Kerancuan Tafsir Sensitif Memahami “Celotehan” Andre Taulany


0
47 shares

Belum lama isu penistaan agama kembali mengguncang masyarakat Indonesia. Pihak terkasus adalah Andre Taulany, seorang komedian papan atas. Seperti identitasnya, komedian berusaha menghibur penonton, sehingga mereka tertawa secara natural, karena terhibur. Membuat orang tersenyum, apalagi tertawa, bukan sesuatu yang mudah. Semua itu membutuhkan proses yang panjang dan berdarah-darah.

Andre keseleo lidah mengucapkan, “Itu badan atau kebon?!”. Perkataan ini merefes pada manusia agung Nabi Muhammad Saw. Sebagai negara dengan mayoritas muslim, masyarakat Indonesia merasa tersinggung mendengar agamanya dinista, dicaci, atau dicela, sehingga muncul protes demi protes dari satu pihak sampai memproses Andre di meja hukum.

Kasus Andre tidak jauh berbeda dengan kasus Ahok yang beberapa tahun silam tertuduh sebagai penista agama terkait penafsiran surah al-Maidah 51. Isu penistaan agama selalu menjadi topik hangat dan trending. Hal ini mengindikasikan masyarakat Indonesia benar-benar sensitif bilamana dihadapkan pada persoalan agama. Mungkin, agama menjadi sesuatu yang sakral dan tak terbantahkan kehadirannya.

Sikap sensitif merupakan sesuatu yang kurang baik. Biasanya orang sensitif memprioritaskan kebenaran secara subjektif, bukan secara objektif, sehingga kebenaran adalah penafsirannya sendiri dan kesalahan adalah penafsiran orang lain. Padahal, tafsir itu terbuka untuk semua pihak, sehingga penafsir punya medan yang luas untuk menuangkan gagasannya tanpa memonopoli kebenaran, karena kebenaran tidak hanya satu, bisa jadi banyak. Tafsir sensitif pada hakikatnya bukanlah tafsir, tetapi “penyusup” dalam tafsir atau lebih sering disebut dengan “ad-Dakhil fit Tafsir” (Tafsir Infiltratif).

Tafsir yang dikategorikan ad-dakhil, salah satunya, tafsir Syiah yang memahami surah Tabbat ayat 1 tepatnya pada frase “yada Abi Lahab” dengan dua sahabat, Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Karena itu, yang celaka adalah sahabat Abu Bakar dan Umar. Tafsir ini dinilai ad-dakhil karena terlalu sensitif menampakkan ketidaksukaannya kepada dua sahabat ini, karena mereka berdua diklaim merebut kepemimpinan Ali bin Abi Thalib yang seharusnya meneruskan kepemimpinan Nabi Muhammad setelah beliau wafat. Sebab, secara genetik Ali adalah sepupu dari Nabi Muhammad dan seharusnya pihak keluarga sendiri yang seharusnya meneruskan kepemimpinan beliau. Sedangkan, Abu Bakar dan Umar tidak memiliki ikatan genetik dengan Nabi Muhammad. Mereka berdua hanya sahabat yang dekat dengan Nabi.

Baca Juga:  Bughot Dengan Bertopeng Kalimat Tauhid

Tafsir sensitif dilatarbelakangi oleh beragam motivasi. Salah satunya politik. Dalam tafsir al-Kasysyaf sendiri az-Zamakhsyari banyak mengkritik Sunni, karena sekte ini tidak sepaham dengan sekte yang dia anut. Az-Zamakhsyari menganut Sekte Muktazilah. Sunni memandang teks (nash) dan rasio tidak dapat disejajarkan, namun teks lebih didahulukan daripada rasio. Beda hal, Muktazilah lebih mendahulukan rasio dibandingkan teks. Di samping itu, Muktazilah merupakan kelompok yang memisahkan diri dari kelompok Sunni karena ketidakpuasan dalam meja perdebatan.

Menyangkut kasus Andre Taulany semua itu berkutat pada persoalan tafsir sensitif. Tafsir yang tertutup akan sangat mudah menyudutkan sikap Andre berada pada posisi yang salah dan sesat. Biasanya tafsir semacam ini tidak melihat motivasi di balik teks atau ucapan yang disampaikan Andre. Berbeda, tafsir yang terbuka akan selalu hati-hati mengambil konklusi (natijah), sehingga dilihatlah kronologis (asbabun nuzul) ucapan tersebut, baru dihasilkan konklusi.

Selain itu, tafsir sensitif biasanya dibumbuhi isu politik. Secara historis kasus Andre merebak tidak lama setelah kasus istrinya yang kurang lebih mengkritik pedas capres Prabowo-Sandi. Kampret tidak menerima ktitik tersebut, sehingga kritik ini dinilai bukan masukan, namun hate-speech. Gugatan demi gugatan disampaikan, namun belum membuahkan hasil yang memuaskan, sehingga dicarilah kesalahan Andre. Sebagai klaim hadis yang menyebutkan bahwa manusia adalah tempat salah (khatha’) dan lupa (nisyan), ditemukanlah video yang sudah beberapa bulan silam menyangkut “celotehan” Andre di layar kaca yang dinilai menista agama.

Tafsir sensitif berbalut politik ini belum bisa diterima sebagai tafsir yang objektif. Karena kebenaran bukan dikembalikan kepada kesepakatan bersama antara penutur teks (author) dan penafsir (exegete). Tafsir sensitif hanyalah tafsir yang didasarkan pada egoisme sehingga kebenarannya terbatas pada diri sang mufasir. Memang, subjektifitas mufasir tidak dapat dimungkiri ada dalam setiap hasil penafsiran. Namun, tafsir yang baik akan selalu berusaha mendahulukan sikap objektif dibandingkan sikap subjektif.

Baca Juga:  Dilema Konseptual Khilafah HTI: Sebuah Ketergesaan Kesimpulan (3)

Kendati dihujat, Andre selalu menjadi pribadi yang menyadari kesalahannya dan tidak segan meminta maaf. Anehnya, masih banyak pihak yang belum memaafkan, padahal Tuhan saja membuka pintu taubat lebar-lebar bagi manusia yang benar-benar menyesali kesalahannya (taubah an-nashuhah). Jadi, siapa yang tidak memaafkan saudaranya sendiri yang meminta maaf, telah melebihi otoritas Tuhan yang Maha Pemaaf (al-Ghafur). Naudzu billah tsumma naudzu billah![] Shallallah ala Muhammad.


Like it? Share with your friends!

0
47 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
2
Suka
Khalilullah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Peneliti Pendidikan Kader Mufasir (PKM) Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) Jakarta