25.7 C
Jakarta

Keterasingan Diri dalam Keluarga: Potensi Seorang Anak Masuk dalam Pusaran Radikalisme

Artikel Trending

KhazanahTelaahKeterasingan Diri dalam Keluarga: Potensi Seorang Anak Masuk dalam Pusaran Radikalisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Jauh sebelum kita memiliki ruang cukup luas untuk berekspresi, mengemukakan pendapat di hadapan khalayak, dengan adanya media baru, yang dikenal dalam wujud media sosial, Erich Fromm, seorang tokoh psikoanalisis humanis, anggota madzhab Frankrut pernah mengkritik keterasingan diri pada manusia modern. Manusia modern adalah manusia yang hidup penuh dengan hal instan di sekelilingnya dan menciptakan obesitas kebutuhan atau kebutuhan tanpa henti.

Salah satu kasus misalnya penggunaan saputangan. Manusia modern, kini tidak lagi menggunakan saputangan, akan tetapi beralih pada penggunaan tisu. Padahal, secara penggunaan, saputangan tidak akan menimbulkan sampah berlebihan karena penggunaannya dalam jangka panjang. Sedangkan tisu, penggunaannya hanya sekali pakai. Ketika semua orang menggunakan tisu, berapa banyak sampah tisu yang dihasilkan oleh para warung makan? Penggunaan pribadi hingga penggunaan hotel, serta transportasi umum dalam sehari jika dikumpulkan? Sederhana memang, tapi inilah yang disebut Erich Fromm, ketidakberdayaan manusia modern dalam memilih sesuatu yang cermat.

Tidak hanya itu, Erich Fromm mengkritik manusia modern sebagai orang yang terasing. Mengapa ia terasing? Menurut Hegel, keterasingan tersebut disebabkan kondisi manusia dengan roh absolut dalam proses dialektika. Freuerbach mendefinisikan keterasingan sebagai keadaan manusia yang mempercayahi adanya Tuhan. Dalam artian, Tuhan hanya proyeksi dari manusia. Sementara itu, Karl Marx mendefinisikan keterasingan berhubungan dengan keadaan sosial ekonomi masyarakat.

Menurut Erich Fromm keterasingan tersebut bisa dilihat dari bagaimana pelampiasan rasa bosan yang dilakukan oleh manusia modern. Ruang semu yang diciptakan oleh manusia modern, menjelma sebagai ruang ekspresi yang mengikat manusia untuk tampil lebih baik di antara yang lain.  Keterasingan/alienasi bisa saja dialami oleh setiap orang modern masa kini. Betapa banyak informasi yang bisa kita peroleh untuk mengetahu sesuatu, akan tetapi pengetahuan tersebut justru tidak memberikan kebermanfaatan, melainkan membuat manusia terdistraksi dengan pengetahuan itu. Dalam konteks beragama, betapa banyak para ustaz, penceramah, memaparkan pandangan agama, tapi nyatanya justru menciptakan kebencian pada yang mendengarkan, sehingga esensi agama tidak lagi menjadi sumber kedamaian, justru sebaliknya.

Keluarga: basis utama pencegahan radikalisme

Melihat fenomena keterasingan diri, sudahkah kita bertanya pada diri sendiri, “apakah kita merasa terasing.” Dalam konteks beragama, betapa banyak seorang anak merasa terasing dalam keluarganya sehingga ia tidak menemukan dirinya dalam keluarga dan memilih untuk mengikuti pemahaman agama yang lain. Salah satu contoh konkritnya adalah Dania, remaja yang terlibat gerakan terorisme dan memilih pergi ke Suriah. Alasan utama mengapa ia justru tertarik kepada gerakan tersebut karena menawarkan kenyamanan, dan pemahaman agama yang sebelumnya, belum pernah ia dapatkan di keluarganya.

BACA JUGA  Eksistensi Fatih Karim dan Fenomena Artis Hijrah ke HTI

Dania adalah contoh utama, sikap seorang anak yang terasing dalam keluarganya dan menemukan ruang baru dalam beragama kemudian tertarik untuk mengikuti gerakan yang menawarkan kenyamanan. Kasus ini bisa dilihat bahwa, keterasingan anak di keluarga, dapat menjadi penyebab seorang anak masuk dalam pusaran gerakan radikalisme. Bagaimanapun, orang tua adalah basis utama seorang anak untuk mencari dan mendapatkan kenyamanan, ketenangan dan keamanan yang tidak didapatkan pada lingkungan di luar keluarga.

Apabila anak tidak mendapatkan hal tersebut dalam keluarga, maka menjadi hal wajar apabila ia tergerus dalam gerakan radikalisme yang menawarkan kenyamanan lebih besar. Nihilnya peran orang tua dalam memberikan keamanan, kenyamanan dan menjadi ruang aman bagi anak, berpengaruh besar terhadap kehidupan anak dalam mencari jati dirinya. Dengan demikian, penguatan peran keluarga dalam upaya pencegahan radikalisme sangat diperlukan.  Keluarga adalah basis utama dalam benteng radikalisme. Maka dari itu, peran keluarga sebagai pendidikan utama tidak hanya bermakna sebagai pemenuhan hak untuk hidup. Akan tetapi, hak untuk mendapatkan pendidikan agama yang layak, juga menjadi kewajiban keluarga dalam mendidik seorang anak.

Munculnya kelompok-kelompok Islam yang melakukan distorsi dalam memahami ajaran agama, bertebaran di media sosial. Bagaimanapun, anak akan mengonsumsi ajaran tersebut dengan mentah-mentah. Apabila tidak dibentengi dengan pemahaman agama yang kuat, sangat mudah sekali untuk tergerus pada ajaran tersebut. Tidak hanya itu, keterasingan yang dialami oleh seorang anak dalam mengonsumsi informasi di media sosial, membutuhkan peran keluarga sebagai ruang aman. Melalui pemaknaan ini, maka orang tua masa kini perlu untuk mempersiapkan diri dengan pengetahuan literasi teknologi yang cakap dan cukup untuk menciptakan ruang bermedia sosial bagi anak di dalam keluarga.

Lebih dari itu, orang tua masa kini perlu melihat anak sebagai partner, teman, yang memberikan rasa aman kepada anak untuk berbagi apapun. Dengan demikian, apabila peran keluarga sudah kuat, maka seorang anak tidak akan tergerus dan masuk dalam pusaran radikalisme.

Sumber bacaan:

Martinus Satya Widodo, “Cinta dan Keterasingan  dalam Masyarakat Modern,” (Jakarta: Narasi), 2005.

Ahmad Hamdani, Peran Keluarga dalam Menangkal Radikalisme, JSGA: Journal Studi Gender dan AnakVol.8, No.2., Thn. 2021

A.Syafi’ AS. Radikalisme Agama(Analisis Kritis dan Upaya Pencegahannya Melalui Basis Keluarga Sakinah) Sumbula Vol. 2., No.1, thn. 2017.

 

 

 

 

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru