28.6 C
Jakarta

Jihad Keliru Kelompok Ekstremis Jihadis, Lawan!

Artikel Trending

KhazanahPerspektifJihad Keliru Kelompok Ekstremis Jihadis, Lawan!
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Term jihad selalu menarik untuk dikupas. Pasalnya, ideologi ini dipakai oleh kelompok ekstremis Muslim dalam menghalalkan aksinya untuk memerangi non-Muslim. Jihad oleh mereka dimaknai berperang secara fisik, sehingga perintah dalam al-Qur’an untuk berjihad adalah perintah berperang yang nyata, secara fisik dan menggunakan senjata.

Padahal, Islam adalah agama yang humanis, universal dan damai. Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dan pemaksaan, Islam justru mengajarkan nilai kebebasan dan toleran dalam beragama.

Jihad Islam dalam Konteks Keindonesiaan

Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Miṣbāḥ memaknai berjihad merupakan berjuang tiada henti dengan mencurahkan segala yang dimilikinya hingga tercapai apa yang diperjuangkan. Baik perjuangan dengan nyawa, harta, atau apa pun yang dimiliki, dengan niat melakukannya di jalan Allah, yang mengantar kepada ridha-Nya.

Menurut Al-Raghib Al-Isfahani, jihad terdiri dari tiga macam, yaitu jihad menghadapi musuh, setan dan hawa nafsu. Jihad menghadapi musuh sebagaimana yang dilakukan oleh umat Islam dalam memerangi orang kafir. Sedangkan jihad melawan setan adalah dengan tidak terpengaruh segala bujuk rayuannya untuk melakukan maksiat.

Jihad melawan hawa nafsu inilah jihad yang  paling tinggi dan sulit. Nafsu selalu mengiringi disetiap langkah manusia sehingga selalu mendorong manusia untuk melanggar segala perintah Allah dan melakukan larangannya.

Menurut Ibn Qayyaim, dari segi pelaksanaannya jihad dibagi menjadi tiga, yaitu jihad muthlaq, jihad hujjah dan jihad ‘amm. Jihad muthlaq adalah jihad nyata melawan musuh dalam medan pertempuran. Jihad hujjah adalah jihad dalam menghadapi pemeluk agama lain dengan menggunakan argumentasi yang kuat. Jihad dalam hal ini dilakukan oleh seseorang yang memiliki kemampuan berijtihad dalam menggali sumber naṣ al-Qur’an dan hadis.

Jihad yang ketiga adalah jihad ‘amm yaitu jihad yang mencakup segala aspek kehidupan, baik bersifat moral maupun bersifat material. Jihad ini dilakukan dengan pengorbanan harta, jiwa, tenaga, waktu dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Dari ketiga bentuk jihad, jihad melawan hawa nafsu adalah jihad yang paling besar. Rasulullah sendiri pernah bersabda bahwa perang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu.

Jihad dalam konteks hadis ada beragam versi riwayat. Ada jihad berbentuk peperangan, haji yang mabrur, melawan hawa nafsu, atau menyampaikan kalimat adil di hadapan penguasa. Yang jelas, jihad era sekarang disesuaikan dengan konteks Indonesia saat ini. Bahwa jihad bermakna luas, tergantung seperti apa musuh nyata terdekat kita saat ini. Sehingga musuh yang nyata yang seharusnya diperangi adalah kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan yang timbul akibat keserakahan manusia yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya.

Perlunya Membingkai Islam Humanis  

Ayat-ayat perang harus dipahami sesuai prinsip-prinsip dakwah Islam. Memerangi non-Muslim yang tidak mencelakakan orang Islam adalah suatu kezaliman. Sedangkan Allah tidak menyukai kedhaliman. Kedua, prinsip iman. Kufur merupakan kebebasan setiap orang untuk menentukan pilihan. Islam tidak pernah menjadikan paksaan sebagai sarana dakwah. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 256 tertulis bahwa Allah tidak menerima iman berdasar paksaan. Terlebih, Nabi juga tidak dimintai pertanggungjawaban atas hasil dakwahnya.

Dalam QS. Al-Hajj ayat 39-41 disalahpahami oleh kelompok jihadis sebagai dalil perang. Jika diselisik, ayat ini menjelaskan perang orang muslim terhadap orang musyrik karena dilatarbelakangi oleh siksaan orang musyrik terhadap Muslim. Dapat disimpulkan bahwa orang Islam boleh berperang dengan status orang yang diperangi. Perang ini sebagai bentuk pertahanan dan perjuangan melawan tirani karena teraniaya dan terusir dari kampungnya.

Masalahnya, kelompok-kelompok jihadis yang menyatakan perang ini terjadi sebab berbeda keyakinan. Padahal, Islam berperang karena memerangi orang kafir yang terlebih dahulu memerangi orang Islam, bukan sebab berbeda keyakinan.

Apa yang dicontohkan oleh kelompok ekstrimis selama ini justru menampilkan wajah Islam yang sadis, keras dan mengerikan. Ali Imron, eks-teroris Bom Bali mengatakan bahwa Umat Islam sendiri phobia jihad, phobia terhadap negara Islam justru disuguhkan hal seperti itu sehingga mereka bertambah takut.

Ali Imran menambahi bahwa dia menyesal dahulu ikut terlibat aksi terorisme tersebut demi berjihad. Padahal menurutnya, makna jihad sendiri adalah untuk menjaga nyawa orang supaya tidak sia-sia dimatikan oleh kezaliman dan kekuasaan. Untuk itu, perlunya membuka kesadaran dan berjuang melakukan deradikalisasi tidak hanya dilakukan oleh mantan radikalis tetapi kerjasama seluruh masyarakat. Saling memberi wawasan dan keterbukaan sehingga dapat mencegah generasi agar tidak salah dalam melakukan jihad.

Islam adalah agama yang damai, humanis dan toleran. Islam selalu menebarkan kelembutan, keadilan dan persaudaraan. Dalam QS. Al Baqarah 208, Allah menyuruh manusia supaya memasuki Islam secara keseluruhan dan jangan mengikuti langkah setan.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.

Setan selalu ada untuk menggoda manusia melakukan hal-hal yang diluar batasan syariat. Untuk itu, seluruh Muslim wajib beriman secara keseluruhan atas apa yang diperintahkan oleh syariat, sesuai prinsip Islam, Iman dan Ihsan. Pentingnya menebar kasih sayang, menjunjung tinggi persaudaraan, dan toleran sehingga membawa citra Islam yang baik, tidak seperti yang selama ini dituduhkan.

Muthoharoh
Muthoharoh
Mahasiswi Programm Studi Ilmu al-Qur'an dan Tafsir STAI Al-Anwar Sarang

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru