31.7 C
Jakarta

Kawal Pandemi Jadi Endemi; Adaptasi Dunia Baru dan Kontra-Propaganda Negara Islam

Artikel Trending

KhazanahResonansiKawal Pandemi Jadi Endemi; Adaptasi Dunia Baru dan Kontra-Propaganda Negara Islam
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Kabar baik untuk Indonesia, berbagai indikator pandemi di negara ini membaik secara signifikan. Per Maret lalu, rasio kasus positif harian berdasarkan jumlah orang diuji (positivity rate) berhasil turun ke range standar aman WHO di angka 4,55% (standar WHO maksimal 5%). Bandingkan dengan positivity rate sebulan lalu yang masih di angka 14,15%. Level PPKM secara nasional juga membaik. Tidak ada lagi daerah berlevel 4.

Begitu pula, jumlah daerah yang berstatus Level 3 mengalami penurunan dari sebelumnya 66 daerah menjadi 39 daerah. Sebagian besar wilayah kini berada di level 2 (55 daerah) dan level 1 (83 daerah). Apakah semua ini pertanda bahwa Indonesia akan segera aman dari pandemi? Menurut Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan, saat ini kita tengah memasuki masa pra-kondisi menuju transisi pandemi menjadi endemi.

Secara gradual, pembatasan sosial memang sudah dilonggarkan. Level PPKM terus menurun; mayorias kegiatan di daerah PPKM level 1 boleh dihadiri 100% kapasitas; antigen dan PCR tak lagi wajib bagi yang sudah vaksin dosis ke-2; jangka waktu karantina setiba dari luar negeri kini hanya 1 hari. “Agar proses pra-kondisi ini berlangsung aman, semua tahap pelonggaran harus kita dilakukan secara terukur, science-based, dan selalu disertai disiplin mitigasi,” ujar Budi Gunawan.

Mitigasi yang dimaksud harus dimulai dari hulu dan melibatkan semua elemen bangsa, yakni dengan meningkatkan capaian vaksinasi dosis kedua dan booster secara merata ke semua wilayah; mengakselerasikan screening, testing, dan tracing; mendisiplinkan kebiasaan memakai masker; menjaga jarak; mencuci tangan; hingga memastikan ruang-ruang publik berventilasi atau memiliki filter udara yang tepat, baik perkantoran, gedung pertemuan, rumah ibadah, mal dan pasar.

“Ada keniscayaan semua elemen bangsa mengadopsi kebiasaan baru demi hidup baru; hidup berdampingan dengan virus Corona. Semua harus membiasakan diri dengan kebiasaan mitigasi tadi. Sebagian bahkan harus menjadi etika sosial. Misalnya menggunakan masker, harus dipandang sebagai wujud tanggung jawab dan tenggang rasa, karena melindungi orang lain dari virus yang mungkin kita bawa,” tambahnya.

Kebiasaan dan Hidup Baru

Kebiasaan baru. Hidup baru. Demikian gagasan utama Kepala BIN, Budi Gunawan. Gagasan cemerlang tersebut diproyeksikan untuk menyambut dunia baru, setelah tiga tahun masyarakat Indonesia berperang dengan virus Corona. Masyarakat diimbau untuk tidak lagi paranoia dengan virus, dan lebih-lebih kebijakan pemerintah tentangnya. Masyarakat harus beradaptasi dengan keadaan hari ini; situasi pasca-covid yang kembali normal namun baru.

Apa yang Budi Gunawan sampaikan ialah mengenai mengakhiri pandemi menjadi endemi. Untuk tujuan itu, ia mengharapkan masyarakat tidak grasah-grusuh dan mesti patuh dengan segala kebijakan pemerintah. Baik tentang pengaturan mudik, atau kebijakan publik lainnya yang mendukung transisi pandemi menjadi endemi tersebut. Masyarakat juga ia minta tidak terprovokasi oleh narasi-narasi tidak baik yang datang dari pihak yang sejak semua tidak cinta Indonesia.

BACA JUGA  Relasi Sosial Hizbut Tahrir dan Militer di Indonesia (Bagian I)

Dengan demikian, gagasan Budi Gunawan ini memiliki kaitan dengan gagasan yang ia narasikan sebelumnya, tentang bagaimana seharusnya masyarakat melihat kebijakan kenaikan BBM jenis Pertamax. Seperti diketahui, sebelumnya, masyarakat heboh dengan kenaikan BBM jenis Pertamax. Narasi yang beredar di antaranya bahwa rezim Jokowi gagal mengurus bangsa. Rata-rata narasi yang beredar adalah mencemooh rezim.

Namun ada juga ternyata narasi yang tidak mencemooh rezim, melainkan mencemooh sistem. Bagi pencemooh jenis ini, solusi mengatasi semua masalah adalah perombakan sistem yang ada di Indonesia menjadi khilafah. Budi Gunawan pun kemudian merespons, “Solusi paling substantif bagi masyarakat menghadapi kondisi yang mengarah ke stagflasi ini adalah mengadaptasikan gaya hidup dengan kemampuan riil masing-masing.”

Namun, tanggapan BIN tersebut semakin menambah kencang narasi yang ada. Meskipun masyarakat banyak memaklumi naiknya Pertamax, semacam ada arus narasi yang sengaja didesain untuk menghilangkan kepercayaan masyarakat pada pemerintah dan sistem pemerintahan itu sendiri. Misalnya, disebarkan narasi bahwa umat Islam semakin tidak sejahtera, dan kesejahteraan tersebut didapat hanya jika bangsa ini menegakkan khilafah.

Melalui gagasan tadi, yakni kebiasaan baru dan kehidupan baru, Budi Gunawan memiliki visi cemerlang untuk bangsa Indonesia, yaitu bagaimana pandemi jadi endemi, dan pada saat yang sama masyarakat dapat beradaptasi dengandunia baru dan selamat dari propaganda negara Islam. Keadaan di Indonesia hari ini adalah akibat pandemi, dan kebijakan pemerintah menyesuaikan dengan itu. Hidup baru dan kebiasaan baru adalah tentang cinta Indonesia dan konsekuen dengan segala sistem yang ada.

Waspada dengan Propaganda

Propaganda khilafah atau penyemarakan narasi negara Islam melibatkan segala fenomena, termasuk virus Corona, kebijakan pemerintah tentangnya, juga respons masyarakat Indonesia. Semua berada dalam sorotan propaganda yang jika masyarakat tidak bisa melihat titik terang, mereka akan dibuat benci dengan pemerintah, benci dengan Indonesia, menjadi elemen buruk bagi bangsa Indonesia, dan menyeret kehancuran terhadap negara.

Gagasan Kepala BIN untuk mengawal pandemi jadi endemi tentu saja merupakan solusi mengatasi masalah tersebut, yakni membuat masyarakat Indonesia kompak menyambut dunia baru sekaligus menghindarkan mereka dari jeratan propaganda negara Islam. Masyarakat tidak perlu menuntut pemerintah karena kenaikan BBM, misalnya, demi keberlangsungan pemulihan ekonomi. Masyarakat justru harus beradaptasi dengan dunia baru di masa endemi ini.

Propaganda negara Islam tidak boleh dikasih jalan, yaitu dengan cara membangun resistansi yang kuat dari masyarakat serta komitmen mereka sebagai elemen bangsa terhadap negara dan segala kebijakan di dalamnya. Pemerintah, sebagaimana jelas dalam gagasan transisi pandemi jadi endemi oleh Kepala BIN Budi Gunawan, merupakan fasilitator.

Sementara itu, adaptasi dunia baru di era endemi berada di tangan masyarakat, yang bisa jadi kunci penyelamat mereka dari berbagai propaganda yang menyudutkan pemerintahan dan anti-NKRI, terutama propaganda negara Islam.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru