31.1 C
Jakarta

Kampung Salafi dan Polisi Agama yang Terus Berkembang

Artikel Trending

Milenial IslamKampung Salafi dan Polisi Agama yang Terus Berkembang
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Saya tempo hari jalan-jalan di sekitar Sukoharjo, Jawa Tengah. Ada banyak jalan-jalan memanjang. Pedesaan-pedesaan yang dulunya hijau, segar karena penuh dengan hamparan tanaman padi, kini gersang. Desa ini kini sudah sesak dengan gedung-gedung kecil dan besar.

Jalan-jalan sempit itu mengantarkan saya pada sebuah perkampungan yang baru: kampung Salafi.

Banyak orang mengatakan kampung ini, dengan nama kampung salafisme. Penamaan itu dilekatkan karena di kampung ini sesak dengan orang-orang dan keluarga yang berpaham salafi. Di kampung ini, tidak ada keragaman agama, bentuk perbedaan pemikiran dan pilihan politik. Semua seragam salafisme.

Bahkan pendidikan-pendidikan yang berdiri semuanya adalah milik orang-orang yang mengajarkan dan berpandangan salafi. Masjid-masjid yang juga berdiri, mulai dari arsitek, khotbah, dan semacamnya diisi dengan orang-orang salafi.

Pengentalan Salafisme

Apa yang menarik dari kampung salafi ini? Hingga saat ini, kampung ini tidak pernah terjadi semacam percekcokan dan permasalahan mengenai agama. Bukan karena mereka hidup dalam satu naungan teologi yang sama. Namun, karena mereka sepakat bahwa hal-hal yang sudah dilekatkan pada dirinya adalah sesuatu yang benar dan tidak boleh dikritisi berlebih. Tetapi kalau yang lainnya boleh salah.

Jadi, mereka tidak pernah membicarakan hal-hal yang negatif tentang dirinya. Sesuatu yang terlihat dan terkesan jelek yang menempel pada salafi ini. Mereka lebih suka mengomentari hal-hal yang di luar dirinya. Mereka sibuk mengomentari dan melihat yang di luar, ketimbang melihat ke dalam. Akhirnya, gajah di kejauhan begitu sangat tampak, namun gajah di pelupuk mata sangatlah samar, bahkan seperti tidak ada ketika dilihatnya.

Yang menarik lainnya, kampung ini hanya dijadikan sebagai tempat tidur dan menikmati malam. Mereka ketika ingin memprotes suatu kebijakan atau menyuarakan pendapat, mereka mencari tempat ke Solo. Mereka mencari tempat-tempat yang memiliki magnet pantulan isu narasi yang jauh. Maka Sololah yang dicari mereka dan Solo menjadi kota yang sangat tepat untuk menjual isu mereka: para salafi ini.

Lalu di kampung salafi ini mereka ngapain? Kampung ini mereka dirikan sebagai basis untuk perkembangbiakan, baik perkembangan dalam pemikiran atau perihal akomodasi lainnya. Sejauh ini, tidak ada banyak orang yang mengetahui apa saja program dan yang telah dilakukan oleh manusia-manusia yang tinggal di perkampungan salafi ini. Hanya yang terlihat oleh mata masyarakat sekitar, ketika mereka berolahraga dan ketika saat menjalankan ibadah salat jum’at.

Polisi Agama

Menurut masyarakat yang tinggal tak jauh dari perkampungan salafi ini, mereka merasa tertekan karena serasa diawasi oleh “polisi agama”. Keagamaan mereka seperti tereduksi dan menjadi bulan-bulanan di antara mereka.

Sebab, anak-anak kecil yang mencoba menjalin persabahatan dengan anak-anak yang tinggal di perkampungan salafi ini, selalu mendapat respons yang negatif. Misalnya, gaya hidup seperti busana dan lain-lain tak lepas dari kritik mereka. Apalagi hal-hal yang menyangkut keagamaan meraka.

Sekadar memberikan contoh, ketika anak-anak perempuan keluar rumah tidak memakai kaos kaki, mereka sudah harus bersedia mendengar “caci maki” dari mereka. Bahkan kerudung yang mereka kenakan karena tidak sesuai dengan peradaban yang orang-orang salafi kembangkan, anak-anak ini mendapatkan intimidasi berupa perdebatan keagamaan. Salafi mengklaim bahwa orang Islam harus berpakain sesuai dengan kewajiban sebagai seorang muslim sejati.

Intolerasi di area kampung ini hidup. Namun sejauh ini, masih belum membeku dan meledak menjadi masalah horizontal.

Kampung salafi sampai hari ini masih eksis. Mereka berkembang secara keagamaan. Mereka juga berkembang dalam pendidikan mereka. Mereka juga mengembangkan bisnis dan filantropi. Mereka mengajak orang-orang untuk bergabung dan tinggal bersama mereka. Bahkan hari ini mereka memiliki bisnis seperti pabrik roti, toko pakain hiking, dan olahraga penunggang kuda. Apakah kampung salafi ini akan menjadi masalah besar nantinya? Biarlah tulisan selanjutnya yang menjawab.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru