31.4 C
Jakarta

Julukan Penulis sebagai Tukang Halu, Cocokkah?

Artikel Trending

KhazanahLiterasiJulukan Penulis sebagai Tukang Halu, Cocokkah?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Kira-kira keputusan buat mendalami hobi menulis tepat tidak ya? Takut kalau ternyata memilih hobi yang salah, apalagi kalau banyak orang yang berpendapat menulis itu hanya halu saja. Pendapat mereka memang tidak salah tapi apakah bisa menulis dianggap seremeh itu. Perasaan-perasaan seperti itu yang saat ini membuat kebanyakan orang enggan meneruskan hobinya sebagai penulis.

Apakah pantas penulis dijuluki sebagai tukang halu? Apakah bisa kita menyebut penulis profesional seperti Tere Liye dan Andrea Hirata sebagai tukang halu? Tentunya itu tidak mungkin sebab kita semua telah mengakui profesionalitas mereka sebagai seorang penulis.

Itulah mengapa penulis lebih dari sekadar penghalu. Menulis bukan hanya bermodal mimpi atau halusianasi belaka, melainkan membutuhkan suatu skill dan juga riset yang mumpuni dan berkualitas untuk bisa menciptakan suatu tulisan baik berupa cerita atau yang lainnya sehingga dapat layak baca dan dinikmati oleh para pembaca.

Jadi penulis itu gak sembarang halu, jadi penulis itu membutuhkan skill. Baik itu menulis novel, cerpen, komedi, nonfiksi, atau fantasi. Dimulai dari menciptakan ide, lalu menyusun kerangka cerita, kemudian melakukan riset sampai merangkai tata bahasa untuk di tuangkan menjadi kesatuan alur cerita.

Semua orang tentunya bisa mempelajari skill, tapi tidak semua orang bisa ahli dengan skill itu apalagi perlu adanya waktu. Sebab suatu pembelajaran dan pengembangan dalam kurun waktu itu memerlukan adanya kerja otak, melibatkan perasaan dan juga pastinya tenaga.

Nulis itu merupakan hal yang cukup sulit, dan hal menariknya dari menulis yaitu tidak semua orang bisa menemukan minatnya. Apalagi menemukan minat di menulis lalu langsung jatuh cinta sama menulis itu. Sebab kebanyakan orang sulit menemukan minat kemudian tiba-tiba mereka sadar bahwa mereka tidak memiliki minat apa-apa terhadap sesuatu, sehingga membuat mereka mulai mencari pelarian dari perasaan mereka yang lelah terhadap kondisi dunia yang berputar begitu cepat saat ini.

Bagi kita yang sudah menemukan minat terutama di menulis ini tentunya kita harus bisa berbangga. Karena kita bisa menjadi salah satu orang yang beruntung melalui tulisan-tulisan kita. Bisa jadi melalui minat menulis akan mengantarkan kita kepada kesempatan-kesempatan besar dalam hidup yang kita tidak pernah duga sebelumnya.

Tidak tepat ketika menulis dibilang halu, sebab sebutan halu itu merujuk kepada halusinasi. Tidak mungkin orang menulis dalam keadaan halusinasi atau bahkan berhalusinasi dalam keadaan menulis. Jika kata halu diubah menjadi berhayal mungkin iya atau paling tepat yaitu berimajinasi.

Menulis memilki berbagai keunikan salah satunya yaitu proses menjadikan suatu tulisan menjadi cerita yang menarik itu tidak dimiliki banyak orang. Imajinasi menjadi titik awal seseorang untuk menulis, sehingga salah apabila penyebutan daya imajinasi seseorang disebut dengan halu. Karena penulis itu tidak halu, tetapi berimajinasi

Berikut beberapa langkah yang bisa digunakan untuk melatih imajinasi menulis. Karena imajinasi menjadi modal penting ketika menulis, akan menjadi suatu masalah nantinya jika otak sulit bekerja sama didalam berimajinasi. Langkah-langkah ini bisa diterapkan dan digunakan ketika menulis setiap harinya agar bisa berkembang menjadi tulisan.

  1. Mencorat-coret terlebih dahulu ide di atas kertas atau buku. Jadi sebelum tulisan dituangkan di leptop tuangkan dulu lewat tulisan dikertas.
  2. Tulis dan gambarkan cerita atau ide tulisan dalam 6-10 kata terlebih dahulu.
  3. Yang terpenting menulis juga harus beririgan dengan membaca jadi kita harus punya buku bacaan yang diminati. Biasakan membaca buku minimal 1 halaman per harinya lalu tulislah kesimpulan yang didapat dari membaca buku tersebut.
  4. Bebaskan imajinasi yang kita miliki atau tulislah apapun yang terlintas dipikiran kita. Jangan pernah merasa takut salah dan tulislah semengalir mungkin.
  5. Tulislah kata ganti “saya” menjadi “aku” lalu resapi seakan-akan kita masuk dalam tulisan itu.
  6. Berikanlah sesekali waktu tenang kepada pikiran kita dengan cara diam sejenak atau menenangkan diri.
  7. Tulislah semua pertanyaan yang muncul dan terlintas di pikiran kita meskipun terkadang itu terdengar aneh.
  8. Perlahan mulailah mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang sebelumnya. Usahakan dalam menjawab pertanyaan dilihat melalui berbagai perspektif.
  9. Baca juga buku lintas pengetahuan untuk bisa menambah wawasan dan cara sudut pandang kita untuk menulis.
  10. Bisa juga dimulai dengan rutin menulis di sosial media meskipun tulisannya hanya sebatas curhat.
  11. Tulislah dalam kertas setiap masalah yang kita hadapi sehari-harinya lalu rangkai menjadi kalimat lalu bacalah perlahan-lahan.

Janganlah kita malu dan minder terhadap hobi menulis yang dimiliki, karena skill dari menulis itu suatu saat akan dibutuhkan salah satunya bagi mahasiswa yaitu untuk mengahadapi tugas skiripsi. Selain itu tanpa disadari saat membuat cerita kita sedang melakuakan suatu kegiatan namanya meriset sehingga bisa mempelajari hal baru. Misalnya saat kita sedang bikin cerita fantasi kerajaan, kita akan riset tentang culture era kerajaan itu bagaimana lalu kita juga akan melihat dari persepektif yang berbeda.

Biarlah ada yang berpendapat penulis itu suka halu, tetapi bagaimanapun dalam menghalu tersebut perlu adanya usaha untuk bisa mencari tema yang tepat, problematikanya seperti apa  lalu strategi untuk konfliknya bagaimana, dan yang paling penting pelajaran dari keseluruhan cerita itu apa. Tentunya untuk mendapatkan itu semua bukan dengan asal halu dan cerita.

Ada istilah bahwa kita akan dicintai orang lain apabila kita bisa mencintai diri kita sendiri terlebih dahulu. Begitupun dengan menulis, kita akan mendapatkan cinta dari para pembaca apabila kita bisa mengukir dan mencintai hobi menulis kita.

Septy Nur Fadhilah
Septy Nur Fadhilah
Mahasiswa Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru