24.3 C
Jakarta
Array

Kembali Ke Khittah Perjuangan Bangsa

Artikel Trending

Kembali Ke Khittah Perjuangan Bangsa
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Kembali Ke Khittah Perjuangan Bangsa

Oleh: Bahrur Rosi*

Orang bilang, tanah kita tanah surga; kaya sumber daya, indah-permai bagai untaian zamrud yang melilit khatulistiwa. Namun, di taman nirwana dunia timur ini, kelimpahan mata air kehidupan mudah berubah menjadi air mata. Kekuasaan datang-hilang, silih berganti membuai mimpi; tetapi nasib rakyatnya tetap sama, kekal menderita. Mimpi indah kemerdekaan sebagai jembatan emas menuju perikehidupan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur lekas menjelma menjadi mimpi buruk: tertindas, terpecah belah, terjajah, timpang, miskin. Boleh dikatakan, pemerintahan negara gagal menunaikan kewajibannya untuk ”melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”.

Buku Revolusi Pancasila yang ditulis oleh Yudi latif ini menjadi refleksi bagi kita untuk menelaah kembali sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Selama ini yang kita dapati di seberang jembatan emas kemerdekaan adalah jalan bercabang dua. Jalan yang satu adalah jalan mulus bagi segelintir orang yang hidup berkelimpahan; sama dapat, sama bahagia; sedangkan jalan yang satu lagi adalah jalan terjal bagi kebanyakan orang yang hidup berkekurangan; sama ratap, sama sengsara. Semangat persaudaraan kebangsaan sejati hancur. Warga berlomba mengkhianati negara dan sesamanya; rasa saling percaya pudar karena sumpah dan keimanan disalahgunakan; hukum dan institusi lumpuh tidak mampu meredam penyalahgunaan kekuasaan; ketamakan dan hasrat meraih kehormatan rendah merajalela. Semuanya berujung pada kegelapan dan kebiadaban: kebaikan dimusuhi, kejahatan diagungkan. Keadaan demikian akan mengantarkan negara ini ke tubir jurang perpecahan dan kebinasaan. Pilihannya, apakah kita biarkan Indonesia hancur atau bangkit bertempur. Pengalaman ketertindasan, diskriminasi, dan eksploitasi memang pantas disesali dan dimusuhi. Namun, manusia tidaklah hidup sekadar untuk memerangi keburukan. Mereka hidup dengan tujuan yang positif, untuk menghadirkan kebaikan. Kebiasaan kita untuk mengutuk masa lalu dengan mengulanginya, bukan dengan melampauinya, membuat perilaku politik Indonesia tidak pernah melampaui fase kekanak-kanakannya.

Menurut Yudi Latif dari berbagai persoalan kebangsaan yang begitu kompleks, salah satu jalan untuk menyelesaikan adalah dengan mengobarkan semangat Revolusi Pancasila. Revolusi Pancasila adalah suatu ikhtiar perubahan mendasar (secara akseleratif) pada sistem sosial (meliputi ranah material, mental, politikal), berlandaskan prinsip-prinsip Pancasila, dalam usaha mewujudkan perikehidupan kebangsaan dan kewargaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur (material dan spritual) (hal:57). Revolusi Pancasila bukan revolusi borjuis, bukan pula revolusi proletar, melainkan revolusi kemanusiaan, yang kongruen dengan tuntutan budi nurani kemanusian yang bersifat universal dan melampaui batas-batas kelas dan golongan. Tuntunan dari dari budi nurani kemanusian tersebut mencerminkan kodrat kemanusiaan sebagai mahluk religius yang berprikemanusiaan, mahluk sosial dan sekaligus individual yang menghendaki pengejewantahan keadilan sosial, kemerdekaan kolektif (bangsa), dan kemerdekaan individu (warga).

Revolusi Pancasila merupakan revolusi kemanusiaan yang bersifat multidimensional, maka cakupan revolusinya juga, seperti yang pernah disebut oleh Bung Karno, bersifat multikompleks. Sifat multikompleks dari Revolusi Pancasila itu setidaknya mengandung lima dimensi (panca-muka) revolusi: revolusi nasional, revolusi politik, revolusi ekonomi, revolusi sosial, dan revolusi kebudayaan. Kelima muka revolusi itu harus berjalan secara simultan dalam rangka menjebol sisa-sisa struktur sosial lama seraya membangun landasan untuk masyarakat baru (hal:65). Membumikan Pancasila sebagai panutan cita-cita dan kehendak bersama, mengharuskan Pancasila hidup dalam realitas, tidak berhenti sekedar retorika dan ornamen. Oleh karena itu, Pancasila harus diakarkan ke daratan realitas melalui Revolusi Pancasila. Suatu revolusi yang berusaha menjadikan Pancasila sebagai landasan perubahan mendasar dalam ranah material, mental, dan politikal dalam kerangka perwujudan perikehidupan kebangsaan dan kewargaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Buku ini adalah buku yang begitu luar biasa dalam menjelaskan dan menjabarkan semangat Revolusi Pancasila. Yudi Latif menjelaskan dengan sangat detail nilai-nilai dari Pancasila yang seharusnya dijalankan oleh pemerintah untuk membangun dan menata bangsa Indonesia. Buku ini menjadi rekomendasi terutama bagi para elit politik dalam menjalankan roda pemerintahan agar bisa kembali kepada Khittah bangsa Indonesia sebagaimana dimuat dalam Pembukaan UUD 1945.

*Penulis adalah alumni Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Data Buku

Judul : Revolusi Pancasila

Penulis : Yudi Latif

Penerbit : Mizan

Cetakan : 2, Juli 2015

Tebal : xii + 216 Halaman

ISBN : 978-979-433-889-6

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru