34 C
Jakarta

Ismail Yusanto Ingin Jadi Tiktokers Demi Mengedarkan Paham Khilafah?

Artikel Trending

Milenial IslamIsmail Yusanto Ingin Jadi Tiktokers Demi Mengedarkan Paham Khilafah?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Dakwah milenial menurut Islamil Yusanto, adalah mendirikan sistem Khilafah. Karena menurutnya, Khilafah adalah solusi kehidupan umat Islam di dunia. Bukan sekadar mengatur eksistensi agama Islam, Khilafah baginya adalah tentang kepemimpinan yang esensial untuk mengatur agama, negara, dan bangsa.

Ismail Yusanto Melirik Tiktok

Ismail Yusanto kini melirik tiktok untuk dijadikan sebagai platform dakwahnya. Sampai-sampai ia membuat webinar hanya sekadar bertanya bagaimana berdakwah di dalam tiktok. Secara serius Ismail menyimak obrolan narasumber dalam memproduksi konten tiktok (lihat channel UIY Official).

Ismail Yusanto ingin mengetahui betul kondisi atau suasana keagamaan di tiktok. Ia bertanya konten keislaman apa yang cocok diproduksi. Ia juga bertanya apakah dakwah keislaman juga bisa diterima secara luas di dalam tiktok. Ia membandingkan antara platform FP, Youtube, dan Instagram tentang kondisi penggunanya. Dan dari gesturnya, Ismail ingin segara mungki meluncur mengisi dakwahnya di dalam tiktok.

Dengan webinar tema Dakwah Ala Milenial, bisa dikatakan bahwa Ismail Yusanto, sebagai ketua HTI, kemungkinan kini ia akan menyasar pada generasi milenial. Apakah ini kabar yang membahayakan? Bisa dikatakan seperti itu. Tapi seberapa kuat dakwah ala HTI diterima? Kita belum tahu.

Dakwah Khilafah Perusak Bangsa

Jika tawaran dakwahnya adalah Khilafah, ini menjadi krusial. Sebab banyak tiktokers yang belum mengetahui perihal khilafah yang sering diedarkan oleh Ismail Yusanto. Tiktok(ers) sesuatu dunia baru yang belum bisa dipetakan pemilik dan kecendrungan ideologi pemiliknya.

Kita tahu, konsep khilafah sebagai satu-satunya format dalam membentuk pemerintahan Islam, dengan mengharuskan adanya persatuan wilayah kepemimpinan, dan juga syariat sebagai landasan aturan bernegara, bagi Ismail menjadi keharusan diedarkan dan ditegakkan.

BACA JUGA  Gejolak KM50; Suara Tuntutan Keadilan atau Suara Radikal FPI?

Padahal Khilafah, sama sekali tidak wajib bahkan bisa jadi haram karena tidak sesuai dan malah lebih membahayakan. Doktrin tauhid yang dibungkus dengan desentralisasi politik adalah penyakit bagi agama, negara dan bangsa. Karena, bukan cuma agamanya yang rusak, melainkan negara dan bangsanya.

Khilafah ini adalah penyakit bagi Indonesia. Karena ia bisa merusak bukan membuat kemaslahatan. Khilafah sebagaimana sering digemakan Ismail Yusanto lewat Hizbut Tahrir adalah memprioritaskan kehancuran itu. Karena jika menginginkan kedamaian, ia hari ini seharusnya mendukung sistem dan pemerintahan yang ada. Demokrasi dan Pancasila sudah membuat damai dan nyaman bagi Indonesia.

Antisipasi Sejak Dini

Khilafah dengan tujuan untuk membentuk imperium yang otoriter, dan menguasai secara penuh pada bidang politik dan keagamaan, adalah kebalikan dari Pancasila. Khilafah sistem radikal, yang menyebabkan pemberontakan dan carut marut dunia. Untuk itulah ia harus ditolak.

Indonesia dan bangsanya harus menolaknya. Seperti Malaysia, Bangladesh, Mesir, Tunisia, Turki, Qatar, Pakistan, Kyrgistan, Denmark, Tanzania, Australia, Rusia, Sapnyol, Kuwait, Arab, dan negara lainnya sudah menolaknya. Khilafah tawaran HT ini telah telah merusak ketertiban umum. Ia kebalikan dari Pancasila, UUD 1945, dan aktivitasnya menimbulkan kebangkrutan bagi peradaban, negara dan bangsa Indonesia.

Kini, hendaknya kita lebih hati-hati pada dakwah Ismail Yusanto jika ia benar-benar tiktok menjadi propaganda dakwah khilafahnya, sebua kedok agama untuk menguasai negara. Ambisi Ismail untuk berkuasa dengan cara menanamkan sistem Khilafah kepada generasi milenial dan Z tak pernah surut. Bahkan berkibar. Oleh karena itu, kita bisa menakarnya sebelum ia betul-betul mencuci otak generasi hebat bangsa Indonesia.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru