25.6 C
Jakarta

Kekacauan Sosial-Agama Menyubur dalam Ruang Hidup Wahabisme-Khilafahisme

Artikel Trending

Milenial IslamKekacauan Sosial-Agama Menyubur dalam Ruang Hidup Wahabisme-Khilafahisme
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Penistaan dan kekacauan agama lahir bukan karena sekularisme atau demokrasi. Sebagaimana suburnya radikalisme dan terorisme juga bukan lahir karena sistem sekularisme atau demokrasi. Justru hal tersebut lahir dari pemahaman agama yang rapuh terhadap agama itu sendiri.

Khilafah misalnya, paham yang berjalan dengan fatalisme. Sebuah paham yang selalu menyatukan apa pun dengan embel-embel agama. Kehidupan khilafah menjadikan agama sebagai kendaraan politik dan hanya sebagai bonsai sosial.

Subur Karena Khilafahisme

Ruang hidup khilafah menjadikan prinsip agama tidak dijaga dan dihargai. Mereka makin gila dalam mengikis nilai-nilai agama yang universal, moderat dan toleran. Padahal, mungkin mereka tahu bahwa agama bersandar pada nilai kebaikan dan kemanusiaan.

Kehidupan khilafah, Wahabi, dan Salafi menjadikan seseorang memiliki pandangan yang berbeda tentang agama. Mereka memandang agama sebagai ajaran yang keras. Akibatnya, agama kerap menjadi bahan sindiran, olok-olokan, narasi kebencian, penistaan, hingga dianggap penuh kekerasan. Islam menjadi menyeramkan.

Ada pula mereka memandang bahwa agama selain khilafah Wahabi, dan Salafi itu kolot, primitif, dan tidak maju. Sudut pandang ini yang membuat mereka ini selalu sempit dalam memandang agama. Suatu pandangan agama yang menyeramkan bahwa agama menganjarkan perang, membunuh dan mengebom.

Bercermin pada kasus pengeboman atas nama Tuhan yang pernah terjadi, korbannya paling banyak adalah mereka yang berpandangan sempit tentang agama. Atas nama khilafah, jihad dan Tuhan, mereka tidak segan untuk membunuh makhluk dan agama lain. Ini terjadi sebagai dampak paham khilafah Wahabi, dan Salafi yang diterapkan.

Atas nama khilafah, Wahabi, Salafi, kebebasan berekspresi seperti membunuh atau mengkafirkan yang lain selalu menjadi pembenar bagi mereka. Ini menandakan bahwa keagamaan mereka berlandaskan pada ketidaktahuan. Mereka bahkan tidak tahu cara memperlakukan agama dan Islam dengan benar dan tepat.

BACA JUGA  Riak-riak Kaum Radikal-Populis di Tengah Putusan MK

Akibat mereka, Islam bisa terhina dan menjadi bahan olok-olokan. Umat Islam sering dituduh subversif, radikal dan jahat. Mereka dengan sengaja melakukan kekerasan atas nama agama Islam, agar umat Islam terprovokasi dan terpancing.

Kekacauan sosial dan agama subur karena khilafah, Wahabi, dan Salafi. Dalam sejarahnya, Islam selalu kacau karena pandangan-pandangan mereka yang keras dan mendaku paling benar sendiri. Siapa yang tidak sama dengan mereka selalu dimusuhi, dikafirkan dan penuh cercaan.

Tidak Menjaga Agama

Khilafah, Wahabi, dan Salafi sama sekali tidak memelihara dan melindungi agama. Mereka tidak menjaga dan memuliakan Islam. Mereka malah membuat radikalisme tumbuh subur di Indonesia.

Yang terjadi justru para khilafah Wahabi, dan Salafi ini malah menodai agama dengan paham keagamaan yang ekstrem dan radikal. Agama dibawa ke ranah politik praktis. Bahkan bisa dibilang agama dijual sekadar untuk menyenangkan para bosnya.

Itulah sikap para pengedar paham khilafah Wahabi, dan Salafi. Sama sekali jauh dari ajaran Islam yang moderat dan berwibawa. Umat akan terus terhina kalau agama diajarkan dengan keras dan radikal. Hanya dengan ajaran moderatlah, agama Islam akan terus maju dan disayangi lintas agama-sosial.

Oleh karena itu, seruan penegakan Islam moderat harus terus disuarakan. Agar umat bisa memahami bahwa satu-satunya pilihan hidup terbaik saat ini dan seterusnya adalah diterapkannya ajaran agama yang moderat dan toleran. Moderatnya ajaran agama akan membawa kehidupan sosial kepada kedamaian. Moderatnya agama juga akan menjadi penangkal dari kekacauan sosial dan ajaran radikal.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru