25.2 C
Jakarta

Jangan Sampai Mendewa-dewakan Mereka yang Mengaku Keturunan Nabi

Artikel Trending

Gelar “habib” (jamaknya “habaib”) menjadi pembeda antara keturunan Nabi Saw. dan selain beliau. Sakralitas gelar habib tak kalah menarik dibandingkan dengan predikat nabiyullah yang disandang oleh Nabi Muhammad Saw. Masyarakat meyakini, menghormat habaib sama dengan menghormat Nabi, karena dalam diri habaib itu mengalir darah Nabi.

Menghormati habaib bukanlah sesuatu yang baru-baru ini dilakukan oleh masyarakat. Sudah dari beberapa tahun yang lalu, masyarakat menghormati habaib secara totalitas. Sedikit pun tidak ada celah untuk tidak menghormati habaib. Menghormati habaib diyakini sebagai bentuk akhlak yang mulai. Sebaliknya, menghina habaib termasuk akhlak yang buruk dan tentunya sama dengan menghina Nabi.

Sebagai keturunan Nabi, hampir secara keseluruhan habaib mengikuti jejak beliau. Ada habaib yang gemar berdakwah. Ada pula habaib yang gemar berdagang. Dan seterusnya. Pokoknya kebiasaan (sunnah) Nabi terlukis dalam kepribadian para habaib. Saya juga punya teman dan guru yang menyandang gelar “habib”, tapi mereka tidak mau dipanggil habib.

Teman yang saya maksud adalah Habib Husein Jakfar Al-Hadar. Habib Husein (saya akrab memanggilnya Bib Husein), selain suka bercanda dan ngopi, suka berdakwah di tengah anak-anak milenial. Dakwahnya adem banget. Tidak menggurui, bahkan tidak menyudutkan orang lain. Sedangkan, guru yang saya sebut habib adalah M. Quraish Shihab. Prof. Quraish dikenal sebagai ulama tafsir dan kealimannya diakui oleh jutaan orang, tak terkecuali di Indonesia. Prof. Quraish senang berdakwah, terlebih di media sosial. Saya senang mendengarkan dakwah Prof. Quraish, bukan hanya karena dia guru saya, melainkan pula karena dakwahnya yang menyejukkan dan tidak pernah menghina orang lain. Prof. Quraish menekankan dakwah dapat menggugah hati pendengarnya.

Para habaib memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi gelar “habib”. Habib Husein Jakfar Al-Hadar memetakkan, bahwa ada habib yang melihat gelar “habib” sebagai tanggung jawab. Pada bagian ini para habaib jelas sangat berat menyandang gelar yang punya ikatan yang kuat dengan Nabi Muhammad Saw. Para habaib akan berupaya semaksimal mungkin menjaga akhlak ketika berinteraksi dengan masyarakat, karena akhlak adalah inti dari agama itu tersendiri. Nabi Saw. sendiri menyebutkan: Innama bu’itstu li utammima makarim al-akhlaq. Maksudnya, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Habib Husein melanjutkan, bahwa ada habaib yang melihat gelar “habib” sebagai kebanggaan. Pada bagian ini sangat menyayangkan, karena para habaib merasa cukup dengan jerih payah dakwah Nabi yang dilakukan beberapa abad silam dan sekarang para habaib hanya mencicipi buah perjuangan beliau. Padahal perjuangan Nabi tidak berhenti sampai beliau wafat. Perjuangan beliau tetap ditegakkan sepanjang masa. Kemungkinan habaib yang terjebak dalam kebanggaan gelar “habib” akan tidak produktif dibandingkan para habaib yang memandang gelar “habib” sebagai tanggung jawab.

BACA JUGA  Terorisme Ala “Jihad” Agama di Era Millenial (2/2)

Para habaib memang penting dimuliakan. Namun, penting diingat memuliakan habaib itu hendaknya didasari dengan pikiran yang sehat. Tidak dibenarkan menghormat habaib dengan sikap fanatik. Sesungguhnya yang keliru bukan pada menghormatnya, tapi pada sikap fanatiknya. Sikap fanatik dapat menutup pikiran melihat sesuatu secara bijaksana. Pada sisi lain, sikap fanatik sangat berbahaya, karena dapat mengantar seseorang hanya membenarkan pendapatnya sendiri dan cenderung menyalahkan pendapat orang lain. Padahal, Islam sangat terbuka terhadap perbedaan, karena disebutkan dalam sebuah adagium: Al-Ikhtilaf rahmah, perbedaan itu rahmat.

BACA JUGA  Begini Ternyata Alasan FPI Dibubarkan Pemerintah

Sikap fanatik sebagian masyarakat terhadap seorang habib mulai terlihat kembali di permukaan semenjak beberapa hari terakhir dari kepulangan Habib Rizieq Shihab (HRS) ke Indonesia. Masyarakat mulai mensakralkan gelar “habib” kembali dan tidak mau melihat apa yang dilakukan oleh Habib Rizieq, apakah perbuatannya mendukung terhadap NKRI atau tidak. Habib Rizieq memiliki spirit yang besar dalam berdakwah. Hanya saja dakwah yang disuguhkan seringkali berseberangan dengan spirit Negara Indonesia yang menekankan nilai-nilai moderasi: santun, ramah, lemah lembut, dan terbuka terhadap perbedaan.

Sikap fanatik terhadap sosok habib tak ubahnya mendewa-dewakan mereka. Buya Syafii Ma’arif, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah menyebutkan, mendewa-dewakan sang habib merupakan perbudakan spiritual. Bung Karno puluhan tahun yang lalu sudah mengkritik keras fenomena yang tidak sehat ini. Pesan Buya Syafii penting direnungkan agar tidak terjebak dalam sikap fanatik yang dapat menutup akal berpikir sehat. Nabi Saw. tidak pernah mengajarkan umatnya mendewa-dewakan beliau. Nabi Saw. mengajarkan bagaimana umatnya menjadi pribadi yang berakhlak terhadap orang lain. Memperlakukan orang lain seperti berbuat terhadap dirinya sendiri.

Sebagai penutup, menghormati para habaib atau keturunan Nabi hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang benar. Apa yang dikatakan para habaib hendaknya diikuti selagi benar dan hindari jika tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Lihatlah para habaib bukan hanya kualitas genetiknya semata, melainkan pula argumentasinya. Jangan sampai kita terjebak dalam sikap fanatik yang membabi-buta, sehingga menutup akal sehat berpikir bijaksana. Sikap fanatik tidak dapat dibenarkan, karena dapat mengantar seseorang melakukan tindakan amoral dan tidak manusiawi. Jadilah umat Nabi yang kritis dalam menghormat para habaib.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru