29.8 C
Jakarta

Kaum Muda dan Fenomena Hijrah Politis

Artikel Trending

Ketika membuka WAG jurusan, seorang teman mengirim screenshoot komentar di twitter tentang cuplikan video ceramah guru besar UIN Yogyakarta, Noorhaidi Hasan yang sedang ramai diperbincangkan, kabarnya video ceramah tersebut segera dihapus kembali oleh pihak UGM karena banyak mendapat dislike dan komentar menggelikan. Saya pun ikut membaca beberapa komentar yang telah di-screenshoot itu dan heran, apa yang salah dengan ceramah itu? Dan kenapa dengan masalah hijrah itu sendiri? Bagaimana respon kaum muda?

Keheranan saya bukan ditujukan kepada pihak-pihak yang berkomentar, keheranan saya justru tertuju pada pihak UGM, untuk apa video tersebut dihapus? Jika hanya untuk menenangkan pihak yang merasa risih dengan kritikan Noorhaidi, maka justru muncul pertanyaan baru, siapa yang diuntungkan dengan dihapusnya video tersebut? Dan apa implikasi bagi alpanya pengamatan semacam itu?

Konteks pembicaraan Noorhaidi mencakup bulan ramadhan sebagai pemicu semangat ketakwaan, khusunya bagi kaum muda. Beliau berusaha menguraikan seperti apa pola bangkitnya radikalisme dan terorisme lewat semangat hijrah yang digandrungi kaum muda saat ini. Beserta kritik atas doktrin “al-Wala wal-Bara” sebagai salah satu konsep kunci ideologi gerakan keislaman dalam konteks radikalisme dan terorisme.

Apa yang disampaikan oleh Noorhaidi Hasan, perlu diletakkan sebagai upaya mengembalikan makna hijrah ke bentuk spiritual-trensendental. Yaitu, melalui semangat ketakwaan di bulan ramadhan sebagai titik balik penghayatan terhadap identitas sebagai seorang hamba. Sebaliknya, ia mengajak untuk meninggalkan doktrin hijrah yang bersifat politis. Lebih jauh, upaya korektif ini tidaklah lahir hanya karena momentum ramadhan, melainkan karena bersinggungan langsung dengan realitas korona bila dibaca sebagai rangkaian krisis.

Orientasi Kaum Muda Berhijrah

Pada titik ini, korona telah membawa berbagai dampak pada tatanan kehidupan manusia. Imbasnya, institusi agama, sosial, politik, hingga ekonomi mengalami permasalahan yang cukup berarti. Apabila hendak dicontohkan untuk aspek ekonomi, gelombang PHK telah memukul ketahanan keluarga Indonesia sekaligus melipat-gandakan angka pengangguran di Indonesia, khususnya pengangguran yang berasal dari kalangan muda.

Di sisi lain, persoalan ini diperparah oleh penanganan pemerintah yang cukup problematis. Seperti semrawutnya data penduduk miskin di beberapa daerah yang menyebabkan bantuan sosial tidak tepat sasaran. Pada tingkat pusat berbagai kebijakan pemerintah justru terkesan simpang siur dan kerap menuai kritik dari publik. Sementara pihak yang dianggap sebagai representasi rakyat justru sibuk melawan kehendak rakyat dengan berbagai intriknya seperti RUU Omnibus Law, hingga revisi UU MK yang baru-baru ini diberitakan.

Beberapa hal di atas, sebatas untuk menjelaskan adanya gejolak ekonomi, sosial, dan politik yang terjadi belakangan ini. Meskipun belum mencakup secara kompleks berbagai persoalan ke belakang yang telah disaksikan sendiri oleh publik. Namun yang pasti bahwa, berbagai persoalan itu setidaknya berdampak pada. Krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah dan meningkatnya beban persoalan yang harus dihadapi oleh masyarakat umum, khususnya kaum muda yang menjadi fokus pembicaraan ini.

BACA JUGA  Sinergikan NU-MD dalam Program Deradikalisasi

Pada titik kesadaran akan adanya krisis ekonomi, sosial, hingga politik sebagai persoalan makro. Kaum muda juga dihadapkan dengan persoalan mikro berupa ketidakpastian masa depan karena gejolak keadaan yang tak menentu akibat imbas dari korona, kaum muda beralih menjadi kelompok sosial yang rentan karena beban psikologis yang dihadapi di masa transisi identitas membangun kehidupan yang independen. Sederhananya, Kaum muda pada akhirnya mengalami disorientasi dan alienasi akibat gempuran persoalan makro-mikro sekaligus.

BACA JUGA  Mengkaji Ayat Perang Melalui Dialektika Hegel

Fase pergeseran identitas itu mendorong mereka untuk merespon beban berdasarkan tipikal generasi muda yang ditandai dengan perlawanan, frustasi, kegalauan, hingga ketidakberdayaan yang melahirkan identitas budaya kaum muda, di mana lewat identitas itu pula ideologi Islam politik (seperti hukumiyah, al-Wala wal-Bara) memberikan perlindungan ideologis untuk melawan rasa keterpinggiran mereka. (Hasan, 2012)

Membaca Wacana Gerakan

Tak heran apabila kaum muda menemukan identitas mereka di balik wacana yang didengungkan oleh kelompok Islam politik. Di mana nafas gerakannya termanifes dalam upaya pengakuan atas identitas yang selaras dengan keresahan generasi muda. Yaitu, mempertanyakan nasib mereka di hadapan realitas kehidupan yang dianggap menyedihkan ini sembari memimpikan masa kejayaan umat Islam di masa lalu.

Di sinilah kenapa, radikalisme dan terorisme tidak dapat sekadar dimaknai sebagai mimpi utopis belaka, lebih dari itu, wacana keislaman demikian amat erat berhubungan dengan luapan emosi kekecewaan, kegalauan, hingga rasa frustasi kaum muda yang merasa dipecundangi oleh kegagalan mereka untuk menemukan kemungkinan dan kepastian akan masa depan yang lebih baik. Sederhananya, radikalisme dan terorisme merupakan hasil dari persinggungan antara frustasi individual yang bersifat mikro dengan persoalan makro yang merupakan realitas yang dihadapi sehari-hari. Yang berjumpa dalam retorika ideologis.

Lewat uraian di atas, menjadi jelas mengapa pembicaraan mengenai gejala Islam politik relevan diangkat di tengah situasi saat ini. Sebab, gerakan Islam politik amat bergantung pada kesempatan politik yang ditandai dengan perubahan struktur ekonomi-politik. Maka, tidak heran apabila perkembangan narasi Islam politik selalu bergandengan langsung dengan krisis yang terjadi di suatu negara.

Semakin besar rasa frustasi yang dihadapi kaum muda, maka semakin tinggi pula peluang politik bagi gerakan hijrah politis untuk memoles kekecewaan kaum muda menjadi gerakan politik penentangan yang berwatak ideologis.

 

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru