30.5 C
Jakarta

Ketika Perempuan Berpistol Dekati Istana; Terorisme pada Perempuan Semakin Kuat

Artikel Trending

KhazanahTelaahKetika Perempuan Berpistol Dekati Istana; Terorisme pada Perempuan Semakin Kuat
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Beberapa waktu lalu, tepatnya pada selasa (25/10/2022), masyarakat dikejutkan dengan kabar perempuan yang mencoba menodongkan senjata api ke pasukan pengamanan presiden (Paspampres). Perempuan ini kemudian ditangkap karena mencoba menerobos istana merdeka. Berdasarkan penjelasan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), perempuan ini bernama Siti Elina. Ditelusuri lebih jauh, ia merupakan sosok pendukung ormas radikal yang sudah dilarang oleh pemerintah yakni HTI. Hal ini berdasarkan penjelasan R Ahmad Nurwakhid, Direktur Pencegahan BNPT.

“BNPT sedang melakukan koordinasi intensif dengan aparat penegak hukum untuk memastikan apakah pelaku bagian dari jaringan terorisme atau pelaku tunggal,” kata Nurwakhid.

Tidak hanya itu, dalam setiap postingan media sosial pribadinya, perempuan ini terlibat aktif untuk mengkampanyekan khilafah bagi negara Indonesia dan bisa menjadi salah satu alasan yang cukup kuat untuk membuktikan bahwa, aksi yang dilakukan tersebut bisa berdasarkan motif ideologi yang tertanam dalam diri tentang negara dan pemerintahan bukan Islam yang diterapkan di Indonesia.

Bagaimana pengaruh terorisme pada perempuan?

Menanggapi peristiwa yang dilakukan oleh Siti Elina ini, masuk dalam kategoru terorisme. Hal ini berdasaarkan arti dari kata terorisme itu sendiri. Terorisme diartikan sebagai penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik); praktik tindakan teror. Penggunaan senjata dimiliki oleh Siti Elina, menjadi indikator bahwa upayanya adalah sebagai tindakan teror. Adapun motif tindakan teror salah satu kuatnya adalah agama. Pemahaman agama yang keras dan keukeuh untuk mendirikan negara Islam, menjadi salah satu motif besar kerentanan seseorang untuk menjadi teroris.

Nurwakhid juga menyampaikan bahwa, pemanfaatan perempuan dalam aksi terorisme memang tren baru khususnya yang dilakukan ISIS baik dilakukan dengan jaringan atau lone wolf yang tidak terikat komando dan jaringan. Seperti yang kita ketahui bahwa, sebelum aksi Siti Elina, Dian Yuli Novi, calon pengantin yang ingin melakukan aksi teros di istana juga terjadi. Tidak hanya itu, pada 2021 lalu, ada Zakia Aini yang menyerang Mabes Polri. Dari sinilah bisa kita ketahui, motif agama yang melatar belakangi sikap nekatnya tersebut, bisa dilakukan atas dasar organisasi yang diikuti, ataupun ideologi yang tertanam dalam dirinya. Pemikiran tersebut bisa lahir dari lingkungan organisasi, ataupun bahan bacaan yang dimiliki.

BACA JUGA  Dakwah di Lapas oleh Mantan HTI: Proyek Masterpiece Aktivis Khilafah

Keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme menjadi tren baru yang sangat masif beberapa waktu belakangan ini. Hadirnya perempuan yang menjadi aktor utama menciptakan budaya baru dalam aksi terorisme pada perempuan. Pelaku teror yang biasanya identik dengan bentuk maskulinitas dan diwujudkan dengan hadirnya lak-laki, kini perempuan juga bisa menjadi pelaku yang berada di garda terdepan. Hal ini juga diperkuat oleh Lies Marcoes dalam bukunya bahwa, beberapa perempuan yang mendukung aksi terorisme berupaya sekuat tenaga untuk menciptakan tentara-tentara Tuhan dengan memproduksi anak sebanyak-banyaknya. Sebagian yang lain justru berada di garda terdepan untuk melakukan upaya keji itu.

Dalam konteks ini, ketika seorang perempuan dicuci otak dengan pemahaman Islam radikal, para perempuan bisa dengan militan menjalankan misinya, bahkan lebih militan dari laki-laki , sejumlah doktrin kunci dalam pemahaman Islam radikal sungguh memukau mereka yang baru mengenal Islam atau kelompok Islam yang sedang mencari kebermaknaan hidup

 Berantas!

Kehadiran perempuan yang menjadi aktor utama dalam upaya terorisme sangat penting untuk dilihat sebagai bagian dari tantangan pemberantasan terorisme. Tantangan ini perlu dilihat oleh pemangku kebijakan untuk memaksimalkan upaya preventif yang bisa dilakukan agar tidak banyak lagi perempuan yang terlibat dalam aksi teroris. Tidak hanya itu, upaya yang dilakukan untuk menghadapi masalah seperti Siti Elina ini, perlu dilihat sebagai masalah yang sangat kompleks untuk melakukan proses deradikalisasi. Proses ini sangat penting dilalui oleh seseorang yang memiliki pemahaman teror untuk menetralkan pikiran-pikiran yang dimilikinya.

Tentu, upaya ini akan berjalan maksimal apabila pelaku juga menyadari bahwa proses deradikalisasi kepada dirinya sangat penting sehingga terhindar dari pemahaman radikal. Apabila pelaku tidak mau ataupun tetap keukeuh terhadap kebenaran tunggal yang dimiliki, upaya deradikalisasi menjadi sia-sia karena tidak ada sportifitas yang tercipta. Wallahua’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru