34.4 C
Jakarta

Kekerasan Simbolik Atas Nama Agama dalam Ekspresi Keberagamaan

Artikel Trending

KhazanahTelaahKekerasan Simbolik Atas Nama Agama dalam Ekspresi Keberagamaan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Dalam setiap hari, selalu ada saja term yang terkadang tidak masuk akal terjadi pada hiruk pikuk kehidupan manusia, utamanya mengenai isu agama. Relasi antar manusia yang dijalankan, terkadang memang lucu. Tanpa memberi kesan bahwa ada ketimpangan di dalamnya, terkadang memang kita yang dituntut untuk lebih peka melihat fenomena-fenomena keberagamaan yang diekspresikan oleh seseorang.

Dalam kasus yang terjadi beberapa waktu ini. Seorang takmir masjid yang mengusir jamaah lantaran memakai masker. Salah seorang takmir pun menjelaskan bahwa aturan di masjid tersebut dilarang memakai masker. Bahkan, meyakinkan bahwa masjid itu aman dari Covid-19 dengan mengutip ayat Alquran surat Ali-Imran ayat 96.

“Jangan pakai masker. Jadi, kita ada perbedaan antara masjid dan pasar,” ucap salah seorang takmir.

“Kata agama, Alquran Surat Al-Imran Ayat 96, dikatakan orang yang masuk di dalam masjid, aman. Itu Alquran,” imbuhnya.

Ini menjadi lucu untuk dipahami. Disaat berbagai negara memerangi Covid-19, masih saja orang tidak percaya bahwa virus ini mematikan. Bahkan ritual agama yang dilakukan oleh India, menjadi salah satu penyebab utama melonjaknya virus Covid-19 dan sampai saat ini banyak manusia yang gugur.

Mengapa Agama Selalu Ampuh Dijadikan Alasan?

Ada dua bentuk utama ekspresi pengalaman keagamaan yang bersifat praktis: yaitu bakti (peribadatan) dan pelayanan. Keduanya saling mempengaruhi. Apa yang dipahami sebagai realitas tinggi akan disembah melalui tingkah laku pemujaan, dan dilayani secara tanggap untuk menyahuti ajakan dan kewajiban untu masuk ke dalam persekutuan Tuhan. (Haqqul Yakin: 2017).

Barangkali ini menjadi titik tolak bahwa penyerahan sepenuhnya kepada Tuhan adalah bentuk pengabdian yang sebenarnya, dan merupakan pengikraran sejati bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bisa memiliki kehendak bebas seperti Tuhan. Misalnya dalam kasus diatas, kita bisa menganalisa dari berbagai kemungkinan pemikiran yang ada.

Pertama, kelompok yang menyatakan demikian adalah mengungkapkan bentuk kekecewaan terhadap pemerintah dengan kebijakan-kebijakan yang dirasa tidak adil dalam menanggapi pandemi Covid-19. Tidak heran, ketika muncul kalimat-kalimat yang menyatakan bahwa kekecewaannya terhadap pembukaan wisata, mall, sedang aktifitas keagamaan seperti masjid, aktifias pendidikan seperti sekolah masih saja dibatasi, bahkan sebagian ditiadakan pertemuan offline lantaran adanya Covid-19.

BACA JUGA  Bagaimana Penyimpangan yang Dilakukan oleh Khilafatul Muslimin?

Ini sebenarnya bisa menjadi kritik terhadap pemerintah untuk melihat kembali berbagai kebijakan yang diambiil serta diberlakukan agar terus bisa memberi pelayanan terbaik dalam penanganan pandemi Covid-19.

Kedua, kelompok yang melupakan relasi sesama manusia, manusia dengan alam bahkan sebab akibat. Misalnya keterkaitannya dengan usaha untuk menghindari terkenanya wabah menjadi tidak masuk jika dilakukan. Alih-alih kasus diatas menjadi contoh yang nyata dengan alasan dalil Al-Quran, serta menjadikannya sebagai dasar yang kuat agar tidak memtauhi prokes.

Mengapa dalil Al-Quran sangat pas dijadikan sebagai landasan? Sebab Al-Quran merupakan pedoman hidup umat muslim. Dengan begitu, menjadi hal yang mutlak dan bisa dipertanggungjawabkan atas segala sesuatu yang sudah tercantum secara literlik dalam Al-Quran.

Kelompok ini sama saja seperti bunuh diri secara nyata secara perlahan. Sebab bagaimanapun, upaya-upaya untuk menghindari menghindari terpaparnya Covid-19 harus terus diusahakan oleh manusia itu sendiri.

Seperti misalnya pada seorang pengendara motor. Agar terhindar dari kecelakaan, maka seorang pengendara motor harus memathui peraturan lalu lintas, memakai helm dan segala atribut. Manakala setelah mematuhi semua itu sang pengendara motor kecelakaan, barulah itu takdir. Akan tetapi, jika ia tidak mematuhi peraturan dan tidak memakai atribut pengendara motor, itulah yang dinamakan bunuh diri yang nyata secara perlahan.

Dari kelompok ini juga timbul kelompok yang mengatasnamakan Tuhan dalam segala aktifitas yang dilakukan. Dengan dalih bahwa Tuhan akan menyelamatkan umatnya (red: menegasikan usaha), maka dari kelompok ini pula berdalih bahwa pemerintah tidak perlu diikuti dengan segala bentuk narasi provokatif.

Akhirnya, bermuara pada ajakan-ajakan untuk membenci pemeritah dengan segudang kesalahan pemerintah yang diperlihatkan. Lagi-lagi, agama dalam hal ini memiliki otoritas tertinggi untuk mengelabuhi manusia dan memberikan sebuah subordinasi yang “siap pakai” untuk kepentingan tertentu. Ini sangat berbahaya!

Apalagi bagi kaum yang minim literasi agama dan literasi digital, akan mudah tergerus oleh arus radikalisme. Menyalahkan pemerintah, kecewa terhadap kebijakan yang ada, serta kehilangan kepercayaan atas bentuk relasi sosial yang ada akan menimbulkan dampak berkepanjagan terhadaio ekspresi kebangsaan yang dimiliki. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru