26 C
Jakarta

Jokowi, Ekspansi Ideologi Transnasional, dan Ketangguhan Pancasila

Artikel Trending

Milenial IslamJokowi, Ekspansi Ideologi Transnasional, dan Ketangguhan Pancasila
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Ekspansi ideologi transnasional radikal memang benar adanya. Bukti riilnya adalah ketika bom terjadi, dan ketidakberterimaan dengan Pancasila yang dijadikan asas negara di Indonesia.

Maka itu, bila Jokowi sebagai kepala negara, meminta semua pihak waspada terkait rivalitas antarideologi sebenarnya sudah tepat. Apalagi dia mencoba mengingatkan soal meningkatnya ideologi transnasional di era disrupsi teknologi yang kian tak terbendung (Harakatuna 4/6/2021).

Mengutip detik, Jokowi bicara lantang tentang isu tersebut. Katanya, “yang harus kita waspadai adalah meningkatnya rivalitas dan kompetisi termasuk rivalitas antarpandangan, rivalitas antarnilai-nilai, dan rivalitas antarideologi. Ideologi transnasional cenderung semakin meningkat, memasuki berbagai semua lini kehidupan masyarakat, dengan berbagai cara dan berbagai strategi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga mempengaruhi lanskap kontestasi ideologi,” ujar Jokowi (detik 01/6/21).

Bahwa dengan meningkatnya teknologi menjadi isu yang genting di Indonesia itu persoalan lain. Tapi yang pasti, teknologi apapun namanya itu, telah menjadi wadah bagaimana paham atau ideolog disebarkan dan dipropagandakan. Jika masyarakat tidak antisipasi, pasti kena dampaknya.

Sebagaimana Jokowi mengatakan, “ketika konektivitas 5G melanda dunia, interaksi dunia juga akan semakin mudah dan cepat. Kemudahan ini bisa digunakan ideolog-ideolog transnasional radikal untuk merambah ke seluruh pelosok Indonesia, ke seluruh kalangan, dan ke seluruh usia, tidak mengenal lokasi dan waktu. Kecepatan ekspansi ideologi transnasional radikal bisa melampaui standar normal ketika memanfaatkan disrupsi teknologi ini,” tutur Jokowi (detik 01/6/21).

Apa yang dikatakam Jokowi itu proteksi awal. Yang jelas, pelan tapi pasti kita akan merasakan sendiri apa akibatnya bilamana dari sebagian pongah akan hal tersebut. Maka, dipihak lain kekhawatiran terjadi. Sebagaimana kekhawatiran Presiden. Kendati, milenial dianggap kurang mumpuni dalam pelbagai hal, lemah pemahaman agamanya di satu sisi, dan lemah nalar kritisnya di sisi yang lain. Karena itu, para radikalis dan teroris ini memilih milenial lahan sasarannya (Harakatuna 3/6/21).

Pada abad ini, teknologi telah menjadi kehidupan itu sendiri. Dia menggantikan dunia yang ada, bapak, ibu, pikiran, dan mungkin juga pacar. Semuanya diurus oleh digital. Jika kita pengen jajan, sekali klik datanglah makanan. Jika kita pengen belajar agama, datanglah bahan atau konten yang mengajari tentang agama. Nah, disitulah kerentatan kita sebenarnya. Pikiran hilang tergantikan digital. Urat terpinggirkan digantikan digdayanya digital. Maka, pikiran dan urat telah mati.

BACA JUGA  Yang Luput dari Sorotan; Firanda Andirja, Wahabi-Takfiri yang Wajib Diboikot
BACA JUGA  Taliban di Afghanistan; Seperti Itukah yang Diinginkan Pejuang Khilafah di Indonesia?

Benar apa yang dikatakan editorial Harakatuna. Bahwa teknologi telah menjadi kehidupan nomor satu di badan milenial. Apa-apa yang diperlukan mereka lebih memilih digital sebagai jalan pintas utamanya ketimbang dunia nyata. Maka, kemudahan-kemudahan tersebut, bisa menjadi lembah yang mudah juga digunakan ideolog-ideolog transnasional radikal untuk merambah ke seluruh pelosok Indonesia, dengan memanfaatkan disrupsi teknologi. Jika kecepatan konektivitas 4G saja telah sehebat itu jualan ideologi transnasionalnya selama ini, bagaimana jika 5G kelak.

Mengingat kita yang sebentar lagi bakal berada pada perangkat yang super canggih, sudah saatnya kita memperkakaskan diri. Salah satunya sejak sekarang kita sudah menyiapkan atau meraba apa yang bakal terjadi. Di pihak negara, dengan memperjelas bahtera ekspansi ideologi transnasional dan bahayanya. Sementara kita, sepatutnya menghindari atau mengkaji apa-apa yang membahayakan orang terdekat dengan mengkonter narasi ideologi.

Paling tidak, mengerjakan apa seperti Jokowi mengatakan: “Pancasila harus menjadi fondasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkeindonesiaan. Saya mengajak seluruh aparat pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, para pendidik, kaum profesional, generasi muda Indonesia, dan seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu padu dan bergerak aktif untuk memperkokoh nilai-nilai Pancasila dalam mewujudkan Indonesia maju yang kita cita-citakan,” (detik 1/6/21).

Kendati demikian, sudah saatnya kita menerapkan konsep dan arahan presiden Indonesia. Menolak dengan keras ideologi transnasional, radikal dan terorisme. Termasuk konsep khilafah, HTI dan ISIS. Jika bisa dilakukan, maka radikalisme dan terorisme bakal tidak punya tempat dan wadah di NKRI.

Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru