27.6 C
Jakarta

Keniscayaan Perdebatan Wacana Islam

Artikel Trending

KhazanahPerspektifKeniscayaan Perdebatan Wacana Islam
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Keberadaan para sarjana Islam muda lulusan dari luar negeri yang tidak mendapat tempat di organisasi-organisasi keislamaan besar, sehingga belum memiliki kantong massa, adalah sebuah keniscayaan. Namun, di era digital seperti sekarang ini, mereka memanfaatkan dunia maya berbasis internet, untuk memulai berdakwah dan menunjukkan eksistensi diri.

Pada satu titik, mereka kerap melontarkan kritik terhadap organisasi-organisasi besar, maupun para intelektual yang sudah lebih dulu populer. Cara ini membuat yang bersangkutan lebih cepat ”diviralkan” dan terkenal.

Yang dikritisi, salah satunya, adalah wacana yang dilontarkan oleh organisasi besar maupun intelektual Islam senior yang dimaksud. Mereka yang merupakan intelektual baru lulusan luar negeri, sebagai pencetus narasi kecil, berhadapan dengan narasi besar yang disampaikan oleh organisasi besar atau mubaligh/da’i yang lebih senior.

Dua belah pihak, kerap kali terlibat kontestasi wacana di media digital. Baik secara sengaja melalui perdebatan terbuka, maupun secara tidak sengaja, karena ”diadu” oleh warganet. Salah satu wacana yang sempat menjadi perdebatan adalah konsep Islam Nusantara. Ada pula, konsep kafir dan non-Muslim yang sempat merebak awal tahun 2019 lalu.

Studi tentang pertarungan antara narasi besar dan narasi kecil ini bertolak dari pandangan Jean Francois Lyotard (1979) tentang ancaman keruntuhan narasi besar atau Grand Narative. Narasi besar yang dimaksud adalah cerita besar tentang topik tertentu yang memiliki fungsi universal, legitimasi, dan menjadi landasan kehidupan masyarakat pada umumnya.

Cerita besar itulah yang selama ini dipercaya kebenarannya. Definisi tentang kemajuan, kebebasan, struktur sosial dan emansipasi yang ratusan tahun sudah diyakini keabsahannya, akan dipertanyakan oleh definisi-definisi baru yang bisa jadi memiliki makna berbeda dengan sebelumnya. Sama halnya seperti nasib agama yang seiiring waktu berjalan dipertanyakan fungsi dan orisinalitasnya oleh penganutnya sendiri.

Keruntuhan yang disebutkan Lyotard adalah imbas dari zaman Postmodernisme, di mana semua orang bisa menciptakan narasi kecil versinya sendiri, sebagai narasi tanding, dan melontarkan gagasan itu di ruang publik. Artinya, narasi besar dan narasi kecil itu bisa berada pada satu panggung yang sama, untuk saling mengkritisi maupun melegitimasi dirinya sendiri.

Masyarakat umum yang awalnya hanya diperlihatkan tentang satu narasi, memiliki alternatif pandangan lain yang lebih banyak. Masa postmodernisme yang dipercaya oleh Lyotard tidak lepas dari pesatnya kemajuan teknologi yang telah dia prediksi sejak saat dicetuskannya pemikiran ini.

Artikel ini memang tidak mengaji tentang keruntuhan satu narasi besar secara frontal, namun lebih kepada membahas bagaimana sebuah narasi besar yang telah mapan bisa diserang dan “diancam” oleh narasi-narasi kecil yang baru tumbuh dengan leluasa.

Di lain pihak, narasi-narasi tentang satu topik dengan aneka definisi yang kemudian menjadi wacana di masyarakat, terus berkembang dan berkontestasi satu sama lain. Sementara itu, Jurgen Habermas (1996) mengatakan, wacana yang dilontarkan untuk diperdebatkan di masyarakat, mesti memenuhi setidaknya lima hal.

BACA JUGA  Instansi Pemerintah Darurat Virus Radikal, Bagaimana Cara Sterilisasi?

Yakni, keabsahan data rujukan, benar atau faktual, kesesuaian terhadap standar nilai sosial, kejujuran, dan penyajian yang komprehensif. Tanpa memenuhi lima syarat tadi, akal sehat tidak akan sanggup mengikuti nalar wacana tadi. Karena yang hadir setelahnya, tak lebih dari omong kosong dan kebencian.

Umat Islam di Indonesia, yang sudah melek media sosial, dan gemar memburu kebenaran, seharusnya paham tentang pentingnya referensi dalam beragama. Sehingga, tidak asal mencomot pendapat ustadz, melainkan terus haus pada apa yang sejatinya diperintahkan maupun dilarang Tuhan.

Kontestasi narasi maupun pertarungan wacana yang ada, sepantasnya dinikmati untuk menambah khazanah pengetahuan dan mengasah akal. Karena beragama, tentu tidak boleh berlandaskan hawa nafsu. Namun mesti tetap menjunjung tinggi adab, logika, dan kearifan lokal yang ada.

Membahas yang Lebih Urgen

Daniel Bell (1973) mengungkapkan, di era Post-Industri seperti saat ini, di mana orientasi perubahan masyarakat tidak hanya terpicu karena sirkulasi barang dan modal tak bergerak (semisal gedung pabrik, asset peralatan, showroom dan sebagainya), teknologi informasi menjadi komoditas penting.

Ini menjadi satu di antara dimensi yang merupakan cermin dari perkembangan masyarakat tersebut. Kemajuan teknologi berimbas pada sirkulasi informasi tentang hal-hal yang disebut Bell bersifat teoritis, yang kemudian bisa memengaruhi kebijaksanaan di masyarakat bahkan kebijakan yang bersifat politis.

Di negara ini, Islam merupakan agama dengan penganut terbesar. Lebih dari 87 persen dari populasi 258 juta jiwa mengidentifikasi diri sebagai Muslim (US. Commission on International Religious Freedom, 2017).

Fakta di atas, mengkonfirmasi bahwa informasi mengenai Islam akan terus menjadi isu yang sexy di masyarakat. Karena agama dengan pemeluk terbesar di negeri ini adalah Islam.

Apalagi, website www.internetsehat.id pada 2016 melansir, dari jumlah populasi penduduk Indonesia sekitar 259,1 juta, 88,1 juta adalah pengguna internet aktif. Sejumlah 79 juta penduduk merupakan pengguna media sosial aktif. Secara tidak langsung bisa disimpulkan, informasi mengenai Islam di media sosial Indonesia selalu potensial menjadi trending topic atau isu yang paling sering dibahas.

Tak ayal, perdebatan mengenai Islam dalam sub topik yang beraneka ragam selalu hangat. Baik itu dalam lingkup politik, budaya, maupun aliran atau perspektif beragama itu sendiri. Tiap ada satu konsep keislaman terlontar, sebagai contoh, soal pemimpin Islam, akan ada banyak tafsir mengemuka.

Perbedaan pandangan memunculkan kontestasi wacana. Meski demikian, tidak sepantasnya menjadi pematik perselisihan yang berlarut-larut. Karena, ada banyak hal yang jauh lebih urgen dan membutuhkan kesatuan umat. Misalnya, tentang bagaimana menjadikan masyarakat Islam yang potensial ini, memiliki basis perekonomian yang kuat agar terhindar dari malapetaka kemiskinan.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, kemiskinan bisa mendakatkan seseorang pada kekufuran. Memikirkan dan mencari solusi tentang problem perekonomian ini, tentu lebih utama daripada larut pada perbedaan sudut pandang beragama. (*)

Rio F. Rachman
Dosen Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang, Awardee Beasiswa 5000 Doktor Kemenag di FISIP Universitas Airlangga.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

17 KOMENTAR

  1. Saling pengertian, saling memahami
    dan saling mendukung hanya dapat dicapai
    dengan memetakan kembali fungsi dan peran
    budaya-budaya Islam yang ada di Indonesia
    dalam suatu suasana kesetaraan antar budaya budaya Islam yang ada, sebagai basis
    interaksi dan komunikasi antarbudaya yang
    sehat dan substansial menuju cita-cita
    pembangunan Indonesia
    Disisi lain kedua fenomena ini juga
    dapat menjadi bahan pelajaran bagi kubu
    budaya Islam mainstream dalam menemukan
    suatu konsep integralisasi agama-negara yang
    dicita-citakan, sekaligus menjadi penengah
    dalam konflik segitiga yang terjadi antara
    negara, Islam stream dan Islam mainstream,
    terutama terkait kepercayaan pemerintah
    terhadap budaya Islam mainstream yang
    dipandang lebih mencerminkan karakter
    Indonesia.

  2. Hubungan antara budaya dan perdebatan wacana keislaman di media sosial saling terhubung, karena kerap kali terlibat kontestasi wacana di media digital. Baik secara sengaja melalui perdebatan terbuka, maupun secara tidak sengaja, karena ”diadu” oleh warganet. Salah satu wacana yang sempat menjadi perdebatan adalah konsep Islam Nusantara. Jadi Hubungan antara budaya dan perdebatan wacana keislaman di media sosial saling terhubung sebab perdebatan dan budaya di media sosial itu pasti ada.

  3. Hubungan antara budaya dan perdebatan wacana keislaman di media sosial saling terhubung, karena kerap kali terlibat kontestasi wacana di media digital. Baik secara sengaja melalui perdebatan terbuka, maupun secara tidak sengaja, karena ”diadu” oleh warganet. Salah satu wacana yang sempat menjadi perdebatan adalah konsep Islam Nusantara. Jadi Hubungan antara budaya dan perdebatan wacana keislaman di media sosial saling terhubung.

  4. Berkaca pada sejarah, hal yang
    kemudian menjadi poin keberhasilan nabi
    muhammad dalam menghimpun “Ummah”
    salah satunya adalah keberhasilannya dalam
    menemukan substansi universal dari
    karakteristik budaya kaumnya kala itu. Nabi
    berhasil menemukan aspek transendental dari
    kebudayaan-kebudayaan yang ada di tengah
    masyaraat madinah dan menjadikannnya
    sebagai alat pemersatu.

  5. Hubungan antara budaya dan perdebatan wacana keislaman dimedia sosial saling terhubung dan saling berinteraksi. Kontestasi wacana dimedia digital telah memodifikasi secara sengaja maupun tidak.

  6. Hubungan antara budaya dan perdebatan wacana keislaman medsos merupakan saling terkait satu sama lain, karena sering kali terlibat dalam kontestasi wacana di media digital. baik melalui kesengajaan melalui forum terbuka ataupun melalui ketidaksengajaan karena “adu domba” oleh setiap warganet. Satu contoh wacana yang pernah boming, dan menjadi suatu ajang perdebatan adalah Islam Nusantara. jadi toleransi ssesama ummat Islam, merupakan jalan tengah dalam suatu hubungan antara budaya dan perdebatan wacana keislaman di media sosial yang saling terhubung satu sama lain.

  7. Indonesia selalu potensial menjadi trending topic atau isu yang paling sering dibahas. Karena Indonesia negara paling banyak mayoritas penduduknya beragama Islam. Dan Sejumlah 79 juta penduduk merupakan pengguna media sosial aktif juga Indonesia memiliki budaya-budaya yang sangat banyak dari sabang sampai merauke,Jadi Hubungan antara budaya dan keislaman di media sosial saling terhubung.

  8. Indonesia selalu potensial menjadi trending topic atau isu yang paling sering dibahas. Karena Indonesia negara paling banyak mayoritas penduduknya beragama Islam. Dan Sejumlah 79 juta penduduk merupakan pengguna media sosial aktif juga Indonesia memiliki budaya yang sangat banyak dari sabang sampai merauke,Jadi Hubungan antara budaya dan keislaman di media sosial saling terhubung.

  9. Hubungan Budaya dan perdebatan wacana keislaman di media sosial
    Dalam konsep Islam Nusantara di Indonesia tentunya kebudayaan itu tidak terlepas dari agama. Dan budaya yang sudah melekat pada masyarakat itu pasti ada keyakinan tersendiri oleh masyarakat. Hubungannya dengan perdebatan wacana keislaman yang ada di media sosial itu adalah ketika masyarakat melakukan kegiatan adat budaya yang berhubungan atau bersamaan dengan kegiatan agama keislaman yang sudah diberikan wacana dan hukum islam oleh Kaum Intelektual atau Organisasi-organisasi besar yang sudah ada di Indonesia. Hal itulah yang akan menimbulkan perdebatan dan sering menjadi topik yang didebatkan oleh para sarjana muda lulusan luar negeri sesuai ilmu yang mereka dapatkan. Karena memang ilmu keislaman yang dipelajari dari luar negeri itu tidak dan belum terkulturasi dengan budaya seperti yang ada di Indonesia. Sehingga kerap menimbulkan pertanyaan dan pendapat yang bisa dan mudah di angkat menjadi topik perdebatan sehingga bisa mengkritik Organisasi-organisasi besar yang keuntungannya bisa membuat dirinya terkenal dan “diviralkan”.

    • Hubungan budaya dan perdebatan wacana keislaman di media sosial saling terhubung dan saling berinteraksi.
      Islam dan kebudayaan memiliki keterkaitan antara yang satu dengan lainnya.ajaran islam memberikan aturan aturan yang sesuai dengan kehendak Allah SWT. Sedangakan budaya adalah realitas keberagamaan umat islam.

  10. Hubungan Budaya dan perdebatan wacana keislaman di media sosial
    Dalam konsep Islam Nusantara di Indonesia tentunya kebudayaan itu tidak terlepas dari agama. Karena Indonesia negara paling banyak mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal itulah yang akan menimbulkan perdebatan dan sering menjadi topik yang didebatkan oleh para sarjana muda lulusan luar negeri sesuai ilmu yang mereka dapatkan.

  11. di era Post-Industri seperti saat ini, di mana orientasi perubahan masyarakat tidak hanya terpicu karena sirkulasi barang dan modal tak bergerak (semisal gedung pabrik, asset peralatan, showroom dan sebagainya), teknologi informasi menjadi komoditas penting.

  12. Hubungan antara budaya dan perdebatan wacana keislaman di media sosial saling terhubung, karena selalu terlibat kontestasi wacana di media digital, baik secara sengaja melalui perdebatan terbuka, maupun secara tidak sengaja, karena ”diadu” oleh warganet. Salah satu wacana yang sempat menjadi perdebatan adalah konsep Islam nusantara. Jadi Hubungan antara budaya dan perdebatan wacana keislaman di media sosial saling berhubungan karena adanya perdebatan dan budaya di media sosial itu sendiri.

  13. abulkhoir
    Hubungan Budaya dan perdebatan wacana keislaman di media sosial
    Dalam konsep Islam Nusantara di Indonesia tentunya kebudayaan itu tidak terlepas dari agama. Dan budaya yang sudah melekat pada masyarakat itu pasti ada keyakinan tersendiri oleh masyarakat.
    Mereka yang merupakan intelektual baru lulusan luar negeri, sebagai pencetus narasi kecil, berhadapan dengan narasi besar yang disampaikan oleh organisasi besar atau mubaligh/da’i yang lebih senior.

  14. abulkhoir
    Hubungan Budaya dan perdebatan wacana keislaman di media sosial
    Dalam konsep Islam Nusantara di Indonesia tentunya kebudayaan itu tidak terlepas dari agama. Dan budaya yang sudah melekat pada masyarakat itu pasti ada keyakinan tersendiri oleh masyarakat. Hubungannya dengan perdebatan wacana keislaman yang ada di media sosial itu adalah ketika masyarakat melakukan kegiatan adat budaya yang berhubungan atau bersamaan dengan kegiatan agama keislaman yang sudah diberikan wacana dan hukum islam oleh Kaum Intelektual atau Organisasi-organisasi besar yang sudah ada di Indonesia

  15. Bagaimana hubungan budaya dan perdebatan wacana keislaman di media sosial?
    Budaya dan perdebatan islam di media masa itu sering kali terjadi, karena dua pihak terlibat kontestasi wacana di media digital. Baik secara sengaja melalui perdebatan terbuka, maupun secara tidak sengaja, karena ”diadu” oleh warganet. Penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam jadi banyak budaya-budaya islam yang berbeda sehingga adanya perdebatan di media sosial.

  16. Budaya dan perdebatan islam di media masa itu sering kali terjadi, karena dua pihak terlibat kontestasi wacana di media digital. Baik secara sengaja melalui perdebatan terbuka, maupun secara tidak sengaja, karena ”diadu” oleh warganet. Penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam jadi banyak budaya-budaya islam yang berbeda sehingga adanya perdebatan di media sosial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru