Jangan Putus Asa!

0
Didi Junaedi/Dok.Pribadi

Jangan Putus Asa!

Oleh : Didi Junaedi*

Selalu ada kemudahan di tengah kesulitan, selalu ada peluang di tengah ketidakpastian, dan selalu ada harapan untuk hidup lebih baik dan bermakna di saat segalanya terlihat gelap dan buntu. (Didi Junaedi)

Asa atau harapan adalah sebuah alasan kenapa kita terus bertahan hidup. Seseorang yang selalu memiliki harapan dan cita-cita akan menjalani hidup dan kehidupan ini dengan penuh semangat dan optimisme. Dia akan terus berjuang mewujudkan harapan dan meraih cita-citanya, meskipun berbagai halangan, rintangan, ujian dan cobaan senantiasa menghadangnya. Dia yakin sepenuh hati, bahwa dengan usaha dan kerja kerasnya disertai doa dan petunjuk-Nya, suatu saat akan mencapai apa yang dicita-citakannya.

Kenyataan ini tentu bertolak belakang dengan sikap seseorang yang tidak memiliki harapan dan cita-cita. Dia selalu melihat hidup ini penuh masalah, kesulitan dan jalan buntu. Ketika serangkaian ujian hidup bertubi-tubi menderanya, seolah hidup terasa gelap, semua pintu tertutup rapat, sehingga pada gilirannya dia pun tidak tahu lagi arah hidupnya. Tidak jarang, orang-orang seperti ini akan berbuat nekat mengakhiri hidupnya dengan cara-cara keji. Mereka ini adalah orang yang sudah tertutup mata hatinya. Tidak bisa lagi melihat cahaya Allah. Dia lupa ada Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sang Maha Penolong yang senantiasa membuka lebar-lebar pintu rahmat-Nya bagi seluruh hamba-Nya.

Sungguh menyedihkan dan mengenaskan nasib orang-orang seperti ini. Di saat Allah memberi jalan kehidupan yang lebih baik dan bermakna, mereka justru menjerumuskan diri dalam kehinaan dan kesengsaraan. Padahal, Allah dalam sejumlah firman-Nya memberi kabar gembira, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. (Q.S Al-Insyirah: 5-6). Dalam ayat lain, Allah juga menegaskan, “Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya…” (Q.S Al-Baqoroh: 286)
Beberapa ayat tersebut menunjukkan bahwa selalu ada kemudahan di tengah kesulitan, selalu ada peluang di tengah ketidakpastian, dan selalu ada harapan untuk hidup lebih baik dan bermakna di saat segalanya terlihat gelap dan buntu.

Sebagai umat beragama, kitab suci melarang keras sikap putus asa. Karena, hakekatnya putus asa adalah bukti nyata rasa ingkar terhadap kuasa Tuhan. Bukankah Tuhan mahakuasa atas segala sesuatu? Mereka yang putus asa adalah orang-orang yang tidak meyakini kemahakuasaan Tuhan.

Bukankah Tuhan menyatakan dalam firman-Nya bahwa Dia tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuannya? Bukankah Tuhan yang menyatakan bahwa setiap manusia pasti akan diuji untuk mengetahui siapa di antara mereka yang paling baik amalanya? Bukankah Tuhan menjanjikan balasan berupa kebaikan serta kebahagiaan bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan yang menimpanya?

Jika demikian jelas dan terangnya firman Tuhan dalam kitab suci-Nya, lantas mengapa kemudian kita putus asa atas rahmat-Nya? “Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang kafir.” Demikian disebutkan dalam salah satu firman-Nya.

Putus asa hanya akan membuat hidup semakin susah. Putus asa akan menjadikan jiwa kita kerdil. Putus asa menutup pintu-pintu kebaikan. Putus asa mengunci rapat pintu kebahagiaan. Putus asa hanya akan mengundang murka Tuhan.

So, tetaplah sabar menghadapi setiap ujian dan cobaan hidup, ikhitar maksimal untuk mecari solusi terbaik, seraya memohon petunjuk Tuhan untuk dimudahkan jalan keluar atas setiap masalah dan dijaga untuk tetap berada di jalan-Nya.

*Penulis adalah Dosen Syekh Nurjati Cirebon dan Penulis Buku Motivasi Islami)