34.2 C
Jakarta

Kaum Intelegensia Muslim Indonesia dalam Pusaran Politik Kekuasaan

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuKaum Intelegensia Muslim Indonesia dalam Pusaran Politik Kekuasaan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Judul Buku: Intelegensia Muslim dan Kuasa (Edisi Baru), Penulis: Yudi Latif, Penerbit: Penerbit Prenada, Jakarta, Cetakan: Pertama, Oktober 2021, Tebal: 680 halaman, ISBN: 978-623-384-031-6, Ukuran: 15,5 x 23. Peresensi: Bahrur Rosi.

Harakatuna.com – Menjelang kejatuhan rezim Suharto berbagai figur intelegensia Muslim secara mengejutkan memainkan peran sentral dalam wacana sosial-politik Indonesia. Hampir bersamaan banyak inteligensia Muslim menduduki eselon-eselon atas dalam birokrasi pemerintahan.

Isu-isu seputar sepak-terjang inteligensia Muslim semakin mengemuka sejak kelahiran ICMI pada 1990. Ketika gerakan reformasi muncul pada 1997/1998 beberapa figur inteligensia Muslim memainkan peran menentukan. Signifikansi-politik inteligensia Muslim ini semakin menonjol pada pemerintahan Habibie yang dibarengi dengan dominasi mantan aktivis HMI dalam kepemimpinan partai Golkar.

Kecenderungan ini memuncak dengan terpilih Abdurrahman Wahid sebagai Presiden pasca-Habibie. Meskipun inteligensia Muslim pada akhir abad ke-20 telah mencapai kredibilitas intelektual dan menempati posisi politik yang lebih baik partai politik Muslim secara keseluruhan tak kunjung memperoleh dukungan suara mayoritas. Selain itu sebagian besar pemimpin senior Islam menjadi kurang terobsesi dengan klaim-klaim Islam.

Meski pengaruh inteligensia Muslim meningkat dan sikap politik inklusif di kalangan kaum Muslim menguat partai-partai Islam masih bertahan. Seiring dgn kemunculan partai-partai Muslim yang liberal maupun yang tak liberal pertarungan ideologi dan identitas-politik baik antar maupun intra-tradisi-tradisi intelektual yang ada terus berlangsung dengan agenda yang berbeda serta intensitas dan ekspresi yang beragam.

Hal ini terkait superioritas pengetahuan dan kekuasaan, gambaran mengenai intelegensia muslim Indonesia mengalami pasang surut, baik secara politis maupun intelektual. Transformasi intelegensia muslim Indonesia yang semula termarjinalkan, dari dunia intelektual, politik dan birokrasi Indonesia menuju posisi sentral, adalah gambaran dari perjalanan panjang intelegensia muslim Indonesia.

Rentang waktu awal Abad ke-20 hingga penghujung Abad ke-20, perjalanan intelegensia muslim Indonesia memiliki dua corak relasi, yaitu bersifat sinkronik dan diakronik.

Buku dari hasil sebuah studi penelitian (disertasi) Yudi Latif yang berjudul Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abad Ke-20 ini, bermaksud memahami dan memaparkan kesinambungan dan perubahan-perubahan yang berlangsung dalam gerak perkembangan intelegensia muslim Indonesia.

Pemaparan relasi intelegensia muslim Indonesia dengan kuasa, yang bercorak sinkronik dan diakronik adalah fokus dari kajian buku ini. Sementara penggunaan pendekatan dinamis dalam penelitiannya dimaksudkan untuk mendapatkan pemahaman yang obyektif mengenai kesinambungan dan perubahan-perubahan dalam pembentukan genealogi intelegensia muslim dan pembentukan elit politik Indonesia (hal. 5).

Studi penelitian Yudi Latif ini diawali dengan bertitik tolak dari Abad ke-19, yaitu, memotret konteks kolonial yang di dalamnya kaum intelegensia muslim telah mendapatkan pendidikan dan mampu menciptakan ruang aktualisasi diri  di  tengah  masyarakat  kolonial.  Dari studi itu menghasilkan pemahaman bahwa kemunculan intelegensia Indonesia pada akhir Abad ke-19 hingga dua dekade pertama Abad ke-20, termanifestasikan dalam beberapa nama yang senantiasa berevolusi.

Mulai dari lahirnya tokoh-tokoh kemadjoean kemudian mendekonstruksi menjadi bangsawan oesoel, kaoem muda hingga terciptanya kaoem terpeladjar atau pemuda terpelajar atau jong. Di mana kemunculan intelegensia ini dilatarbelakangi oleh terjadinya reformasi etis Hindia Belanda akibat krisis ekonomi liberal di Hindia Belanda. Selain itu juga ditandai dengan masuknya paham reformisme modernisme Islam yang berusaha mengimbangi pendalaman arus sekularisme Barat.

Pada abad ke-20 perjalanan intelegensia muslim Indonesia ditandai dengan munculnya kaum intelegensia dan pelbagai pergulatannya dalam mencari pengakuan dan otoritas politik. Pada penghujung Abad ke-20 hingga fajar Abad ke-21 terjadi banyak perubahan rezim sistem baik ekonomi maupun politik dan kekuasaan yang silih berganti, masa ini juga diwarnai dengan krisis ekonomi dan terjadi era reformasi yang kedua setelah reformasi etis Hindia Belanda.

BACA JUGA  Menelaah Isu Khilafah dari Kacamata Sosial-Politik Indonesia

Maka, dapat dikatakan bahwa dunia perpolitikan Indonesia dari awal Abad-20 hingga akhir Abad-20 secara historis ditandai dengan keterlibatan secara aktif dan pertarungan memperebutkan kekuasaan kaum intelegensia muslim Indonesia.

Oleh karenanya pembentukan elit-politik dan birokrasi Indonesia senantiasa tidak bisa lepas dari perkembangan dan perubahan peta intelegensia muslim Indonesia. Bahkan, intelegensia muslim Indoneisa menjadi inti dari elit-politik Indonesia, mulai sejak diterapkannya Politik Etis Belanda hingga rezim pasca reformasi.

Upaya Yudi Latif dalam menelaah genealogi intelegensia muslim Indonesia dan hubungannya dengan pertarungan “kuasa” (power) di Indonesia Abad ke-20 ini, menggunakan metode interaktif, interdisipliner dan intertekstual dengan pendekatan dinamis dan kerangka waktu longue duree.

Sementara pisau analitis kritisnya mengadopsi dari pemikiran dan ide-ide para filosof kontemporer seperti Karl Mannheim, Antonio Gramschi, Michael Foucault, dan Jurgen Habermas. Di mana, dia tidak mau terjebak dengan kerangka teori mereka dalam menelaah genealogi intelegensia muslim Indonesia. Namun, pemikiran mereka hanya dijadikan sebagai sumber inspirasi, kemudian dia memodifikasi dan menyesuaikan pemikiran mereka menjadi sebuah kerangka analitis tersendiri.

Pendekatan dan metode yang digunakan dalam peneliti ini merupakan sikap kritis dan ketidakpuasannya atas fenomena bias Weberian dalam memahami masyarakat dan sejarah Indonesia. Sebagaimana yang dilakukan oleh para peneliti sebelumnya seperti konsep intelektual Julien Benda, asal-usul dan formasi elit nasionalnya Robert Van Niel, konsep solidarity makers dan administrator elit Indonesianya Herbert Feith dan sebagainya.

Kritik peneliti penggunaan pendekatan Weberian adalah tidak peka terhadap konteks sosio-historis dan formasi sosial dari masyarakat. Sehingga dalam kerangka waktunya tidak ada satupun penelitian mereka yang membahas dalam kerangka waktu longue duren.

Dengan pendekatan dinamis, Yudi Latif mampu menunjukkan bahwa sepanjang Abad ke-20 intelegensia muslim Indonesia terdapat jaringan diakronik intelektual muslim yang bersifat lintas generasi, yang memungkinkan terciptanya kontinuitas tradisi-tradisi politik dan intelektual muslim.

Sementara, dari pendekatan interaktif, menunjukkan bahwa formulasi ideologis dan strategi-strategi kuasa dari sebuah generasi intelegensia muslim tidak bisa dilepaskan dari adanya pengaruh generasi sebelumnya, kelompok lain dan interplay antar-beragam medan relasi kuasa. Dan pendekatan intertekstual, menunjukkan adanya interdependensi dari teks-teks antargenerasi intelegensia muslim Indonesia dan juga adanya kesalinghubungan antarteks – teks dan formasi diskursif dan nondiskursif (hal. 655).

Sebagai sebuah kajian sosiologis yang fundamental, buku ini telah menghadirkan sebuah wacana kritis mengenai intelegensia muslim dan dunia elit-politik indonesia, serta telah mampu menguak sisi lain dengan sebuah persepsi baru mengenai sejarah Indonesia. Tentunya juga telah mampu menggambarkan peta genealogi intelegensia muslim Indonesia Abad Ke – 20.

Meski menggunakan pendekatan dinamis dengan kerangka waktu longue duren. Sebagai sebuah kajian sejarah, buku ini masih belum mampu meneropong dari seluruh elemen yang berkaitan dengan intelegensia muslim Indonesia dan relasinya dengan kuasa, seperti aliran tarekat, gerakan Islam tradisional, intelegensia yang lahir dari Islam fundamental dan sebagainya.

Bahrur Rosi
Bahrur Rosi
Alumni Universits Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru