhan anak dalam hal jasmani sekaligus rohani adalah bermain. Sudah menjadi tabiat seorang anak untuk menyukai bermain. Oleh karenanya sebagai orang tua harus mampu membimbing anak yang suka bermain ini kepada pembelajaran yang mengarah kepada pengetahuan dan akhlak, sehingga seorang anak dalam bermainnya bisa sambil belajar. 

Melihat hal yang demikian maka suatu keharusan bagi orang tua untuk menemani anak-anaknya bermain, nabi Muhammad pernah bersabda “barang siapa yang mempunyai anak hendaklah ia menjadi anak pula”. Maksud menjadi anak pula dalam perkataan ini nabi adalah hendaklah sebagai orang tua mampu memahami, menjadi sahabat dan teman bermanin anaknya. Oleh karenanya tak jarang, banyak diantara orang tua yang bersikap seperti anak agar anaknya itu terdiam dari tangisnya, atau agar sang anak mampu tertawa ria. Bahkan banyak disaksikan pula dalam kehidupan ini seorang bapak yang menjadi kuda untuk di naikin anaknya. Dan juga seorang ibu yang menyisir rambut boneka agar bisa menemani anaknya bermain. 

Walaupun orang tua harus menjadi seorang anak kembali untuk bisa menemani anaknya bermain akan tetapi orang tua tidak pernah merasakan Lelah, justru mereka merasa bahagia bisa melihat anaknya bermain dengan senyum dan tawa ria. Kewajiban orang tua untuk bermain rersama anaknya ini sesuai apa yang diperintahkan oleh nabi Muhammad “barang siapa memiliki anak hendaklah ia bermain bersamanya.

Akan tetapi fenomena-fenomena terakhir ini banyak sekali orang tua yang sibuk bekerja, siang malam mereka memeras keringat untuk mencukupi keluarga, sehingga mereka tak sempat untuk mengurus anaknya, dan malah menyerahkan pendidikan anaknya kepada seorang pembantu. 

Mereka berdalih bekerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan sang anak, akan tetapi pada kenyataannya mereka hanya memenuhi kebutuhan lahir saja, dan mengabaikan kebutuhan ruhani anak. 

Hal yang sedikit melegakan adalah ada orang tua yang walaupun sibuk dengan pekerjaannya mampu meluangkan sedikit waktunya untuk bermain dengan anaknya walaupun di akhir pekan saja. Hal ini lebih baik daripada mereka mereka yang tidak meluangkan waktunya sama sekali.

Orang tua yang hanya memenuhi kebutuhan jasmani anaknya, tak sedikit anak-anaknya yang terjerumus dalam hal yang negatif. kurangnya kasih sayang dan waktu bermain dengan orang tua membuat mereka mencari permainan dan hiburan baru. Hiburan baru tersebut akhirnya mengarahkan mereka pada perilaku dan tindakan negatif.

Hal yang menjadi kekurangtepatan ajaran orang tua terhadap anaknya adalah mereka memaksankan anaknya untuk menjadi seperti dirinya. Muhammad Qurais Shihab menyatakan ada sebagian orang tua yang atas nama cinta kepada anaknya, malah mengarahkan anaknya untuk menjadi seperti dirinya, membebaninya dengan beban yang tidak terjangkau oleh dunia anak-anak bahkan bertentangan dengan bakat dan kecenderunganya, dengan bangga, sang ayah dan ibu memamerkan kemampuan sang anak yang saat itu bukan pada usianya, sang anak ketika itu sedang dibunuh oleh orang tuanya sendiri.

Perlu diketahui anak bukanlah kelanjutan sifat, profesi dan kepribadian orang tuanya. Mencintainya adalah dengan menumbuhkembangkan bakat dan kepribadianya bukan malah memaksanya untuk menjadi seperti yang diinginkan orang tuanya.

Oleh karena hal yang demikian, membimbing anak dengan menemaninya bermain adalah suatu kewajiban orang tua kepada anaknya yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Nabi bersabda siapa yang menggembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya, dan siapa yang bergurau untuk menyenangkan hati anaknya, makai ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah. 

Baca Juga:  Kisah Teladan Menjaga Perasaan Perempuan

Like it? Share with your friends!

0
7 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka