27.1 C
Jakarta

Jihad Tak Harus Berniat Jahat

Artikel Trending

Presiden Joko Widodo final memastikan menunda pembahasan Revisi Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP). Namun, putusannya, mengapa masih timbul reaksi dan ketegangan politik di tengah-tengah masyarakat. Dan ada yang beranggapan, revisi tersebut justru menjadi pintu masuknya ideologi atau paham komunis alias PKI di negeri ini.

Ketengangan inilah yang timbul kontroversi di kalangan para pendemo RUU HIP, adanya jamaah FPI yang terlibat dalam organisasi Aliansi Nasional Anti Komunis (ANAK), mereka adalah kelompok yang mengajukan respons beragam. Melalui Instruksi Nasional ANAK Komando Siaga 1. Terdapat beberapa poin penting harus kita hindari.(26/06/2020)

Pertama, untuk mengadakan apel siaga bagi seluruh rakyat Indonesia untuk ganyang komunis. Kedua, selalu waspada dan siaga I untuk sewaktu menghadapi serangan gerombolan trisila dan ekasila. Ketiga, kumandangkan jihad qital apabila serangan dilakukan oleh kaum komunis trisila dan ekasila. Keempat, sosialisasikan terus ciri komunis trisila dan ekasila beserta bahayanya ke seluruh pelosok daerah agar segenap rakyat Indonesia tahu dan waspada. Kelima, jangan pernah gentar dan ragu.(sumber: Detik.com)

Catatan demikian, terkesan provokatif jika memang itu adalah instruksi. Sehingga, mereka seakan merasa ada ancaman besar, meskipun pemerintah memastikan DPR untuk menunda pembahasan RUU tersebut. Terbukti mereka tidak pernah meyakini tindakan Presiden kali ini sudah benar (ilusi).

Sangat disayangkan, instruksinya dalam menolak RUU amat esktrem, dan radikal. Bagaimana pun, jihad mereka benar dalam konteks konstitusi, dan demokrasi. Tetapi, sebaliknya, secara politik hukum pidana maupun hukum Islam, ketika jihad itu disertai kata qital, maka yang muncul bukanlah garis perjuangan dalam mencari keadilan. Melainkan berbuat kejahatan yang mampu mencederai nilai-nilai agama, dan norma-norma Pancasila.

Di sinilah, potensi kekerasan dan peperangan sesama umat Islam diurai karena berbeda dalam keyakinan maupun berpendapat. Pertimbangan Presiden selalu tidak benar di mata kelompok ekstrem-radikal. Lebih-lebih bagi FPI, dan eks HTI. Dimana sikap mereka terlalu emosional, dan ditutupi oleh kebencian terhadap apa yang menjadi hak prerogatif, serta tanggung jawab pemerintah itu sendiri.

Memahami Jihad Qital

Tafsir jihad kerapkali disalahpahami oleh kaum ekstremis, mereka memahami konsep tersebut identik perang fisik. Apabila setiap seseorang berniat jihad qital di tengah situasi damai, secara filosofis telah memenuhi unsur perbuatan meski tidak secara fisik. Dalam hukum pidana, Utrecht (1960), menamai istilah teori mens rea. Yaitu, soal sikap batin pelaku dalam berbuat.

Padahal, dalam Islam, salah seorang sahabat nabi yang bernama Ibnu Abbas (2018), “pernah menjelaskan bahwa jihad adalah mencurahkan segenap kekuatan dengan tanpa rasa takut untuk membela ajaran Allah dari cercaan dan permusuhan.” Dalam konteks jihad qital, mereka justru memancing-mancing amarah pemerintah yang berakibat munculnya permusuhan.

BACA JUGA  Ihsan Tanjung, Pembatal Iman, dan Pemurnian Tauhid

Jihad yang berniat jahat tersebut telah menunjukkan adanya praktik-praktik keberagamaan yang sifatnya ekslusif, dan timbul perpecahan di kalangan umat Islam. Langkah-langkah mereka menolak sah-sah saja dalam negara hukum yang demokratis. Tetapi, niat jahat harus dihindari.

Alasan filosofis tersebut berdasarkan teori jihad yang sesungguhnya, sebagaimana Rovi’i (2018) mengutip Hadits nabi. Bahwa, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengikuti instruksi mereka. Karena itu, Rasul disakiti sekali pun, maka dia memaafkan orang menzaliminya, memaafkan orang yang mengusir dari tanah airnya, memaafkan orang yang menyakiti dan memakinya setiap hari. Bahkan, kepada musuh tawanan perangnya, Rasul hanya berkata “pergilah kalian, karena kalian orang-orang bebas.” (HR. Imam Syafi’i)

BACA JUGA  20 Orang Teroris, Kotak Infak, dan Menteri Agama

Artinya, jihad Rasul itu lebih suka dan cinta akan esensi damai daripada bertikai. Sedangkan jihad qital memilih jalan pertikaian dibanding perdamaian. Dengan demikian, tindakan inilah yang dilakukan Rasul yaitu harus menghindari permusuhan demi tegaknya situasi ketentraman.

Secara literatur maupun substantif, jihad perdamaian ini perlu diamalkan oleh kaum ekstrem. Sehingga, mereka tidak lagi terjebak oleh paham-paham radikal yang bisa menyebabkan siapa saja bertindak keras, kejam, dan tidak mengait-kaitkan dengan ajaran-ajaran maupun simbol-simbol Islam.

Jihad, sebenarnya, perlu ditempatkan kepada tujuan kebaikan umat manusia, sedangkan qital hanyalah pembunuhan yang merusak jiwa manusia. Dua konsep berbeda yang harus dipahami secara kompleksitas keagamaan, dan mentaati fatwa-fatwa ulama dan doktrin agama. Dan juga menunjukkan kesetiaannya kepada negara.

Meluruskan Pemahaman

Allah Swt meluruskan makna jihad dalam firmannya (QS. al-Maidah: 87). Hai orang-orang yang beriman, jangan kalian mengharamkan apa-apa yang baik yang dihalalkan oleh Allah bagi kalian, dan jangan kalian berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.

Dalam kaitan ini, jihad qital adalah tindakan yang terlampau berlebihan. Dan ironis ketika hal itu bersifat instruktif, pemahaman tersebut mau tak mau menjadi koreksi. Agar tidak memicu peperangan fisik yang membuat kita sebagai umat Islam saling berontak, dan saling bermusuh.

Jihad harus dimaknai dan dipahami bagaimana melawan emosi/amarah, sebagaimana HR. Baihaqi, kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar. Mereka bertanya; Apakah jihad yang lebih besar itu? Beliau bersabda: Jihadunnafs yaitu jihad melawan diri sendiri/hawa nafsu.

Oleh karena itu, FPI, eks HTI, dan kaum ekstremis lainnya. Yang tergabung dalam organisasi ANAK. Tentu, harus mengikuti jejak perjalanan jihad spiritual ala nabi Muhammad Saw. Dengan sumber keteladannya, Islam tidak lagi dicap sebagai agama yang memproduksi terorisme, dan kekerasan.

Hasin Abdullah
Hasin Abdullahhttp://www.gagasahukum.hasinabdullah.com
Peneliti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru