27.6 C
Jakarta

Jejak Teroris HTI; Menipu Organisasi Masyarakat, Menyusup Lembaga Pemerintah

Artikel Trending

Milenial IslamJejak Teroris HTI; Menipu Organisasi Masyarakat, Menyusup Lembaga Pemerintah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – “Itulah kelemahan BNPT. Mudah percaya,” seperti itu bunyi pesan masuk ke WhatsApp saya, dari seorang rekan. Dia yang tahu seluk-beluk teroris di lapangan, sebelumnya saya tanya tentang isu-isu terorisme terkini. Saya dengar kabar, beberapa hari sebelumnya, bahwa BNPT jebol. Saya tertarik untuk menelusuri jejak teroris ini dan menuliskannya. Namun, saya tidak akan menyebut identitas kecuali inisial. Silakan reka sendiri siapa kira-kira namanya.

Jadi, setelah penangkapan tiga tokoh oleh Densus 88 beberapa hari yang lalu, banyak analis mengatakan bahwa hari ini teroris menyusup ke banyak organisasi dan lembaga. Noor Huda Ismail, praktisi terorisme, penulis buku “Temanku, Teroris?” bahkan mengatakan,

“Karakteristik Jemaah Islamiyah (JI) saat ini tidak bisa dipandang hanya dari aspek teror. Pergerakan kelompok ini telah berkembang memasuki aspek sosial-keagamaan di tengah masyarakat. JI berafiliasi dengan lembaga pendidikan dan organisasi yang aktif bergerak pada isu-isu kemanusiaan.”

MUI, yang secara legal-formal adalah LSM, betapa pun ia tidak memiliki fatwa yang mengikat, tetap menjadi organisasi sosial yang diperhitungkan. Karenanya, ketika salah satu anggotanya ketahuan terlibat terorisme, bahkan pernah menjadi kombatan JI, respons masyarakat cukup beragam. Begitu pun dengan BNPT sebagai lembaga kontra-terorisme. Adalah menggelitik jika BNPT yang bertugas menanggulangi terorisme, justru juga terjebak infiltrasi teroris.

Tulisan ini tidak hendak menyudutkan organisasi masyarakat dan lembaga pemerintah yang disusupi teroris. Di sini hanya hendak sedikit menelusuri satu orang yang saya sebut di paragraf pertama tadi. Tujuannya, di satu sisi, agar siasat mereka terbongkar, dan di sisi lainnya agar lembaga apa pun tidak sesumbar dengan eksistensinya. Para teroris bukan orang-orang bodoh. Mereka selalu selangkah lebih maju, dan kita selalu tertinggal keteteran.

Dalam tulisan ini, saya mencari tulisan-tulisan terkait sebagai observasi, lalu menganalisis narasi yang mereka mainkan. Jejak teroris memang susah ditebak, tetapi kita bisa menelusuri ke mana arahnya. Selanjutnya, penindakan dikembalikan kepada masing-masing organisasi masyarakat dan lembaga pemerintah. Di sini hanya akan membuktikan satu hal: teroris tidak hanya mengebom. Mereka kini melakukan teror dengan menipu, menyusup, dan menguasai ruang-ruang kita.

Menelusuri Jejak Teroris

Ada sebuah komunitas. Namanya pakai bahasa Inggris, yang kalau diartikan kira-kira Komunitas Analis Ideologi Islam. Saya awalnya mengira, isinya akan tentang narasi-narasi positif untuk mengonter ideologi yang berbahaya bagi negara. Ternyata tidak. Komunitas tersebut diketuai oleh HAU, eks-HTI. Saya lalu mengkhawatirkan satu fakta: bukan suatu komunitas menunjukkan eksistensi kolektif? Artinya, dia tidak sendirian, bukan?

Ketika Ahmad Zain An-Najah, Anung Al-Hamat, dan Ahmad Farid Okbah ditangkap kemarin, HAU berkomentar begini,

“Kalau bicara bukti, ya bukti apa? Susah. Bukti terorisme atau bukti apa? Hanya karena ada kaitannya dengan JI? Sekarang begini, memang dia dulu di JI, tapi kemudian dia tinggalkan JI. Masa lalu enggak bisa dijadikan delik untuk mempersoalkan dia. Maka, benar statemen MUI, itu persoalan pribadi. Apakah betul atau enggak dia dikenakan UU terorisme ya itu di pengadilan. Tapi lagi-lagi masalahnya, siapa pun yang dituduh teroris ya susah dibuktikan.”

Inti narasinya adalah: memihak terduga teroris. Ini yang pertama. Selain itu, di website Damailah Indonesiaku, HAU pernah menulis dua artikel berjudul “Pembumian Pancasila untuk Tangkal dan Redam Radikalisme dan Terorisme” dan “Pengamat: Menghentikan Radikalisme Tak Cukup dengan Seruan Menag”. Isinya sama; berlagak kritis seolah membela negara, padahal arah narasinya adalah menggiring opini terorisme. Namun kedua tulisan tersebut sudah dihapus.

BACA JUGA  Eksklusivitas dan Kebebasan Beragama di Indonesia

HAU dekat dengan TNI. Di masa lalu, HAU merupakan salah seorang muassis HTI. Alumni UNAIR. Pasca tsunami Aceh 2004, ia mendapat tugas mengembang jaringan HTI di Aceh. Pada 2008-2012, ia menjadi Mas’ul Lajnah Siyasiyah (Biro Politik) DPP HTI. Tahun 2012 keluar dari HTI karena sering tidak sependapat dengan Ketum HTI. Namun, menurut salah seorang eks-Ketua DPD HTI, HAU hanya keluar secara keorganisasian, tetapi belum keluar secara ideologi.

Jika demikian, maka doktrin HTI akan selalu ia pegang dan amalkan. Ia hanya menggunakan trik menipu masyarakat dengan mengaku sebagai pengamat terorisme, dan menyusup lembaga pemerintah sebagai eks-HTI yang sudah taubat. Padahal tidak demikian faktanya. Seluruh narasinya tentang terorisme mengafirmasi jejak teroris: menyalahkan kebijakan pemerintah, mengkritik aksi kontra-teror, dan memberi ruang gerak pada terorisme itu sendiri.

Jejak HAU sebagai memang bukan jejak sebagai ahli bom. Namun, dengan menipu masyarakat dan pemerintah, HAU tengah menghancurkan strategi penanggulangan terorisme dari dalam: dengan berpura-pura jadi bagian dari eks-radikalis yang insaf dan memerangi radikalisme. Ini adalah siasat bughat tingkat tinggi: masyarakat dan pemerintah dikelabui tanpa merasa dikelabui. BNPT, mungkin, dari pemuatan artikel HAU sebelum dihapus, merasa berpartner dengannya.

Dari beberapa rekam jejak tersebut, teroris bisa diidentifikasi sebagai berikut. Pertama, eks-radikalis belum tentu murni taubat, bisa jadi tengah menyamar untuk menipu dan menyusup. Kedua, teroris tidak hanya yang ahli meledakkan gedung dan bom bunuh diri, melainkan juga yang menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan negara. Ketiga, membangun citra bahwa pemerintah, dalam kontra-terorisme, selalu ugal-ugalan dan tidak serius.

Infiltrasi: Sengaja atau Tidak?

Namun masalahnya, mengapa masyarakat dan pemerintah masih bisa kecolongan setelah tanda-tanda yang demikian jelasnya? Jawabannya adalah: terlalu polos memandang eks-radikalis. Padahal, profesionalitas di era disrupsi seharusnya bertumpu pada ‘sikap tidak mudah percaya’. Organisasi masyarakat dan lembaga pemerintah mesti memegang prinsip ini agar tidak mudah dikelabui. JI dan HTI, betapa pun tidak satu kelompok, sama-sama memusuhi NKRI.

Orang-orang yang keluar dari HTI, seperti dijelaskan oleh salah seorang eks-Ketua DPD HTI, ada dua macam. Pertama, keluar secara organisasi, tapi belum keluar secara ideologi. HAU adalah salah satunya. Mereka, secara ideologis, belum insaf, dan bergabung ke organisasi masyarakat dan lembaga pemerintah hanya untuk menipu dan menyusup—lalu menghancurkannya dari dalam. Sejatinya, mereka pro-terorisme dan berpotensi jadi teroris lone wolf.

Kedua, keluar secara organisasi dan secara ideologi. Ayik Heriansyah, Ainur Rafiq Al-Amin dan Ridha Salamah, contohnya. Mereka tergabung ke dalam organisasi moderat dan ikut andil membantu pemerintah dalam menanggulangi terorisme, dengan membuka kedok-kedok jejak teroris di internal HTI. Dalam keterlibatannya pada organisasi masyarakat, jenis kedua ini tidak berupaya menipu dan menyusup, dan justru menjadi penangkal terhadap jenis pertama tadi.

Jejak teroris bisa dilihat dari berbagai aspek. Bukan hanya JI yang teroris, HTI juga banyak. Jejak teroris HTI justru lebih halus, dan tidak mudah dipahami kecuali dengan menganalisis narasinya. HAU berhasil berkamuflase sebagai pengamat terorisme, bermitra dengan masyarakat, merasuki lembaga anti-teror. Padahal, setiap narasinya justru selalu memojokkan kontra-terorisme. Sebenarnya infiltrasi semacam ini disengaja atau tidak? Masyarakat akan berspekulasi.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru