31 C
Jakarta
Array

Ketika Mufti HTI Emosi Pada Makmun Rasyid

Artikel Trending

Ketika Mufti HTI Emosi Pada Makmun Rasyid
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Ketika Mufti HTI Emosi Pada Makmun Rasyid

Harakatuna.com. Yogyakarta. The Alfalah Institute kembali menggelar acara yakni dialog publik. Tema yang diusung tetap sesuai visinya, yakni menyemarakkan wacana keislaman dan keindonesiaan. Namun, berbeda dengan gelaran dialog sebelumnya, kali ini dihadirkan dalam format bedah buku. Adapun buku yang dibedah bertajuk Hizbut Tahrir Indonesia; Gagal Paham Khilafah, yang ditulis oleh seorang akademisi muda NU, Muhammad Makmun Rasyid.

Bedah buku ini berhasil mendatangkan tiga orang pembicara, pertama Makmun Rasyid selaku penulis buku. Kedua Ust. Siddiq al-Jawwi dari DPP HTI. Dan yang ketiga, Dr. Al Makin, dosen pasca-sarjana UIN Sunan Kalijaga. Hadirnya Shiddiq al-Jawwi sepertinya memang sudah sangat dinantikan, ini bisa dilihat pada animo peserta yang meningkat saat Shiddiq memasuki ruangan. Kendati ia datang terlambat, iringan tepuk tangan tetap meriah menyambutnya.

Selain itu, bedah buku yang dilaksanakan di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga tersebut mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Ini terbukti dengan membeludaknya jumlah peserta yang datang membanjiri lokasi bedah buku. Bahkan ada beberapa peserta yang rela berdiri demi mengikuti jalannya acara bedah buku tersebut.

 Diskusi berjalan lancar, tanpa ketegangan. Meski beberapa kali Shiddiq sempat terbawa emosi saat merespon argumentasi Makmun Rasyid.

Ia bahkan sempat mengatakan bahwa “buku yang ditulis saudara Makmun ini adalah sampah. Karena metodologi yang ia pakai adalah metodologi sampah, maka outputnya pun demikian.” Pernyataan Shiddiq tersebut sontak membuat sebagian peserta merespon dengan melontarkan ejekan terhadap pernyataannya yang terkesan apologetik itu.

Sebelumnya, Makmun Rasyid telah menegaskan bahwa ketika HTI merespon argumentasi yang kontra pada ideologi yang diusungnya, mereka cenderung apologetik ketimbang akademis. Ia juga menyatakan, “dalil-dalil Al-Quran maupun Al-Hadis yang digunakan HTI dalam memahami konsep Khilafah cenderung parsial. Artinya, mereka memahami ayat-ayat dan hadis-hadis terkait khilafah tidak secara komprehensif. Sehingga pemahaman mereka tentang khilafah merupakan pemahaman yang kurang tepat.”

Ketika Shiddiq merespon argumentasi Makmun Rasyid, jalannya diskusi sempat menyerupai debat kusir. Diskusi menjadi semakin hangat setelah Al Makin, sebagai pembicara pembanding, berargumentasi secara menggebu-gebu. Menurutnya, buku Makmun Rasyid tersebut perlu digandakan sebanyak mungkin, guna menyadarkan khalayak akan pentingnya bersikap kritis terhadap segala yang mengkritisi Pancasila. Ia juga menegaskan bahwa “HTI kerapkali terjebak pada pseudo-sains. Hal tersebut bisa dilihat pada pemaparan-pemaparan apologetik tadi”, jelasnya. (Ifan)

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru