29 C
Jakarta

Ketika Amarah Eppa’ Tumpah (Bagian XLVII)

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Revolusi Akhlak Butuh Wali Mursyid Bukan Imam Besar

Pidato Rizieq Shihab pada acara Reuni Aksi Bela Islam 212 kemarin, terlihat daya juang Rizieq Shihab mulai melemah. Dari suaranya, seperti orang sedang sakit....

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Malam ini Eppa’ memanggil Emma’ dengan nada yang tinggi. Nada suaranya tidak seperti biasanya seakan ada sesuatu yang mengusik kepribadiannya.

“Keparat!” kata Eppa’ dengan nada geram dan raut muka yang memerah.

Emma’ membatin: Eppa’ marah!

“Fairuz.” Eppa’ berkata dengan kata yang tercekat. Kemarahannya seakan mencekal mulutnya berbicara.

Fairuz belum terlihat batang hidungnya. Biasanya dia masih mengisi tausyiah di perkumpulan masyarakat di desanya sendiri.

“Kenapa dengan Fairuz?” Emma’ menenangkan Eppa’ dan mendinginkan suasana yang sedang membakar amarah Eppa’. Emma’ menghelus pundak Eppa’. Tapi, amarah itu belum kunjung pudar.

“Fairuz dengar-dengar disakiti hatinya oleh perempuan yang sering ia ceritakan.” Baris kalimat ini sudah menjawab rasa penasaran kenapa Eppa’ marah. Eppa’ tidak mau anak semata wayangnya disakit, apalagi dia tidak salah.

Dimmah tang sade’?, Mana celurit?” pinta Eppa’ dengan bahasa Madura yang kasar.

“Pa’!”

Sade’.”

“Istighfar, Pa’.”

Emma’ menarik tangan Eppa’ yang berdiri dengan amarahnya mencari celurit untuk menemui keluarga Diva.

Sade’.”

Amarah Eppa’ tak dapat dibendung. Dia tidak mempedulikan jeritan Emma’ yang tersungkur mencegah Eppa’ melakukan carok.

“Eppa’ mau carok? Pergi sana! Pergi! Jangan kembali lagi ke sini. Jangan salahkan aku kalo pergi dari sini juga.”

Baru kali ini Emma’ berkata lantang seumur-umur. Baru kali ini juga Emma’ berani menantang Eppa’. Mendengar kata-kata Emma’, Eppa’ menghentikan langkahnya seakan amarah yang menyulut emosinya pudar pelan-pelan.

Emma’ meneruskan, “Ingat Fairuz. Fairuz sudah besar. Fairuz sudah menjadi orang terdidik, dipercaya masyarakat, dan sudah menyelesaikan pendidikan sarjana. Fairuz bakal malu melihat orangtuanya melakukan carok, karena masalah sepele.”

“Sepele?” Sanggah Eppa’.

“Ya, sepele. Setiap masalah jangan pikir besar, seakan Eppa’ tak punya Tuhan. Sebesar apapun masalah tetap terlihat kecil bila disandarkan kepada Tuhan.”

Eppa’ tak berani berkata-kata lagi. Kalimat Emma’ telah memadamkan amarah yang menyulut emosinya. Saat itu celurit yang sedang digenggamnya terlepas dengan sendiri. Celurit itu jatuh dan tergeletak di atas lantai.

Seketika Eppa’ meninggalkan Emma’ dan melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu’. Setan yang telah membisikkannya berbuat tindakan bodoh menghindar. Selepas wudhu’ baru sadar setan telah menghasutnya.

* Tulisan ini diambil dari buku novel “Senja Berbalut Rindu” (Dwilogi Novel “Mengintip Senja Berdua”) yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ulama Harus Tunjukkan Sikap dan Perilaku yang Baik

Harakatuna.com. Jakarta - Dakwah hakikatnya adalah mengajak kepada kebaikan, maka mengajak kepada kebaikan harus dengan cara yang baik. Seperti itulah metode yang dilakukan para...

Tiga Amal Saleh Yang Menyelamatkan Anda

Dalam sebuah hadis yang yang riwayatkan oleh Bukhori dan Muslim terdapat sebuah kisah yang menakjubkan. Yaitu selamatnya tiga orang yang terjebak dalam gua lantaran...

Gabungan TNI dan Polri Tangkap Kelompok Teroris MIT di Kabupaten Sigi

Harakatuna.com. Sigi - Hingga sepekan pascaserangan terorisme di Desa Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi, aparat gabungan TNI dan Polri mengintensifkan pengejaran kelompok teroris MIT. Tak hanya...

Agar Tidak Bosan Saat Menulis

Writer’s block, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh psikoanalis Edmund untuk menggambarkan keadaan penulis yang tidak bisa menggambarkan apapun dalam tulisannya. Situasi seperti ini hampir...

Islam Otentik Menolak Separatisme

Usaha membendung arus separatisme dan radikalisme  tidak bisa dilakukan hanya dengan menolak paham separatisme radikal atau menangkap pelaku teror. Melainkan memerlukan sebuah aksi pemerintah...

Palestina Gugat Bahrain Tentang Kebijakan Impor dari Permukiman Israel

Harakatuna.com. Tel Aviv - Kebijakan impor Bahrain dari Israel tidak akan dibedakan antara produk yang dibuat di Israel dan produk dari permukiman di wilayah pendudukan. Menteri Perdagangan, Industri...