31.1 C
Jakarta

Keberhasilan Redam Radikalisme di Era Bonus Demografi

Artikel Trending

AkhbarNasionalKeberhasilan Redam Radikalisme di Era Bonus Demografi
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Polisi Boy Rafli Amar mengatakan, keberhasilan meredam radikalisme di era bonus demografi menjadi titik krusial menuju Indonesia emas 2045.

“Ke depan, bonus demografi ini akan menentukan keberlangsungan negara,” kata Boy Rafli Amar melalui keterangan tertulis diterima di Jakarta, Ahad (19/6).

Ia mengatakan, penanganan bonus demografi dengan baik akan membuat produktivitas Indonesia melambung tepatnya 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045.

Menurut Boy Rafli, Indonesia sudah memasuki era bonus demografi. Artinya, penduduk usia produktif lebih dominan dibandingkan penduduk usia nonproduktif.

“Sumber daya manusia tidak hanya dituntut untuk memiliki ‘hard skill’ yang baik, tetapi juga adab yang baik,” kata Boy Rafli.

Menurutnya, salah satu yang perlu diwaspadai adalah propaganda radikal terorisme di media sosial. Kelompok tersebut gemar mengumbar narasi kekerasan di media sosial.

BACA JUGA  Pancasila Benteng NKRI Cegah Intoleransi dan Radikalisme

“Kita harus antisipasi ajakan kelompok teror yang mengedepankan narasi kekerasan,” kata dia.

Mantan Kepala Divisi Humas Mabes Polri tersebut menyatakan, bahaya pengaruh radikal terorisme. Melalui narasi-narasi yang mengatasnamakan agama, seringkali kelompok ini mendapat sambutan masyarakat.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BNPT akan terus menggandeng tokoh lintas agama. Tujuannya, secara bersama-sama mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk peka terhadap propaganda atau ajakan kelompok radikalisme.

Ia menambahkan, narasi keagamaan yang digaungkan kelompok teror tersebut menghalalkan kekerasan terhadap sesama umat manusia. Hal itu jelas tidak sesuai dengan kaidah agama dan prinsip negara.

Terakhir, Boy mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mewaspadai jika ada pihak-pihak tertentu yang mengajak melalui cara-cara kekerasan.

“Cara-cara kekerasan tidak cocok dengan nilai agama, prinsip berbangsa dan bernegara yang berlandaskan Pancasila, nilai hukum serta etika moral bangsa,” ujarnya. (R/R4/P1).

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru