24.3 C
Jakarta
Array

Istigfar; Pengantar Taubat

Artikel Trending

Istigfar; Pengantar Taubat
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Level pertama yang harus ditempuh oleh seorang salik (mutashawwif) adalah melalui pintu taubat. Salah satu yang harus dilakukan dalam taubat ialah beristigfar. Istigfar merupakan ungkapan permohonan ampun kepada Allah swt Yang Maha Pengampun. Umumnya minimal redaksi yang dilafalkan adalah astaghfirullâhalʻadzhîm. Maksimalnya adalah redaksi istigfar yang jamak disebut sebagai pemimpin istigfar (sayyid al-istighfâr). Redaksinya cukup panjang sebagaimana termuat dalam Shahîh al-Bukhârî, Sunan Abî Dâwud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasâ’i, dan Sunan Ibn Mâjah. Berikut redaksinya:

اللهم أَنْتَ رَبِّي لَا إله إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Al-Quran telah menyebut kata istigfar secara berulang dan menyebar di berbagai ayat tidak lebih dari 38 kali. Separuh dari jumlah tersebut menggunakan bentuk perintah (fi’l amr) yang secara langsung menegaskan bahwa beristigfar merupakan perintah dari Tuhan Sang Maha Pengampun. Salah satu perintah istigfar ada yang disebutkan jumlah banyak bilangannya yakni 70 kali (QS al-Taubah [9]: 80).

Bilangan tersebut sejalan dengan riwayat dari Abu Hurairah ra saat menafsirkan QS Muhammad [47]: 19 bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Sungguh aku beristigfar setiap harinya 70 kali” (HR. al-Tirmidzi dan al-Baihaqi). Menariknya dalam riwayat Anas bin Malik ra yang termuat dalam Sunan al-Nasa’i tidak menggunakan redaksi aku beristigfar, akan tetapi aku bertaubat. Ini mengindikasikan bahwa istigfar merupakan pengantar atau bisa dikatakan salah satu unsur yang harus ada dalam bertaubat.

Baca: Hadirilah, Peluncuran Buku Serial Khilafah HTI

Secara esensi istigfar merupakan ekspresi pengakuan diri akan kesalahan dan dosa yang telah dilakukan. Ini penting bagi penempuh jalan tasawuf agar hati dan jiwanya senantiasa bersih dengan istigfar. Sebab istigfar mampu membersihkan hati dari noda-noda dosa, demikian kata Habib Umar bin Hafidz. Mengingat kata dasar tasawuf berarti murni dan jernih. Murni dan kejernihan ini menuntut pemurnian (tazkiyah) dan pembersihan (tathhîr).

Seorang sufi kenamaan asal Mesir yang nama negaranya selalu bersanding dengan namanya, Dzun Nun al-Mishri –sebagaiama dinukil oleh al-Suyuthi dalam bukunya Natîjah al-Fikr bi al-Jahr fî al-Dzikr- pernah menyampaikan bahwa istigfar adalah suatu ungkapan yang mewakili banyak makna. Beberapa makna tersebut antaran lain:

a. menyesal atas dosa yang telah diperbuat

b. mantap untuk tidak melakukan dosa lagi

c. menjalankan kewajiban Allah swt yang sempat ‘ditelantarkan’

d. sanggup mencicipi rasa pahitnya ketaatan setelah mencicipi manisnya kemaksiatan

e. menetralisir daging dan darah yang telah tumbuh dari barang yang haram

f. menolak berbagai macam kezaliman.

Dalam kitab Risâlah al-Qusyairiyah dikisahkan seorang sufi bernama al-Sirri beristigfar selama 30 tahun tanpa putus karena menyesali ucapan Alhamdulillah-nya yang ia ucapkan saat kebakaran menimpa kota Baghdad setelah mendengar kabar warungnya selamat dari kebakaran. Ia sangat menyesali keegoisannya tanpa menghiraukan musibah sesamanya.

Alhasil, istigfar dalam dunia tasawuf adalah suatu kewajiban yang menuntut untuk dilakukan secara berkelanjutan. Sebab maqam taubat adalah tangga dasar yang harus selalu diinjak tanpa meninggalkannya. Sekali saja seorang sufi melepaskan diri dari bertaubat saat itu pula tangga-tangga makrifat akan runtuh. []

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru