26.3 C
Jakarta

Jika Ada NII Garis Putih, Siapa NII Garis Hitam Itu?

Artikel Trending

Milenial IslamJika Ada NII Garis Putih, Siapa NII Garis Hitam Itu?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Setelah 16 tersangka teroris Negara Islam Indonesia (NII) ditanggap di Sumetara Barat (Sumbar), persoalan makin mengkerucut. NII sebagai pengusung syariat Islam pertama di Indonesia, memperlihatkan basisnya.

Menurut Densus 88, NII terbagi menjadi dua. Pertama, NII yang mengaku Garis Putih. Sedang kedua, NII yang dicap sebagai Garis Hitam. Nah siapakah kedua NII tersebut.

Menurut Densus 88, mereka yang mengaku NII Putih, mereka yang sampai saat ini bergerak sesuai dengan garis-garis yang ditentukan oleh Sarjono Kartoesuwiryo. NII Putih ini, mereka yang gerakannya tegak dan lurus dengan Kartoesuwiryo. Ada garis keluarga atau dari kampung. Di sini terlihat bagaimana identitas dan garis turunan menjadi legitimasi.

Ideolog NII Putih: Kartoesuwiryo

Kartoesuwiryo sebagai ideolog pertama NII, menjadi acuan dalam aktivitas mereka. Kepopuleran pemikiran Kartoesuwiryo ditambal-sulam dalam gerakan NII hari ini. Menurut Densus 88, teroris yang ditangkap di Sumbar masuk dalam bagian ini.

Kita tahu, Kartoesuwiryo adalah pejuang syariat Islam paling ampuh di Indonesia dari masa ke masa. Dia aktif mempopulerkan bahkan memprovokasi masyarakat untuk terlibat dalam perjuangan mendirikan negara Islam.

Sejak 1930an, Kartoesuwiryo sudah terlibat dalam aksi-aksi yang digulerkan oleh Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Termasuk, penggagas NII itu sebelumnya aktif di Masyumi. Namun, dalam beberapa hal, Kartoesuwiryo tampak tak setuju dengan ide-ide Masyumi dan PSII. Dan ia juga seperti merasakan kalau tak terlalu diberikan harapan yang nyata untuk mengejewantahkan seluruh idenya dalam kedua oraganisasi tersebut.

Dengan ide dan gerakan yang ekstrem, Kartoesuwiryo merasa perlu untuk mendirikan sebuah organisasi yang bisa menampung ide-idenya. Maka dengan itu, ia mendirikan atau Negara Islam Indonesia. Pertama-tama, anggota NII adalah keluarga, kerabat dekat, dan santri-santrinya yang begitu mencintainya. Namun belakangan, banyak masyarakat juga ingin terlibat bersama dalam perjuangan mendirikan negara Islam.

Sampai saat ini, NII juga masih berkeinginan mendirikan Daulah Islam. Bahkan juga berencana menggulingkan pemerintah yang sah, seperti yang ditemui dalam dokumen yang tertangkap dalam 16 teroris di Sumbar.

BACA JUGA  RKUHP, Neo-Otoritarianisme, dan Isu Khilafah

Dalam catatan Densus, gerakan dan penyebaran Ideologi NII hari ini mengacu pada dua acara. Pertama, pemikiran terkait pendirian negara berdasarkan syariat Islam itu disebarkan secara turun temurun dari generasi ke generasi pimpinan kelompok itu, Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo.

Cara kedua, adalah melakukan perekrutan dan diikuti dengan baiat atau sumpah setia kepada NII. Perekrutan dilakukan lewat empat tahap yang disebut sebagai pencorakan. Kegiatan itu diberi kode P1, P2, PL/P3 dan P4. Di mana, setiap calon pengikut NII akan diberi materi dan pemahaman terkait syariat Islam.

Terbukti Nyata

Materi syariat Islam ini menyangkut tata cara ibadah NII, sejarah perjuangan umat Islam (wabil khusus sejarah perjuangan NII), dan nilai-nilai keislaman versi NII. Setiap calon anggota, harus dibaiat melalui tiga tahap: pertama, baiat jemaah imammah; kedua, baiat NII/Kenegaraan; dan ketiga, baiat perjuangan. Dengan mengikuti sejumlah tahap itu, barulah dapat diangkat sebagai warga, pengurus, bahkan pejabat dalam NII.

Kita lihat dalam segi tahapan menjadi warga negara NII sangatlah susah dan ekstrem. Maka sacara teoritis, jika warga negara itu sudah jadi dan tergelincir, dengan sekali klik, sangatlah menjadi barang yang sangat berbahaya. Dengan itu pula, maka pencegahan dan kontra narasi ideologi NII menjadi sangat urgen dan penting hari ini.

Hal tersebut tidaklah mengada-ngada. Karena terlihat sangat jelas fakta, bukti, dan artefak sejarahnya. Maka untuk sekarang ini, sudah saatnya kita kembali kepada diri sendiri, bahwa menyadari akan berbahayanya teroristik dan tidaklah apatis dalam dinamika ideologi terorisme, sangatlah menentukan bagaimana kehidupan ke depan. Lihat kasus di Bali, bagaimana kita abai dalam gerakan terorisme. Ratusan warga negara dana asing mati sia-sia.

Sekarang, kita perlu sadar bahwa terorisme bukanlah mainan yang manja. Namun ia sekelompok manusia yang bringas dan menakutkan. Ingat, jika NII Garis Putih sudah bisa melakukan ekspansi ajarannya sedemikian ekstrimnya, bagaimana dengan NII Garis Hitam?

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru