Isra Miraj dan Suksesi Kepemimpinan 2019


0
50 shares
Ilustrasi

Umat muslim sejagad memperingati Isra Mikraj pada 27 Rajab tahun Hijriyah atau tahun ini bertepatan dengan 3 April 2019. Peristiwa Isra Mikraj adalah mukjizat Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Syeikh Muhammad al-Ghazali memaparkan bahwa Isra Mi’raj merupakan tonggak lahirnya Islam sebagai agama fitrah. Perintah shalat adalah fondasi peradaban.  Sedangkan tiang-tiang peradaban membutuhkan sentuhan kepemimpinan yang kuat.

Peringatan Isra Miraj tahun ini istimewa karena bersamaan dengan tahapa suksesi kepemimpinan yaitu Pemilu 2019. Pemilu sangat dirindukan oleh rakyat dapat melahirkan kepempimpinan yang adil dan visioner. Salah satu ciri calon pemimpin bangsa yang didamba adalah mampu memahami konsep dan meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

Refleksi Spiritual

Sebelum Isra Mikraj, terjadi pemboikotan kaum kafir Quraisy. Berlanjut pada tahun ke-10 kenabian menjadi tahun kesedihan (aamul huzni). Rasulullah SAW ditinggal wafat dua orang terdekatnya yaitu sang paman Abu Thalib dan istri tercinta Khadijah. Setelah itu terjadi pengusiran penduduk Tha’if terhadap beliau. Dan, Alloh SWT menguatkan Nabi dengan Isra Mikraj. Pasca Isra Mikraj Alloh mulai memberikan pertolongan-Nya. Terjadi hijrah ke Madinah bersama sahabat mukmin pilihan yang sudah tahan uji. Proses ini mengajarkan kita arti penting keteguhan dan konsistensi dalam kehidupan.

Isra Mikraj bukanlah sekadar pembuktian ke-Maha Kuasa-an Alloh SWT. Peristiwa besar ini adalah ujian bagi keimanan sahabat kala itu. Umar Ra menjadi sahabat pertama yang menyatakan keimanannya akan Isra Mikraj yang dilakukan Nabi SAW. Hingga kini ujian ini masih relevan, tidak sedikit pihak yang meragukan atau menganggap yang terjadi hanyalah kiasan semata.

Isra Mikraj juga berimplikasi teologis. Salah satu peristiwa besar dalam rangkaiannya adalah turunnya wahyu shalat. Pasca itu shalat menjadi kewajiban utama umat Muhammad. Sebagai pemimpin Rasulullah membuktikan kearifannya. Melihat kemampuan umatnya, maka kewajiban shalat yang beliau pinta kepada-Nya adalah lima kali dalam sehari.

Baca Juga:  Revitalisasi Masjid Sebagai Pusat Perdamaian

Tidak ada sedikitpun laku Nabi kecuali menjadi suri tauladan yang baik (uswatun khasanah). Ajaran yang dibawa tetap eksis dan berkembang ke seantero bumi hingga kini, 15 abad sepeninggalnya. Michael Hart menampatkan Muhammad sebagai manusia paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia.

Kejujuran Muhammad sejak muda telah mengagumkan. Kaum Quraisy menjuluki beliau dengan Al-Amin (yang dapat dipercaya). Mereka selalu merasa aman dan nyaman untuk menitipkan hartanya kepada beliau. Hal ini berlanjut hingga Muhammad diangkat Nabi.

Profetika Kepemimpinan

Calon pemimpin memikul tantangan berupa peningkatan kualitas demokrasi dan perbaikan nasib bangsa.  Keteladanan dan ajaran Nabi SAW secara komprehensif patut direnungkan dan diadopsi calon pemimpin dalam visi-misi yang ditawarkan. Beberapa hal penting dituangkan demi mewujudkan calon pemimpin profetik.

Pertama, visi dan misi terkait revitalisasi moralitas. Sifat Nabi SAW yang sidiq (jujur), tabligh (penyeru kebenaran), amanah, dan fathanah (cerdas) mesti dapat ditransformasikan kepada umat sejak usia dini. Selengkap apapun aturan dan sekuat apapun lembaga akan berbahaya jika dikendalikan oleh individu lemah dan sistem yang rapuh. Kurikulum pendidikan bertanggung jawab atas pendidikan formal berbasis agama, moral, budi pekerti, dan karakter. Masyarakat dan orangtua juga wajib menghadirkannya di setiap kesempatan. Ulama dan ustadz harus menjadi garda terdepan dalam dakwah.

Kedua, komitmen memberikan keteladanan. Keteladanan penting ditampilkan dalam setiap aspek kepemimpinan. Kekayaan adalah wajar dan sah jika sumbernya halal dan ditampakkan secara bersahaja. Nabi, khalifah, dan banyak Sahabat juga sangat kaya, tetapi tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Sedekah dan zakat harus digalakkan sebagai solusi sosial menangkal tindak korupsi sekaligus mengentaskan kemiskinan.

Ketiga, komitmen pemberantasan korupsi secara sistematis. Korupsi menjadi penyakit bangsa yang kronis. Calon pemimpin mesti menangkap tantangan ini. Calon pemimpin mesti siap menunjukkan keteladanan pemberantasan sebagaimana sikap tegas dan adil Nabi SAW. Muhammad SAW pernah dengan lantang menyampaikan “Jikalau Fatimah yang mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya”. Pemberantasan tidak bisa hanya dibebankan pada KPK. Kepolisian dan Kejaksaan harus diperbaiki dan diperkuat. Aspek pencegahan perlu diprioritaskan selain penindakan. Upaya pemberantasan korupsi wajib patuh sebagai bagian penegakan hukum. Keadilan tetap menjadi panglima pemberantasan. Independensi penegak hukum yang bebas konflik kepentingan, khususnya politik juga dipertaruhkan.

Baca Juga:  Polarisasi Islam Moderat vis a vis Islam Radikal

Kepemimpinan profetik bukan hal mustahil muncul di setiap tempat manakala anasir humanisasi, liberasi, dan transendensi terwujud (Rofiun, 2014). Upaya mewujudkannya dapat dimulai dari impian Kuntowijoyo (2006) dalam “Lima Program Reaktualisasi”nya. Pertama, perlu memulai penafsiran sosial struktual yang lebih banyak dibandingkan dengan penafsiran individual. Kedua, mengubah pola pikir subjektif ke cara berpikir objektif. Ketiga, mengubah Islam yang normatif menjadi teoritis. Keempat, mengubah pemahaman ahistoris menjadi melek historis. Kelima, merumuskan formulasi wahyu yang masih bersifat umum, menjadi formulasi yang bersifat spesifik dan empiris.

Rakyat rindu hadirnya politik bermoral demi menghasilkan kepemimpinan berkualitas. Calon pemimpin penting mengambil teladan dari Muhammad SAW dan spirit Isra Miraj melalui aktualisasi profetika politik kepemimpinan.

*RIBUT LUPIYANTO, deputi Direktur  Center for Public Capacity Acceleration (C-PubliCA); Kolumnis.


Like it? Share with your friends!

0
50 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.