Kelompok Radikal Tak Boleh Diberi Ruang


0
353 shares

Harakatuna.com. Yogyakarta-Keran perkembangan kelompok radikal di Yogyakarta harus ditutup perlahan. Kemajemukan di kota gudeg ini sering dimanfaatkan menjadi celah berkembangnya kelompok radikal.

Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Achmad Munjid menyebut masyarakat kota Yogyakarta bersifat terbuka dan minim pengawasan ke sekitar. Hal ini dipakai kelompok radikal tumbuh dan menyusun aksi di Kota Gudeg.

“Itu perlu menjadi perhatian kita juga,” ujar Munjid kepada Medcom.id pada Selasa, 21 Mei 2019.

Kelompok radikal biasanya tak asli Yogyakarta. Kedatangan mereka sebatas memilih target dan tujuan pesan teror di wilayah yang dianggap efektif. Yogyakarta dinilai menjadi wilayah aman dan terbuka sehingga efektif menjadi ‘tujuan’ menyebar teror lebih luas.

“Yogyakarta sebagai kota pelajar beritanya bisa langsung tersebar. Orang dari Indonesia timur misalnya, akan tanya bagaimana keluarga, adiknya, selamat apa tidak,” ujarnya.

Teror penembakan yang terjadi di Selandia Baru beberapa waktu lalu bisa menjadi contoh. Kabar di negara yang dikenal aman tersebut dengan begitu cepat tersebar.

Harus berubah

Masyarakat yang selama ini memberikan iklim dan lingkungan ‘nyaman’ bagi jaringan kelompok radikal harus segera berubah. Kesempatan bagi pemberi ceramah jaringan kelompok tersebut harus disetop.

“Wacana radikal, sikap toleran terhadap radikal di Jogja terasa meningkat karena diberikan kesempatan, sepeti ceramah di mimbar, apalagi diundang ceramah tarawih, (salat) Jumat, itu masyarakat yang menyediakan,” kata dia.

Ia mengatakan berbagai pihak memiliki kepentingan untuk terlibat dalam pengawasan sosial, termasuk pimpinan di berbagai lapisan hingga desa dan dusun. Munjid mengatakan seluruh masyarakat sudah memahami bagaimana gerakan radikal.

“Semua orang punya hak sama menyampaikan gagasan, tapi ada yang punya otoritas, (seperti) takmir masjid (soal pengisi ceramah). (Penceramah) yang nadanya ke sana (radikal), ceramah harus di wilayah terbatas, bukan kotbah jumat dan sebagainya,” ungkapnya.

Baca Juga:  HTI terhadap Demokrasi dan Nasionalisme; Antara Mengkritik dan Menikmatinya

Ia menegaskan masyarakat harus punya filter dan bersikap selektif untuk gerakan radikal. Seluruh lapisan masyarakat harus aktif bersikap, baik tokoh keagamaan, pemimpin formal maupun informal. Berbagai lapisan itu harus bisa bekerja sama dengan baik.

“Jangan karena politik, sedang butuh dukungan. Pakai siapa saja yang bisa memprovokasi massa, yang berkumpul jadi pendukungnya. Ini sudah praktek yang enggak bener,”pungkasnya.


Like it? Share with your friends!

0
353 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Ahmad Fairozi

Adalah alumni PP. Annuqayah yang sedang menyelesaikan program Pasca Sarjana di Niversitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta.