27.8 C
Jakarta

Kasus Pembunuhan Samuel Paty dan Nihilnya Sikap Tabayyun Umat Muslim

Artikel Trending

KhazanahTelaahKasus Pembunuhan Samuel Paty dan Nihilnya Sikap Tabayyun Umat Muslim
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Peristiwa pembunuhan terhadap Samuel Paty, guru sejarah bulan Oktober 2020 lalu masih menyisakan berbagai fakta. Kabar terbaru nyatanya kebenaran terungkap tatkala perempuan berumur 14 tahun, salah satu dari murid Samuel Paty mengaku berbohong atas apa yang selama ini terjadi. Fakta terbaru ini selaiknya membuat kita, umat Muslim, merasa malu.

Dilansir dari Tempo, Paty tertuduh telah melakukan tindak kejahatan dengan memberikan skorsing kepada gadis berusia 14 tahun tersebut lantaran tidak setuju dengan presentasi karikatur Nabi Muhammad SAW  muncul di majalah satire Charlie Hebdo. Padahal sebenarnya, gadis tersebut mendapat skorsing lantaran berulang kali absen sekolah.

Karena takut pada sang ayah, akhirnya gadis tersebut mengaku demikian. Hingga cerita tersebut ia sampaikan, sang ayah turut menyebarkan kabar tersebut dan memicu kemarahan publik. Sepuluh hari setelah siswi tersebut menceritakan itu ke ayahnya, Paty dipenggal oleh Abdullakh Anzorov yang berusia 18 tahun, seorang pengungsi dari Moskow berdarah Chechnya yang kemudian ditembak mati oleh polisi saat kejadian.

Kemarahan ini memicu berbagai pihak. Bahkan, isu ini menjadi isu internasional yang memicu reaksi umat Muslim seluruh dunia. Gencaran aksi di berbagai wilayah, khususnya di Indonesia menambah kegelisahan masyarakat dalam menyikapi kejadian-kejadian sensitif yang merugikan umat Muslim sendiri dan berdampak terhadap citra diri umat Islam yang ada.

Islamofobia semakin marak terjadi. Wajah umat Muslim kembali tercoreng lantaran kasus ini. Apalagi majalah satire yang pernah menerbitkan kartun Nabi Muhammad, kantornya pernah juga mendapat serangan dan menewaskan 12 karyawan setelah menerbitkan kartun Nabi Muhammad.  Sikap reaktif serta pembunuhan secara sadis lantaran kartun Nabi Muhammad memicu kemarahan masyarakat Perancis.

Orang-orang semakin merasa takut dengan Islam. Wajah Islam bagi sebagian orang berupa serpihan kaca yang berserakan di jalan. Tatkala ada orang yang melewati jalan tersebut akan terluka, bahkan ada yang sengaja melemparkan serpihan kaca tersebut dan menyebabkan kematian. Sikap reaktif melalui aksi ganas memicu kekagetan masyarakat Perancis. Mereka juga mengecam terbunuhnya Samuel Paty.

BACA JUGA  Kawal Pemilu 2024 Berjalan Bersih, Jujur, dan Bermartabat
Di samping itu, seruan boikot produk Prancis sesaat kejadian tersebut. Di tambah dengan kekecewaan publik atas pernyataan dari Presiden Perancis semakin gencar. Sayangnya kejadian tersebut berlanjut dengan aksi yang tidak biasa dilakukan dan tidak seharusnya dilakukan oleh umat Muslim.
Sebagian umat Muslim begitu reaktif berlebihan menanggapi hal tersebut. Ada yang sengaja membakar produk yang katanya berasal. Sebuah video beredar sesaat setelah membakar produk tersebut, mengibarkan sebuah bendera yang berisikan kalimat “Boikot Produk Perancis”.

Refleksi Keberagamaan Umat Muslim

Peristiwa ini sangatlah menyisakan luka amat dalam bagi sebagian besar umat non-Muslim tatkala menyikapi betapa beringasnya masyarakat Muslim menanggapi fenomena ini. Golongan-golongan Muslim keras yang gencar mengangkat senjata tatkala ada sedikit saja yang tidak sesuai dengan pandangannya, menyebabkan nama Islam semakin buruk di padangan non-Muslim.

Golongan-golongan Muslim tersebut biasanya memahami sesuatu langsung mereka tanggapi dengan amarah. Bahkan, membunuh adalah hal biasa mereka lakukan ketika bersinggungan langsung dengan hal yang vital, seperti misal kartun Nabi Muhammad tersebut.

Habib Djufri dalam tulisan “Kemanusiaan sebelum keberagamaan” menjelaskan bahwa, berislam sejatinya harus tertunjukkan dengan sikap-sikap yang mencerminkan ajaran Islam. Jika sudah begini, nyatanya seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia ikut tercoreng, padahal tidak semuanya di antara kita mengetahui isu ini.

Nihilnya sikap tabayyun dalam diri kita, umat Muslim, justru ini mengindikasikan bahwa sebagian besar umat Muslim masih mudah tergiring oleh berbagai informasi yang seharusnya ada berbagai penilaian yang wajib menjadi acuan.

Sikap tabayyun dengan melakukan dialog-dialog kecil seharusnya menjadi agenda wajib untuk permasalahan sensitif yang memicu kemarahan publik tersebut. Sayangnya kita tidak melakukan langkah itu, dan membiarkan seluruh informasi masuk dari berbagai media dan ikut arus atas kemarahan yang terjadi.

Sikap tabayyun harus terus kita maknai secara keberlanjutan mengingat era saat ini berbagai informasi yang belum jelas kebenarannya mudah masuk. Sehingga ke depan tidak ada lagi kisah Paty yang lain, yang terancam jiwanya untuk kejadian yang hampir mirip. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Aktivis perempuan. Bisa disapa melalui Instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru