29.6 C
Jakarta

“Isu Perempuan Bagian dari Kemanusiaan”: Membaca Gus Dur dalam Perjuangan Perempuan

Artikel Trending

KhazanahTelaah“Isu Perempuan Bagian dari Kemanusiaan”: Membaca Gus Dur dalam Perjuangan Perempuan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com Membahas gender dalam pandangan Gus Dur, tidak banyak tulisan Gus Dur yang ditorehkan. Namun kita bisa melihat gerakan yang dilakukan Gus Dur semasa hidupnya,” ucap Imam Nakha’i, Komnas (Komisioner Nasional) Perempuan, dalam acara bedah buku “Gender Gus Dur” yang diadakan oleh santri Gus Dur pada 18/0/2021.

Bagi saya, banyak hal yang perlu diteladani dari sosok Gus Dur melalui banyak aspek, termasuk bagaimana perjuangannya dalam isu kemanusiaan, termasuk perempuan.  menurut Imam Nakha’i, ada tiga aspek bagi Gus Dur dalam memahami agama, diantaranya: Memahami agama secara filosofis substantif. Kedua, agama sebagai nilai moral. Ketiga, agama adalah humanis.

“Yang dapat kita pahami dari sosok Gus Dur sangat luas, dia adalah post hukum Islam. Dia seorang sufi, makanya nilai-nilai kemanusiaan yang dimilikinya jauh dari apa yang kita pikirkan,” jelas Imam.

Kebijakan Gus Dur untuk perempuan semasa menjadi presiden

Buku “Gender Gus Dur” yang ditulis oleh Achilly Achidsty merupakan tulisan yang membahas kebijakan Gus Dur ketika menjadi presiden. Dalam waktu singkat yakni 1999-2001 Gus Dur bisa dikatakan berhasil pada masanya untuk mewujudkan kesetaraan gender. Hal itu dilihat dari kebijakan yang diterapkan olehnya.

“Di masa Gus Dur, perempuan menjadi subjek kebijakan, salah satu kebijakan yang dirubah oleh Gus Dur, peranan wanita menjadi pemberdayaan perempuan. Gus Dur berhasil memberikan peran perempuan dengan membuat Inpres pengarus keutamaan gender,” Ucap Hilly, sapaan akrab dari penulis buku “Gender Gus Dur”.

Menurut Hilly, kebijakan Gus Dur selama menjadi presiden cukup memberikan angin segar bagi perempuan yang ada di Indonesia. Apalagi di masa itu, perempuan masih belum memiliki ruang yang luas seperti sekarang ini.

“Perjuangan Gus Dur tidak terbatas pada kebijakan yang diberlakukan. Saya pernah diceritakan oleh Prof Musdah bahwa Gus Dur dalam perjalanannya mewujudkan kesetaraan gender, ia melakukan sosialisasi ke pesan-pesantren untuk memperkenal itu. Namun karena istilah gender itu cenderung dimaknai negatif karena beradal dai Barat. Maka istilah tersebut di ubah menjadi mitra sejajar. Sehingga istilah itu yang digunakan oleh Gus Dur”, jelas Hilly.

BACA JUGA  UAS, Musuh dan Ancaman Bagi Sebuah Negara

Gus Dur sosok berani dan bertanggung jawab

Tidak hanya itu, pada acara tersebut juga hadir Nur Rofi’ah, penulis buku “Nalar Kritis Muslimah” sekaligus pengampu serial ngaji KGI. Ia juga menyampaikan dalam forum tersebut bahwa Gus Dur adalah seseorang yang setiap pada nilai dan bertanggung jawab.

Meskipun demikian, dalam term perempuan, Gus Dur pernah dikritik soal humornya tentang perempuan. Hal itu termaktub dalam buku “Gender Gusdur”, hlm. 41. Para pejuang kesetaraan gender mengkritik secara keras humor Gus Dur yang bernada seksis dan mencederai perempuan.

Dalam memahami fenomena itu, menurut Nur Rofi’ah, kita harus tetap hormat pada seseorang meskipun tidak setuju terhadap pandangan orang lain, termasuk pandangan Gus Dur. Penyampaian itu kiranya bisa menjadi titik balik kepada kita bahwa akhlak merupakan bagian yang sangat penting bagi kita dalam menjalankan kehidupan sosial.

Apalagi ketika bersinggungan dengan orang, perbedaan pendapat, pandangan dan pemahaman akan tercipta sebagai bagian dari kehidupan. Melihat keniscayaan semacam itu, menghargai orang lain meskipun tidak setuju dengan pandangan bahkan pembicaraan yang dikatakan, penting untuk dilakukan.

Bagi Nur Rofi’ah, ada beberapa aspek yang perlu dipahami bahwa, perjalanan setiap orang adalah wujud belajar. Terkadang, seseorang juga salah dalam melakukan sesuatu, termasuk salah berbicara sehingga menimbulkan komentar dan respons negatif dari orang lain.

Dalam memahami  perjuangan kemanusiaan, isu perempuan adalah bagian dari kemanusiaan itu sendiri. Sebab selama ini, banyak sekali kasus yang merugikan perempuan. Beban ganda yang dimiliki oleh perempuan sangat besar, apalagi ketika ada kasus kekerasan seksual, seperti pemerkosaan dan sejenisnya.

“Gus Dur berjuang dalam dua aspek. Pertama ikhtiar struktural yakni dengan kebijakan yang diterapkan. Kedua, perhatian terhadap minoritas dan kaum marjinal melalui upaya-upaya yang terus dikawal” Jelas Nur Rofi’ah.

Dalam memahami isu perempuan, Gus Dur memang tidak secara riil membahas tentang kesetaraan gender, perempuan harus diberdayakan. Namun kita bisa melihat perjuangan Gus Dur dalam memberikan ruang bagi perempuan untuk berkarya dan melakukan upaya lebih tanpa membatasi jenis kelamin.

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru