29 C
Jakarta

Kapan Nikah, Nak? (Bagian XLII)

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Revolusi Akhlak Butuh Wali Mursyid Bukan Imam Besar

Pidato Rizieq Shihab pada acara Reuni Aksi Bela Islam 212 kemarin, terlihat daya juang Rizieq Shihab mulai melemah. Dari suaranya, seperti orang sedang sakit....

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

“Masa hampir umur tiga puluh tahun belum nikah.” Eppa’ selalu berkata blak-blakan soal status anak semata wayangnya.

Fairuz tidak merespons. Dia mengalihkan perhatiannya pada seekor ayam yang berseleweran di beranda rumah. Hush, hush, hush. Ayam itu diusirnya. Takut buang kotoran sembarang di atas lantai.

Emma’ memasak nasi di dapur. Suara Eppa’ tak sampai di telinga Emma’. Biasanya Emma’ selalu belain Fairuz begitu Eppa’ tanya kapan Fairuz nikah.

Hati kecil itu memang benar, Eppa’ dan Emma’ pengin banget menggendong cucu dari anaknya sendiri. Tapi, apa daya kalo memang takdir berkata lain.

“Masih deket sama anak perempuan itu, kan?”

“Masih, Pa’.” Fairuz berbohong. Padahal, sudah lama tak saling berkabar. Seakan senja itu hanya menyisakan semburat rindu.

“Segera ajak nikah, Nak. Masa hati perempuan digantung. Ta’ bhegghus, tidak baik.”

Eppa’ berkata tenang seakan tidak merasakan hati anaknya yang sedang digoncang gelombang ketidakpastian. Fairuz setiap detik pun mengingat Diva. Seakan perempuan itu tak ada duanya. Diva telah menyempurnakan kekurangan Fairuz. Bukan soal Diva putri kyai besar di kampungnya lalu Fairuz jatuh cinta, tapi lebih karena Diva adalah perempuan yang kehadirannya tidak dapat membuat Fairuz berpaling lagi melihat perempuan lain. Sesederhana itu memang.

Sering Fairuz ditawarin nikah dengan perempuan lain, bahkan lebih cantik dan lebih terpandang dibandingkan Diva. Sayang, dia terus menolak, karena pernikahan adalah pilihan anak yang direstui oleh orangtua. Sampai detik ini pun Fairuz belum pernah dipaksa nikah dengan perempuan yang dipilihkan oleh Eppa’. Eppa’ hanya menawarkan. Kalo Fairuz sudah tidak mau, Eppa’ tidak menawarkan yang kedua kali.

Siang itu makanan sudah terhidang di atas meja. Di situlah Fairuz, Eppa’, dan Emma’ makan bersama selagi Eppa’ tidak pergi kerja. Biasanya kalo Eppa’ lagi di sawah, Fairuz sering bantu Emma’ mengantarkan makan siang Eppa’.

“Ma’, ceritakan sama anakmu.” Eppa’ memulai percakapan.

“Sambal terasinya bikin ngiler, Ma’.” Fairuz sengaja mengalihkan pembicaraan Eppa’. Fairuz sudah tahu pasti alurnya tak jauh dari pertanyaan kapan nikah. Pertanyaan yang sama dan sering diulang kadang membuat Fairuz kurang suka.

“Emma’ kan koki handal.” Emma’ senyum-senyum.

“Koki kaleng-kaleng.” Sahut Eppa’ ngiri.

“Nak Fairuz kalo cari istri, cari yang pinter masak juga, biar saingan sama Emma’.” Emma’ tertawa lepas.

“Tuh, denger apa kata Emma’mu.” Eppa’ mulai membicarakan soal pernikahan lagi. Padahal, masih makan. Bikin Fairuz nggak nafsu makan.

Engghi, Pa’.”

“Ma’, masa anakmu masih belum nikah sampai sekarang. Bile Emma’ saingan bi’ mantonah?, Kapan Emma’ mau saingan dengan mantunya.”

Emma’ mulai mengerti alur obrolan yang bisa mengusik hati anaknya. Emma’ coba mengalihkan, “Udah, udah, bahas nanti aja. Bennya’ acaca pareppa’nah ngakan tak berkat. Banyak ngobrol makannya nggak berkah nanti.”

Saat itu Fairuz merasa punya tempat bersandar saat ada sosok Emma’ yang dapat mensupport anaknya untuk terus bangkit saat jatuh berkali-kali. Fairuz selalu percaya, jodoh itu adalah takdir yang diperjuangkan dan selalu terucap dalam baris doa yang indah. Seperti bola, kadang jodoh itu dikejar makin menggelinding jauh, kadang dibiarkan malah makin mendekat. Manusia cukup berikhtiar dan mendekat kepada Sang Penentu jodoh itu, sampai ia berlabuh di hati yang suci. Hati yang suci tidak melihat pasangan karena kelebihannya, tapi ia selalu memandang kekurangannya untuk menyempurnakannya. Siapa yang berlabuh di hati yang suci, ia tidak bakal menyesal.

* Tulisan ini diambil dari buku novel “Senja Berbalut Rindu” (Dwilogi Novel “Mengintip Senja Berdua”) yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ulama Harus Tunjukkan Sikap dan Perilaku yang Baik

Harakatuna.com. Jakarta - Dakwah hakikatnya adalah mengajak kepada kebaikan, maka mengajak kepada kebaikan harus dengan cara yang baik. Seperti itulah metode yang dilakukan para...

Tiga Amal Saleh Yang Menyelamatkan Anda

Dalam sebuah hadis yang yang riwayatkan oleh Bukhori dan Muslim terdapat sebuah kisah yang menakjubkan. Yaitu selamatnya tiga orang yang terjebak dalam gua lantaran...

Gabungan TNI dan Polri Tangkap Kelompok Teroris MIT di Kabupaten Sigi

Harakatuna.com. Sigi - Hingga sepekan pascaserangan terorisme di Desa Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi, aparat gabungan TNI dan Polri mengintensifkan pengejaran kelompok teroris MIT. Tak hanya...

Agar Tidak Bosan Saat Menulis

Writer’s block, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh psikoanalis Edmund untuk menggambarkan keadaan penulis yang tidak bisa menggambarkan apapun dalam tulisannya. Situasi seperti ini hampir...

Islam Otentik Menolak Separatisme

Usaha membendung arus separatisme dan radikalisme  tidak bisa dilakukan hanya dengan menolak paham separatisme radikal atau menangkap pelaku teror. Melainkan memerlukan sebuah aksi pemerintah...

Palestina Gugat Bahrain Tentang Kebijakan Impor dari Permukiman Israel

Harakatuna.com. Tel Aviv - Kebijakan impor Bahrain dari Israel tidak akan dibedakan antara produk yang dibuat di Israel dan produk dari permukiman di wilayah pendudukan. Menteri Perdagangan, Industri...