28.6 C
Jakarta

Jadilah Muslimah Penebar Kebaikan, Bukan Penebar Kebencian

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuJadilah Muslimah Penebar Kebaikan, Bukan Penebar Kebencian
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Judul Buku: Jangan Jadi Muslimah Nyebelin, Penulis: Asma Nadia, Penerbit: Republika, Cetakan: I, November 2021, Tebal: xiv + 348 halaman, ISBN: 978-623-279-126-8, Peresensi: Sam Edy Yuswanto.

Harakatuna.com – Idealnya, yang namanya muslimah mestinya harus selalu berusaha menjadi sosok yang menyejukkan dan gemar menebarkan kebaikan di tengah keluarga, para kerabat, dan masyarakat. Bukan malah sebaliknya, menjadi sosok yang sangat menyebalkan, misalnya bertampang judes, antisosial, dan hobi menebarkan kebencian di tengah masyarakat.

Seorang muslimah yang notabene sudah menutup auratnya, mestinya tak boleh berhenti sampai di situ. Artinya, jangan pernah berhenti belajar, terutama perihal agama. Misalnya, belajar tentang bagaimana menjalin interaksi yang baik dengan sesama, baik sesama perempuan maupun terhadap laki-laki.

Sebab selama ini masih banyak perempuan muslimah, yang mungkin niatnya menjaga diri dengan lawan jenis, tapi malah terkesan jutek, angkuh, dan sombong. Misalnya ketika berpapasan di tengah jalan, boro-boro menyapa, malah memasang wajah tak bersahabat. Contoh lain, sudah menutup aurat dengan baik tapi malah bergaul bebas tanpa batas dengan lawan jenis; pacaran dan pegangan tangan di tempat umum, dan seterusnya.

Menurut Asma Nadia, kesadaran berjilbab untuk masalah ibadah rata-rata sudah baik. Masalahnya, pemahaman orang terhadap keilahian kadang tidak lantas membuat mereka ‘peka’ saat berinteraksi dengan manusia lain. Tapi yang pasti, orang-orang yang punya hubungan baik dengan Allah, akan dengan mudah dan lapang dada menerima berbagai masukan dan ide-ide dalam upaya meng-ishlah-kan diri.

Ada sederet perilaku menyebalkan yang seharusnya dihindari oleh seorang muslimah dalam buku Jangan Jadi Muslimah Nyebelin karya Asma Nadia ini. Salah satunya ialah perilaku “bigos” atau biang gosip. Orang yang gemar menebarkan gosip, baik laki-laki maupun perempuan, memang teramat sangat menyebalkan.

Apalagi jika gosip tersebut berujung pada pencemaran nama baik dan memfitnah. Termasuk “bigos” juga kalau seseorang tidak bisa menjaga rahasia yang sudah diamanahkan kepadanya. Istilahnya “ember bocor”, tega menyebarkan aib dan rahasia teman atau sahabatnya sendiri.

Harusnya, orang yang sudah diberi amanah atau kepercayaan menjaga aib dan rahasia teman atau kerabat, maka ia harus menjaganya dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai membocorkannya ke orang lain, dengan alasan apa pun. Alangkah indahnya dunia, jika setiap orang, terlebih muslimah yang sudah menutup aurat dengan rapat, benar-benar bisa dipercaya dan diandalkan, hingga menjadi sandaran nyaman bagi sekitar. Teman, kerabat, dan siapa pun bisa yakin rahasianya aman di tangannya (halaman 76).

Gemar men-judge, menghakimi, dan menganggap diri lebih baik juga termasuk ke dalam perilaku yang harus dijauhi oleh siapa saja, lebih-lebih orang yang mengaku dirinya seorang muslim atau muslimah. Jangan pernah merasa diri paling benar dan paling alim hanya karena kita sudah mengenakan pakaian yang menutup aurat, sementara orang lain yang secara tak sengaja berpapasan di jalan dan belum menutup aurat dianggap (bahkan di-judge) sebagai orang yang tak tahu agama dan ahli maksiat.

Seorang muslimah, ketika ia telah berjilbab dan menutup semua auratnya, menandakan ia telah membuat satu langkah lebih, dibandingkan muslimah lain. Namun, ketika terselip perasaan bahwa hanya yang telah berjilbablah yang paling benar, maka ini merupakan kemunduran. Jilbab karenanya, adalah permulaan dari tekad untuk menjadi muslimah seutuhnya, bukan pencapaian final (halaman 184-185).

Dalam buku ini, Asma Nadia mengaku sedih jika kemudian dengan ‘jilbab’nya seorang muslimah merasa paling benar, dan berhak menghakimi orang lain. Dengan gampang memberi label jahiliah atau nggak syar’i pada tindakan muslimah lain yang nggak berjilbab.

Lebih jauh lagi menggeneralisasi seakan-akan hanya karena nggak berjilbab, maka semua yang berasal dari teman tersebut (apakah pendapat, usul, kalimat atau sikap) tidak mungkin ada yang benar. Padahal seorang muslim seharusnya bisa dan siap belajar dari siapa pun. Menerima apa yang dikatakan (jika benar) terlepas siapa yang mengatakannya.

Gemar menebar hoax atau berita bohong juga termasuk perilaku yang harus dijauhi oleh seorang muslim atau muslimah. Menahan mulut dan jari adalah sebuah keniscayaan bagi siapa pun. Jangan sampai mulut kita dengan mudahnya menebarkan berita yang belum terbukti kebenarannya. Pun dengan jari kita, jangan asal mengetik status, atau menyebarkan link-link informasi/berita yang provokatif dan belum terbukti kejelasannya.

Perihal hoax, Asma Nadia berpesan, kalau nggak tahu pasti kebenaran sebuah informasi, kalau sumbernya cuma dapat via whatsapp group, tidak ada pembahasan lanjutan di media berita, maka tahan jarimu! Hindari bereaksi terhadap berita itu, apalagi membagikannya ke saudara, teman, dan puluhan WhatsApp group—khususnya juga kalau informasinya nggak memiliki manfaat.

Terbitnya buku ini layak diapresiasi, sebagai bahan renungan bersama, khususnya para muslimah, agar terus belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Sam Edy Yuswanto
Sam Edy Yuswanto
Bermukim di Kebumen, tulisannya dalam berbagai genre tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional, antara lain: Koran Sindo, Jawa Pos, Republika, Kompas Anak, Jateng Pos, Radar Banyumas, Merapi, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dll.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru